Koran Jakarta | September 19 2019
No Comments
Pemilu Legislatif - Konsolidasi PDIP selama 5 Tahun Terakhir Sangat Baik

“Jokowi Effect” Antar Kemenangan PDI Perjuangan

“Jokowi Effect” Antar Kemenangan PDI Perjuangan
A   A   A   Pengaturan Font

PDIP mencatat sejarah gemilang dalam dua kali pemilu, 2014 dan 2019 sebagai pemenangan dengan torehan suara maksimal.

JAKARTA – Dalam dua pemilu legislatif yang digelar yakni pemilu legislatif tahun 2014 dan pemilu legislatif tahun 2019, PDIP berturut-turut keluar sebagai juara dalam perolehan suara. Kemenangan PDIP di dua pemilu legislatif tidak terlepas dari faktor Jokowi dan juga solidnya mesin partai. Pengamat Politik dari Universitas Indonesia, Wawan Fahrudin, mengatakan itu di Jakarta, Kamis (23/5). Menurut Wawan, tidak bisa dipungkiri faktor Jokowi sebagai capres ikut mendongkrak perolehan suara PDIP di pemilu legislatif. Tahun 2014, walau efeknya tak sebesar sekarang, tapi faktor Jokowi ikut menentukan. Waktu 2014, PDIP tidak terlalu mengapitalisasi sosok Jokowi. Sekarang, berhasil mengkapitalisasi efek Jokowi dikonversi jadi suara. “Efek ekor jas atau coattail effect dari Jokowi ikut menentukan kemenangan PDIP. PDIP yang banyak menangguk keuntungan dari coat-tail effect tersebut,” kata Wawan.

Yang pasti, lanjut Wawan, kemenangan dua kali PDIP memang tak bisa dilepaskan dari peran Jokowi yang memberikan efek pengganda, selain sebagai the rulling party yang memiliki sumber daya dan dukungan yang optimal dari pemerintah. Dua hal ini yang membuat PDIP bertengger sebagai jawara berturut-turut dalam dua pemilu legislatif. “Faktor lainnya setelah lima tahun berkuasa, konsolidasi dan soliditas di tubuh PDIP relatif terbangun dengan baik, sehingga mesin partai juga sehat dan bergerak dinamis,” ujarnya.

Diuntungkan

Sekretaris Badan Pelatihan dan Pendidikan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP, Eva Kusuma Sundari, mengakui jika PDIP diuntungkan dengan pencalonan Jokowi di pilpres. Namun, itu bukan satusatunya faktor yang membuat PDIP bisa merajai perolehan suara di dua pemilu legislatif. “Kita tidak pungkiri menjadi pengusung Jokowi menjadi pemicu perolehan suara PDIP yang signifikan di pemilu legislatif. Dalam kata lain, PDIP mendapat pengaruh dari coattail effect atau Jokowi effect,” ujarnya. Direktur Eksekutif Poin Indonesia, Karel Susetyo, melihat berjayanya PDIP di dua ajang pemilu legislatif, tidak terlepas dari sosok Jokowi. Tapi pengaruh Jokowi hanya teras di dua pemilu legislatif yakni pada tahun 2014 dan 2019. Namun kalau menengok ke belakang, pada pemilu 1999, PDIP juga keluar sebagai jawara pemilu. Artinya kemenangan PDIP tidak semata dipengaruhi oleh faktor ketokohan Jokowi.

ags/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment