Koran Jakarta | September 18 2019
No Comments

Agustusan dan Jajanan Tempo Dulu

Agustusan dan Jajanan Tempo Dulu

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Jajanan tradisional terdiri dari ribuan jajanan tradisional Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke, dari setiap kota pasti memiliki jajanan tradisionalnya masing-masing.

Hari Kemerdekaan Indo­nesia, 17 Agustus, adalah hari yang paling memba­hagiakan seluruh rakyat Indonesia. Hari itu adalah puncak perjuangan para pahlawan merebut kemerdekaan. Banyak momentum yang patut diperingati untuk men­giringi tanggal 17 Agustus.

Dan, setiap ulang tahun Hari Kemerdekaan Indonesia itu, ingatan sebagian orang akan kembali ke masa lalu. Suka cita perayaan yang biasa disebut ‘Agustusan’ terngiang kembali. Lomba-lomba tradisio­nal yang penuh ceria, sampai pesta kuliner jaman dulu pun biasanya disertakan.

Salah satu yang diingat adalah warisan kuliner tempo dulu. Indo­nesia memiliki banyak warisan bu­daya. Salah satunya yaitu beragam makanan tradisional di beberapa daerah Indonesia. Masing-masing daerah tentunya memiliki makanan tradisional sendiri.

Sewaktu masih kecil tentu saja kita sering memakan makanan yang kamu sukai dengan ciri khas rasa yang enak. Namun tak selamanya makanan yang kamu sukai itu ada, tak hanya satwa saja yang mulai langka makanan juga bisa langka.

Di Palembang, misalnya, ada makanan khas gula puan. Makan­an ini memiliki rasa yang manis karena terbuat dari susu kerbau dan gula pasir. Pada zaman dulu gulo puan hanya disuguhkan bagi para raja-raja.

Pada zaman modern ini, makan­an ini sudah sangat sulit ditemui, hal utama yang menyebabkan makanan ini mulai hilang adalah susu kerbau yang menjadi bahan utama. Sulitnya mendapatkan susu kerbau menjadi­kan makanan satu ini sangat langka.

Ada juga Bassang, makanan khas dari Sulawesi. Makanan ini terbuat dari jagung dan santan yang disaji­kan dalam bentuk bubur. Makanan ini memang sudah langka tapi akhir-akhir ini mulai digiatkan kembali dengan hadirnya Bassang dalam bentuk makanan cepat saji.

Di Jawa Tengah, ada Grondol. Ini adalah makanan yang terbuat dari jagung yang direbus di campur dengan gula pasir lalu ditaburi de­ngan parutan kelapa. Makanan ini memiliki cita rasa gurih dan nikmat. Namun akhir-akhir ini makanan ini jarang ditemui karena orang-orang lebih tertarik dengan makanan modern.

Untuk minuman, ada wedang tahu, yakni salah satu kuliner yang berupa minuman ciri khas dari Semarang. Minuman ini terbuat dari sari kedelai yang direbus selama 4 jam sampai menjadi bubur tahu.

Minuman ini disajikan dengan campuran jahe sehingga membuat badan kamu menjadi hangat setelah meminumnya. Namun minuman ini jarang ditemukan.

Artinya, berbicara kuliner jaman dulu, tentu tidak bisa dilepaskan dengan kudapan atau jajajan pasar tradisional yang melegenda. Meski saat ini sudah jarang ditemui, tetapi pada perayaan perayaan tertentu, biasanya muncul kembali.

Selain kudapan di atas, ada juga gurandil, cenil, tiwul, getuk, lemper, klepon, kue putu, nagasari, lemper, lupis, dan lain-lain. Rata-rata harga­nya cukup murah, namun soal rasa ditanggung tak kalah meriah.

Jenis makanan itu, hanya repre­sentasi kecil jajanan tradisional yang terdiri dari ribuan jajanan tradisio­nal Nusantara. Dari Sabang sam­pai Merauke, dari setiap kota pasti memiliki jajanan tradisionalnya masing-masing.

Sebenarnya kue-kue tradisional ini, biasanya kita jumpai di pa­sar. Kerap disebut dengan kue-kue subuh, karena dijual di pasar pada saat subuh. Tetapi, untuk jenis kue tertentu hanya bisa dijumpai kalo dipesan untuk perayaan atau syukuran.

Klepon misalnya. Kue yang ber­asal dari ketan yang didalamnya diisi gula merah legit dan dibalut kelapa ini, sangat menggoda. Ben­tulnya bulat dan mungil, sekali suap akan lumer di mulut. Wow sedap­nya!.

Ada juga lupis yang sama sama terbuat dari beras ketan. Olahan ini akan diiris kecil lalu dilumuri dengan gula jawa sebagai pemanis, yang orang Jawa menyebutnya de­ngan nama juruh.

Parutan kelapa juga ditaburkan sebagai toping untuk memperlezat hidangan. Dahulu Lupis berbentuk lingkaran seperti irisan lontong, namun kini jajanan pasar ini banyak disajikan dalam bentuk segi tiga.

Ada lagi cenil. Jajanan pasar yang terbuat dari pati ketela pohon itu di­bentuk bulat kecil dan diberi warna-warni menarik seperti merah, hijau, putih. Cenil biasanya disajikan dengan parutan kelapa dan ditaburi gula pasir di atasnya.

Atau tiwul. Penganan tradisional yang berasal dari daerah Gunung­kidul yang juga cukup melegenda. Bahkan jajanan ini yang menginspi­rasi maestro Campur Sari, Manthous untuk menciptakan lagu populer berjudul ‘Tiwul Gunungkidul’.

Tiwul berbahan dasar ketela po­hon yang dikeringkan lalu ditumbuk kemudian dikukus. Tiwul sering disajikan berpasangan dengan Gatot yang ditaburi parutan kelapa. Ma­syarakat Gunungkidul dahulu sering menjadikan Tiwul sebagai makan pokok menggantikan beras.

Yang saat ini hampir sering dijumpai adalah lemper. Sejenis lon­tong namun biasanya terbuat dari ketan dan berisi abon atau suwiran daging ayam. Kini kita lebih sering menemukan lemper yang dibung­kus plastik daripada daun pisang.

Di pesta atau syukuran rumah, kantor atau pembukaan toko, biasa­nya jajanan tradisional ini disajikan dalam satu tampan. Ukurannya dimuat kecil kecil yang imut, dengan aneka warna yang menggoda. yun/E-6

Pengaruh Tiongkok Karakteristik Kue Tradisional

Bila ditanya asal usul kue tra­disional Indonesia ini, akan banyak cerita yang terungkap. Misalnya, karena kue-kue ini sering dijajakan di pasar, maka dikenal juga dengan istilah jajanan pasar.

“Disebut jajajan pasar karena kue ini memang awalnya lebih banyak dijual di pasar tradisional,” Ucu Sawitri, Membership Coordinator dari Ikatan Praktisi Kuliner Indone­sia.

Dia bercerita, awalnya jajajanan pasar lebih banyak dijual di daerah pelabuhan. Sebab pelabuhanlah yang pertama menjadi pusat per­niagaan. Ini merupakan awal dari akulturasi tak terkecuali makanan. Menurutnya, jajanan pasar di In­donesia banyak mendapat penga­ruh dari pedagang-pedagang asal Tiongkok.

Pengaruh budaya Tiongkok ini terlihat dari karakteristik kue tradisional Indonesia yang banyak menggunakan olahan tepung beras dan ketan. Sedangkan yang menggunakan terigu, terpengaruh budaya barat atau penjajah karena Indonesia bukan menghasil gandum.

Sementara kue asli Indonesia banyak menggunakan tepung pati yang memanfaatkan umbi-umbian. “Kue asli Indonesia setiap bahannya memiliki arti tertentu,” imbuh Ucu.

Dia mencontohkan, pengguna­an ketan melambangkan budaya kumpul. Pasalnya gluten ketan yang tinggi menyebabkan butiran satu dengan yang lain menjadi lengket. Itu menandakan keterikatan dan hubungan yang cukup dekat.

Ada juga kue rasa manis, yang lebih mengartikan perkumpulan bersama kerabat atau sahabat yang menimbulkan momen indah yang manis. Karena itu, tak heran bila jajanan pasar ini menjadi hidangan langganan di acara-acara kebersa­maan, seperti kenduri, syukuran atau perayaan lainnya. yun/E-6

Klepon

 

 BAHAN :

- 250 gram tepung beras ketan

- Pasta pandan secukupnya

- 150 ml Air

- 1 sendok teh garam halus

- 1 butir Kelapa

BAHAN ISIAN :

- Gula merah secukupnya

- Gula pasir secukupnya

- 1 liter Air

CARA MEMBUAT :

  1. Campur tepung beras ketan dan tepung beras putih, air, garam dan pasta pandan. aduk rata. Setelah adonan diuleni, gula merah disisir halus untuk isian.
  2. Ambil sedikit adonan, pipih­kan, beri sedikit gula merah. Lalu rapatkan dan bentuk bulat menyerupai bola.
  3. Masak air sampai mendidih, lalu celupkan bola-bola klepon, biarkan sampai matang dan mengapung.
  4. Angkat setelah matang. Lang­sung gulingkan dalam ke­lapa parut kukus yang sudah dibubuhi garam dan gula pasir.
  5. Kue klepon siap disajikan.

Lemper Ayam

 

 BAHAN :

- 200 gram beras ketan yang sudah direndam selama 1 jam

- 1 batang serai

- 1 lembar daun salam

- 125 ml santan yang diambil dari 1/4 butir kelapa

- 3/4 sendok teh garam

- Daun pisang secukupnya

BAHAN ISI :

- 2 buah paha ayam atas ba­wah

- 1 batang serai

- 500 ml air

- 3/4 sendok teh garam

- 2 lembar daun salam

- 1/4 sendok teh merica bubuk

- 1/2 sendok teh gula pasir

- 100 ml santan yang diambil dari 1/4 butir kelapa

BUMBU HALUS :

- 4 siung bawang putih

- 1 sendok teh ketumbar

- 6 butir bawang merah

- 3 butir kemiri yang sudah di­sangrai

MEMBUAT ISIAN :

1 Pertama, siapkan panci yang akan digunakan untuk merebus ayam. Lalu masukan air secuku­pnya ke dalam panci tersebut.

2 Simpan panci tersebut di atas kompor menyala. Rebus air sampai mendidih. Jika air sudah mendidih, masukan ayam yang sudah anda siapkan. Rebus ayam sampai benar-benar ma­tang.

3 Jika ayam sudah matang, angkat dan tiriskan. Lalu suwir-suwir daging ayam tersebut dan ukur kaldunya 250 ml.

4 Setelah itu, haluskan semua bumbu halus seperti yang sudah ditentukan di atas. Lalu campur­kan ayam yang sudah disuwir-suwir dengan bumbu halus, serai yang sudah dimemarkan bagian putihnya, daun dalam, merica bubuk, gula pasir dan garam. Kemudian, aduk sampai bumbu merata dengan ayam.

5 Selanjutnya, tuangkan air kaldu. Lalu masak sampai mendidih.

6 Tuangkan santan. Lalu masak sampai meresap.

7 Setelah itu, dinginkan.

MEMBUAT KULIT :

1 Kukus ketan yang sudah anda siapkan kurang lebih 20 menit sampai ketan dirasa cukup ma­tang. Jika sudah matang, angkat.

2 Selanjutnya, rebus santan, daun salam, serai dan garam hingga mendidih. Jika sudah, anda bisa langsung mematikan api kom­por.

3 Kemudian, tambahkan beras ketan yang sudah dikukus. Lalu masak sampai meresap.

4 Setelah itu, angkat dan kukus selama kurang lebih sekitar 30 menit sampai benar-benar matang.

MEMBUAT LEMPER AYAM :

1 Ambil sedikit ketan atau adonan kulit. Lalu pipihkan.

2 Beri isi ketan tersebut. Lalu ben­tuk lonjong atau sesuai dengan selera anda.

3 Setelah itu, bungkus dengan menggunakan daun pisang. Lakukan langkah yang sama sampai semua bahan-bahan habis.

4 Selanjutnya, anda bisa langsung menyajikan atau menghidang­kan lemper buatan sendiri ter­sebut pada piring atau tempat saji yang disiapkan.

  1. Lemper ayam pun siap dihidangkan.
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment