“E-Commerce” Ancam Bisnis Ritel | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments
Daya Saing - Seven & I Holdings Co Akan Percepat Penutupan Sogo dan Seibu karena Kinerja Buruk

“E-Commerce” Ancam Bisnis Ritel

“E-Commerce” Ancam Bisnis Ritel

Foto : AFP/YOSHIKAZU TSUNO
RESTRUKTURISASI BISNIS - Karyawan yang baru direkrut Seven & I Holdings Co menjalani latihan di Tokyo, Jepang, beberapa waktu lalu. Raksasa ritel asal Jepang, Seven & I Holdings Co berencana mengurangi 3.000 karyawan sebagai dampak dari upaya restrukturisasi bisnis.
A   A   A   Pengaturan Font
Seven & I Holdings Co berencana mengurangi jumlah karyawan sebanyak 3.000 orang sebagai dampak dari upaya restrukturisasi bisnis, termasuk penutupan department store, Sogo dan Seibu.

JAKARTA – Pertumbuhan perdagangan elektronik atau ecommerce di sejumlah negara mengancam keberadaan bisnis ritel. Banyak peritel terkemuka tak mampu bersaing di tengah gempuran e-commerce. Di Jepang, Seven & I Holdings Co berencana menutup atau merelokasi 1.000 gerainya.

Anak perusahaannya, 7-Eleven siap menurunkan harga jual franchise-nya dan menawarkan pemilik toko bantuan untuk buka 24 jam. Langkah tersebut sebagai bagian upaya untuk menggenjot margin.

Tak hanya itu, induk perusahaan juga berencana mempercepat penutupan sejumlah department store berkinerja buruk di bawah merek Sogo dan Seibu. Alhasil, upaya tersebut akan mendorong pemangkasan 3.000 karyawan. Saat ini, Seven & I Holdings Co beserta seluruh anak perusahaan mempekerjakan 144.628 karyawan hingga akhir Februari lalu.

Langkah restrukturisasi tersebut sebagai bagian dari strategi induk perusahaan mencapai target kinerja bisnis. Tahun ini, Seven & I Holdings memproyeksikan kenaikan laba operasional sebesar dua persen menjadi 3,89 miliar dollar AS.

Fenomena penutupan sejumlah gerai ritel saat ini dinilai sebagai dampak dari pesatnya pertumbuhan transasksi perdagangan elektronik atau e-commerce. Dengan menawarkan berbagai kemudahan dan harga kompetitif membuat e-commerce banyak diminati konsumen.

Ekonom Universitas Indonesia (UI), Talisa Aulia Falianty, menilai perkembangan teknologi yang semakin pesat mendorong pergeseran pola transaksi dagang dari konvensional ke e-commerce. “Sudah banyak korbannya, entah dari Indonesia atau negara lain. Belum lama ini, kita mendengar Hero menutup beberapa kedai-kedai Giant,” ujarnya.

Menurutnya, ketidakberdayaan peritel menghadapi gempuran e-commerce disebabkan adanya ketidakadilan. Dia menambahkan di e-commerce, banyak transaksi yang tak dikenai pajak, berbeda dengan transaksi ritel yang dibebani pajak pertambahan nilai.

Karena itu, Talisa mengusulkan perlunya pencatatan pajak yang serius dari pemerintah di bidang e-commerce. Langkah tersebut diharapkan dapat mengendalikan konsumsi rumah tangga untuk melakukan transaksi e-commerce.

 

Tumbuh Pesat

 

Seperti diketahui, perkembangan e-commerce dalam beberapa tahun terakhir relatif pesat. Data Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) menunjukkan nilai penjualan e-commerce global tumbuh 13 persen pada 2017 menjadi sekitar 29 triliun dollar AS.

UNCTAD mencatat adanya lonjakan serupa dalam jumlah pembeli daring (online) sebesar 12 persen menjadi 1,3 miliar atau seperempat dari populasi dunia. Amerika Serikat (AS) menjadi pasar terbesar e-commerce global dengan nilai transaksi penjualan hampir sembilan triliun dollar AS, tiga kali lebih tinggi daripada di Jepang. 

 

uyo/Ant/E-10

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment