Koran Jakarta | August 19 2019
No Comments
Direktur KPLP Ditjen Perhubungan Laut, Ahmad, tentang Tumpahan Minyak di Pantai Utara Jawa

4.380,85 Barrel Tumpahan Minyak Telah Berhasil Diangkat ke Darat

4.380,85 Barrel Tumpahan Minyak Telah Berhasil Diangkat ke Darat

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Tumpahan minyak dari anjungan yang dioperasikan oleh PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di Pantai Utara Jawa yang terjadi beberapa waktu yang lalu sudah meluas.

 

Tidak ingin bertambah besar berdampak pada kerusakan lingkungan maka Kementerian Per­hubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), Direktorat Jenderal Perhubungan Laut turun tangan membantu.

Untuk mengetahui lebih jauh bantuan dan langkah penanganan musibah yang dilakukan oleh Ke­menhub itu, berikut perbincangan Koran Jakarta, Mohammad Zaki Alatas, dengan Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), Ahmad, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Untuk musibah tumpah min­yak Pantai Utara Jawa, apa yang bisa dilakukan Kemenhub membantu penanggulangnya?

Ditjen Perhubungan Laut, dalam hal ini Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Kepulauan Seribu selaku Mission Coordinator (MC) Tier 1 sesuai Perpres No 109 tahun 2006 tentang Penanggulangan Keadaan Darurat Tumpahan Minyak di Laut, terus melakukan sejumlah langkah penanganan tumpahan minyak dari PHE ONWJ tersebut.

Apa saja langkah yang diambil?

Pertama, kami melakukan pemantauan secara aktif dan berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait. Posko tersebut juga berkoordinasi dengan Distrik Navigasi kelas I Tanjung Priok untuk secara rutin me­mancarkan navigational warning (NAVTEX dan VHF) melalui Stasiun Radio Pantai. Dan untuk penan­ganan offshore secara keseluruhan telah dikerahkan sebanyak 46 unit kapal dengan 926 orang personel yang terlibat dengan menggunakan sepanjang 5.700 meter oil boom.

Selain itu, apalagi yang dilakukan?

Kami juga mengerahkan kapal negara yang terdiri dari kapal patroli Sea and Coast Guard yaitu KN. Alugara milik pangkalan PLP Kelas I Tanjung Priok, kapal negara KNP. 355, KN V054, dan KNS. 017 milik KSOP Kelas IV Kepulauan Seribu serta Kapal Negara Kenavigasian KN. Edam milik Kantor Distrik Navigasi kelas I Tanjung Priok.

Lalu untuk pengawasan?

Kapal Patroli Kesatuan Pen­jagaan Laut dan Pantai (Sea and Coast Guard) KN. Alugara milik Pangkalan PLP Kelas I Tanjung Priok terus melakukan penga­manan dan pengawasan tumpahan minyak. Adapun Pangkalan PLP Tanjung Priok menyiapkan dua unit armada kapal kelas 1 dan kelas 2 yaitu KN. Alugara dan KN. Jembio untuk bergantian melaksanakan pengawasan dan pengamanan bersama dengan kapal-kapal kelas III KSOP Kepulauan Seribu. Untuk cadangan, Pangkalan PLP Tan­jung Priok juga menyiapkan 1 kapal kelas II yaitu KN. Kujang yang saat ini berada di perairan Cirebon untuk se­tiap saat digerakkan ke lokasi tumpa­han minyak.

Berapa personel yang ter­junkan?

Untuk penanganan offshore, hingga saat ini sudah melibatkan 46 kapal dan 937 orang personel yang dikerahkan untuk mengatasi tumpa­han minyak dan oil boom yang digunakan sepanjang 5.700 meter.

Bagaimana dengan masyarakat yang terdampak?

Itu juga menjadi perhatian kami. Terhadap masyarakat yang terdam­pak tumpahan minyak tersebut, kami menyiapkan posko kesehatan dan rutin memberikan informasi terkini kepada masyarakat yang terdampak tumpahan tersebut mengenai langkah yang telah diam­bil oleh tim penanganan tumpahan minyak dimaksud.

Apa saja yang diberikan?

Pertamina sudah menyediakan enam posko kesehatan di enam daerah terdampak, di antaranya Desa Sedari, Desa Cemara Jaya, Desa Tambak Sari, Desa Sungai Buntu, Desa Muara Bening, dan Kepulauan Seribu. Selain itu, akan ada enam dokter, lima ambulans dan 37 tenaga medis

Lalu terkait pengangkatan tumbahan minyak tersebut?

Data per Jumat (9/8), posko tersebut menyebutkan sebanyak total 4.380,85 barel tumpahan minyak telah berhasil dikumpulkan dan diangkat ke darat dari area pencemaran tumpahan minyak yang meliputi area offshore, yaitu di Blok+ Offshore North West Java dan area Onshore meliputi Sungai Buntu, Pusakajaya Utara, Cemara­jaya, dan Sedari.

Permintaan pemerintah ke­pada Pertamina?

Pemerintah terus memonitor dan meminta Pertamina secara optimal menahan tumpahan min­yak agar tidak melebar ke perairan yang lebih luas dengan melakukan strategi proteksi berlapis di sekitar anjungan serta mengejar, melo­kalisasi, dan menyedot ceceran minyak yang melewati batas sabuk oil boom di sekitar anjungan. mohammad zaki alatas/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment