Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
Unjuk Rasa - Aparat Tidak Mungkin Membunuh Rakyat

Ada Kelompok yang Adu Domba Rakyat dan Aparat

Ada Kelompok yang Adu Domba Rakyat dan Aparat

Foto : Sumber Polda Metro Jaya
A   A   A   Pengaturan Font
Jenderal Pol Tito Karnavian mengimbau kepada masyarakat Indonesia agar tetap tenang menghadapi situasi saat ini. Ia juga berharap masyarakat tidak menuduh TNI dan Polri.

 

JAKARTA – Kepala Polri, Jenderal Pol Tito Karnavian, mengingatkan masyarakat bahwa ada upaya dari pihak tertentu melakukan adu dom­ba dan menciptakan situasi, membuat publik marah kepada aparat keamanan. Caranya, kata dia, dengan men­ciptakan martir saat demo penolakan hasil rekapitulasi suara Pilpres 2019.

Kapolri mengatakan pi­haknya sudah mengamankan tiga senjata api laras panjang M4, revolver, dan glock. Enam orang diamankan terkait senpi tersebut. Tiga senpi tersebut ditunjukkan dalam jumpa pers di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Rabu (22/5).

“Kepolisian sudah melaku­kan penangkapan sejumlah orang berikut senjata api ber­tujuan membuat kerusuhan tanggal 22 Mei. Paling tidak ada enam orang yang diamankan,” kata Tito dalam jumpa pers di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Rabu (22/5).

Menurut Tito, mereka men­argetkan penembakan ter­hadap aparat keamanan atau pejabat. Target lain adalah pendemo, seolah-olah aparat keamanan yang menembak. “Supaya timbul martir, alasan membuat publik menjadi marah, yang disalahkan aparat pemerintah,” kata Tito.

Tito mengatakan pihaknya juga menemukan uang dengan jumlah total enam juta rupiah dari para provokator yang di­tangkap karena melakukan aksi anarkistis di Asrama Bri­mob Petamburan.

Bahkan, saat diperiksa, pro­vokator yang mayoritas adalah anak-anak muda ini mengaku dibayar untuk melakukan aksinya. “Ditemukan di mer­eka amplop yang berisi uang. Totalnya kurang lebih enam juta rupiah yang terpisah-pisah amplopnya. Mereka mengaku ada yang membayar. Dan kita lihat juga, mohon maaf, seba­gian dari pelaku yang melaku­kan aksi juga memiliki tato,” ujar Tito.

Tito membenarkan adanya informasi enam orang yang meninggal akibat kerusuhan di Jalan KS Tubun, Petamburan, Jakarta. Namun, ia menegas­kan luka tembak yang menye­babkan korban meninggal itu bukan tindakan kepolisian.

“Harus diperjelas, di mana dan apa sebabnya. Jangan langsung apriori karena kami temukan barang-barang seperti ini di luar TNI dan Polri,” kata Tito.

Untuk itu, Tito mengimbau kepada masyarakat Indonesia agar tetap tenang menghadapi situasi saat ini. Ia juga berharap masyarakat tidak menuduh TNI dan Polri. “Saya minta masyarakat tetap tenang, tidak apriori dan tidak menuduh aparat pemerintah dan ke­amanan yang melakukan tin­dakan,” katanya.

Orang Berbeda

Di tempat yang sama, Men­teri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wi­ranto, mengatakan kerusuhan yang terjadi tengah malam hingga dini hari, Rabu (22/5), di KS Tubun, dilakukan oleh orang yang berbeda dari aksi di depan Kantor Badan Pengawas Pemilu.

“Yang menyerang itu pre­man-preman yang dibayar, bertato,” ujar Wiranto. Wiranto juga mengingatkan bahwa aparat tidak mungkin membunuh rakyat. Ini terkait tuduhan bahwa aparat ke­amanan telah melakukan ke­kerasan hingga menimbulkan enam korban meninggal.

“Saat demo, aparat diin­struksikan untuk tidak meng­gunakan senjata. Mereka menggunakan perisai dan pentungan, bukan senjata api. Tidak mungkin aparat mem­bunuh rakyat,” kata Wiranto.

Wiranto mengatakan tudu­han kepada aparat atas me­ninggalnya enam orang dalam aksi massa itu dilakukan agar masyarakat tidak percaya ke­pada pemerintah. “Korban ini dituduhkan kepada aparat ke­amanan, seakan-akan aparat yang melakukan tindakan sewenang-wenang. Saya katakan tidak. Jangan diputar balikkan,” kata Wiranto. Ant/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment