“Flamboyan” Itu Tetap Hidup di Hati | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments
Pemakaman Ani Yudhoyono - Kehadiran Megawati Soekarnoputri Terasa Istimewa

“Flamboyan” Itu Tetap Hidup di Hati

“Flamboyan” Itu Tetap Hidup di Hati

Foto : ANTARA/OLHE/LMO
SBY BERTEMU MEGA - Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, berbincang dengan Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri saat pemakaman ibu negara Ani Yudhoyono di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMP) Kalibata, Jakarta, Minggu (2/6).
A   A   A   Pengaturan Font
>> Presiden Jokowi memuji sosok Ani Yudhoyono yang berperan penting sebagai Ibu Negara.

>> Ibu Ani dianugrahi Bintang Mahaputra Adipradana pada 2011.

JAKARTA – Pemakaman istri Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ani Yudhoyono, di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Minggu (2/6), terlihat seperti ajang silaturahim dan reuni keluarga besar mantan presiden dan mantan wakil presiden.

Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, hadir bersama putranya Ilham Habibie. Istri Presiden ke-4 RI, Abdurrachman Wahid, Sinta Nuriyah, datang bersama putrinya Yenny Wahid. Mantan Wakil Presiden Try Sutrisno dan Boediono juga tampak ikut melepas Bu Ani ke tempat peristirahatan terakhir. Namun yang mencuri perhatian publik adalah kehadiran Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, bersama putrinya Puan Maharani.

Kehadiran Megawati di pemakaman Ani memang terasa istimewa. Apalagi hubungan Megawati dan SBY diketahui kurang baik sejak 2004. Persaingan mereka dalam dua kali pemilihan presiden tampaknya masih begitu membekas. Tiba di gerbang TMP Kalibata, Megawati jalan berdampingan dengan BJ Habibie menuju lokasi pemakaman.

Di belakangnya diikuti oleh Puan Maharani, bersama Iriana Jokowi, istri Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Tak berselang lama, rombongan keluarga SBY tiba di TMP Kalibata, bersama para prajurit TNI yang membawa peti jenazah Ani Yudhoyono.

Momen istimewa terjadi saat Megawati bertemu dengan SBY di bawah tenda merah putih, dekat makam Ani Yudhoyono. SBY bersalaman dengan Megawati. Keduanya sempat ngobrol singkat. Megawati melempar senyum kepada SBY yang matanya masih terlihat sembap. Terdengar samar-samar, SBY mengucapkan terima kasih kepada Megawati. “Terima kasih, Bu,” ucap SBY. Setelah itu, Megawati duduk sebaris dengan SBY.

Ani Yudhoyono mengembuskan napas terakhir di National University Hospital, Sabtu (1/6) pukul 11.50 waktu Singapura. Dia berpulang di usia 67 tahun. Putri dari mantan Pangdam Cenderawasih, Sarwo Edhie Wibowo, itu sempat dirawat di National University Hospital Singapura sejak Februari lalu setelah divonis dokter mengidap kanker darah.

Jenazah Ibu Ani dikebumikan pada pukul 14.40 WIB. Suasana haru menyelimuti keluarga SBY saat prosesi pemakaman Bu Ani. Kedua putra almarhumah, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhoyono, mengantarkan jenazah Ibunda mereka hingga ke liang lahat. Presiden Jokowi memuji sosok Ani Yudhoyono yang memegang peranan penting sebagai Ibu Negara selama 10 tahun mendampingi Presiden SBY.

“Almarhumah adalah istri yang sangat setia dalam suka dan duka mendampingi Presiden keenam RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, dalam membangun bangsa dan negara yang kita cintai,” ujar Jokowi dalam pidatonya ketika menjadi inspektur upacara pemakaman Ani Yudhoyono di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Jokowi mengatakan Ani mendedikasikan sepanjang hayatnya untuk bangsa dan negara. Ani bahkan telah dianugrahi Bintang Mahaputra Adipradana pada tahun 2011 karena pengabdiannya untuk bangsa dan negara. Jokowi menyebut Ani Yudhoyono sebagai “flamboyan” yang pergi. Meskipun pergi, kata Jokowi, Ani akan tetap dikenang oleh masyarakat Indonesia. “Flamboyan telah pergi, namun akan tetap hidup di hati kita semuanya, rakyat Indonesia yang mencintainya,” ujar Jokowi.

 

Pribadi yang Tegar

 

Sementara itu, putra sulung SBY, AHY, yang mewakili pihak keluarga, mengatakan semasa hidupnya, Ani adalah sosok yang setia, kuat, tangguh, dan inspiratif serta sarat dengan nilai-nilai. Terlebih, Ani lahir dari keluarga prajurit, istri seorang prajurit, dan ibu dari prajurit TNI. “Ibu Ani dibentuk dan terbentuk menjadi pribadi yang tegar dan pejuang keras, karakter itu beliau tunjukkan hingga akhir hayatnya,” tutur AHY.

Kepergian Ani benar-benar membuat keluarga kehilangan. “Semoga beliau tenang di sisi-Nya. Selamat jalan Memo, we love you and we miss you forever,” ujar AHY. Sedangkan SBY mengatakan istrinya sangat menyayangi seluruh rakyat Indonesia tanpa memandang identitas, tanpa membedakan agama, etnis, asal daerah, maupun aliran politik.

“Ibu Ani memperlakukan semua sebagai saudara selama 10 tahun dampingi saya. Itulah bagaimana Ibu Ani menjaga persaudaraan dan kerukunan dengan saudara lintas identitas,” ujar SBY.

 

tri/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment