Bangkitkan Kepedulian pada Puspa dan Satwa Indonesia | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments
KHNE 2019

Bangkitkan Kepedulian pada Puspa dan Satwa Indonesia

Bangkitkan Kepedulian pada Puspa dan Satwa Indonesia

Foto : foto-foto: dok KHNE 2019
A   A   A   Pengaturan Font

Momentum pameran Keanekaragaman Hayati Nusantara Expo (KHNE) 2019 yang digagas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sangat tepat untuk membangun kesadaran dan membentuk kecintaan masyarakat Indonesia pada Puspa dan Satwa Indonesia.

Hari Cinta Puspa dan Satwa Na­sional (HCPSN) diperingati setiap 5 November. Momen hari peringatan itu ditetapkan sejak 1993, dan selalu menjadi jatidiri untuk terus menerus menghargai serta menjaga kelestarian lingkungan, serta menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap puspa (bunga) dan satwa.

Hal ini menjadi penting karena Indonesia memiliki le­bih dari 17.000 pulau, dengan menyimpan sejumlah eko­sistem unik dengan keraga­man spesies yang melimpah. Tercatat lebih dari 25.000 jenis tumbuhan berbunga yang tersebar di seluruh Nusantara, atau menyumbang sekitar 10 persen dan spesies tumbuhan berbunga, 12 persen hewan mamalia (500 jenis), 16 persen reptil (600 jenis), 17 persen burung (1.500 jenis), 6 persen amfibi (270 jenis), dan lebih dari 45 persen ikan (2.500 jenis).

“Momentum HCPSN ini menjadi tepat untuk memba­ngun kesadaran dan mem­bentuk kecintaan masyarakat terhadap puspa dan satwa Indonesia. Di harapkan pula masyarakat khususnya anak muda dapat berperan aktif dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati Tanah Air,” jelas Djati Witjaksono Hadi, Kabiro Humas KLHK, kemarin.

Dalam gelarannya kali ini, HCPSN menghadirkan pa­meran KHNE 2019. Event ini digelar sebulan penuh dari 8 November - 8 Desember 2019 di Lapangan Banteng, Jakarta. dengan mengangkat tema ‘Membangun Generasi Mile­nial Cinta Puspa dan Satwa Nasional untuk Indonesia Unggul’.

“Melalui ajang ini, seluruh rangkaian kegiatan diarahkan menjadi sarana edukasi ke­pada masyarakat khususnya generasi milenial untuk men­jaga dan melindungi kekayaan alam Indonesia,” kata dia.

Saat Koran Jakarta meng­hadiri malam pembukaan HCPSN melihat banyak pe­serta yang membuka gerai di pameran ini cukup informatif, seperti ruang edukasi ramah anak, gerai milik Taman Mini Indonesia Indah, Ragunan, dan Taman Safari yang menawarkan paket wisata. ima/R-1

Aksi Melestarikan Sungai

Pada kesempatan ber­beda, lebih dari 14 juta orang di Jawa Timur (Jatim) menggantungkan mata pencahariannya pada Sungai Brantas, di mana tiga juta popok dan ton sampah rumah tangga dibuang setiap hari. PT Multi Bintang In­donesia Tbk (Multi Bintang) bersama dengan lebih dari 2.500 relawan menggelar aksi bersih sungai dan program edukasi tata kelola sampah sebagai langkah awal dari gerakan tiga tahun dalam me­mulihkan kebersihan Sungai Cumpleng, anak Sungai Bran­tas. Gerakan ini didukung Aliansi Air Mojokerto (AAM), Bank Sampah Mojokerto (BSM), dan sukarelawan dari berbagai komunitas.

“Sungai adalah sumber kehidupan yang penting tetapi belum sepenuhnya ter­lindungi dengan baik. Multi Bintang selalu berkomitmen untuk melindungi sumber daya air di mana pun kami beroperasi. Kami percaya gerakan ini tidak hanya ber­manfaat bagi masyarakat di Mojokerto tetapi juga bagi jutaan orang di Jatim,” kata Ika Noviera, Corporate Affairs Director Multi Bintang, di Mojokerto, belum lama ini.

Untuk mendorong gerakan tiga tahun ini, AAM dan Multi Bintang menggelar aksi penggalangan dana lewat platform KitaBisa.com un­tuk mengundang partisipasi masyarakat Indonesia guna mendukung perjalanan Sun­gai Cumpleng menjadi bersih kembali.

Sebagai gerakan awal penggalangan dana, bersama ribuan relawan AAM dan BSM membersihkan sampah di sungai dan edukasi tata kelola sampah di sepanjang rute. Kegiatan ini bertu­juan untuk meningkatkan kesadaran dalam menjaga kebersihan sungai.

Target pendanaan yang ingin dicapai sebesar 1 miliar rupiah. “Untuk setiap 250 juta rupiah yang terkum­pul, Yayasan Sahabat Multi Bintang akan menambah 100 juta rupiah lagi untuk inisiatif ini,” kata Ika.

Sementara itu, Gangsar, salah satu pendiri AAM bertutur Indonesia memiliki sistem sungai yang beragam di seluruh negeri. Sungai-sungai mengakomodasi kebutuhan masyarakat untuk transportasi dan penggunaan air rumah tangga, terutama untuk memasak. Selain itu, ikan dari sungai juga me­rupakan sumber pasokan makanan bagi masyarakat.

“Masyarakat menggu­nakan air dari sungai untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memasak sehari-hari. Sungai yang bersih dan jernih adalah anugerah dari alam tetapi kita kehilangan seka­rang. Pengetahuan yang tidak memadai tentang tata kelola sampah adalah alasan me­ngapa kondisi sungai menjadi seperti ini,” tandasnya. ima/R-1

Ikon Puspa dan Satwa Nasional

Dalam pameran itu juga ditetapkan Ikon Puspa dan Satwa Nasional yaitu Saninten atau castanopsis argentea dan burung langka Isap Madu Rote atau yang diberi nama Irianawidodoae, sebagai bentuk penghargaan kepada Ibu Negara, Iriana Joko Widodo yang sangat mem­perhatikan kehidupan satwa Nusantara.

Djati menjelaskan penge­nalan ikon Puspa dan Satwa ini diusulkan agar lebih dikenal seluruh masyarakat sebagai aset dan harus dijaga dari kepunahan di habitat aslinya di Indonesia. “ini un­tuk mengedukasi masyarakat juga, tidak harus memeliha­ranya, tapi biarkan mereka hidup di alamnya saja agar terjaga kelestariannya,” tutur Djati Witjaksono.

Sebagai contoh burung Isap Madu Rote ditemukan peneliti biologi LIPI pada Ok­tober 2017. Habitat burung kecil berukuran panjang tubuh 11,8 cm ini berada di hutan, semak-semak, kebun, dan pohon yang sedang berbuah. “Burung ini masuk keluarga Meliphagidae di mana semua jenisnya me­rupakan burung dilindungi,” bebernya.

Sementara itu sebelum­nya, LIPI menduga keaneka­ragaman Indonesia masih akan terus bertambah de­ngan penemuan-penemuan jenis baru. Selain burung langka Isap Madu Rote, pada Oktober 2019 ditemukan pula dua satwa baru asli In­donesia, yaitu Katak Tanduk dan Kodok Wayang serta burung pemakan madu dari Pulau Alor.

Katak Tanduk dideskripsi­kan tim peneliti LIPI, Kyoto University Jepang, Aichi Uni­versity of Education Jepang, ITB dan Unnes Semarang merupakan spesies katak yang ditemukan di Pegu­nungan Meratus di Kalsel dan Kaltim, juga di Bario, Sarawak dan pegunungan Crocker di Sabah, Malaysia. Selain itu, peneliti juga me­nemukan tiga spesies baru Kodok Wayang dari hutan dataran tinggi Sumatera.

Sedangkan temuan burung pemakan madu yang berasal dari Alor, merupakan jenis baru dari Myzomela prawiradilagae. Dalam cata­tan LIPI penemuan jenis bu­rung ini menambah jumlah total burung genus Myzomela di Indonesia menjadi 20 jenis.

Kemudian pada 4 Novem­ber 2019, LIPI juga melapor­kan bahwa peneliti mereka telah menemukan dua spesies baru anggrek yaitu Dendrobium nagataksaka dari Provinsi Papua Barat dan Eulophia lagaligo dari Sulsel.

Deskripsi spesies baru anggrek tersebut telah diter­bitkan pada jurnal ilmiah internasional Phytotaxa pada September 2019. Anggrek Dendrobium nagataksaka adalah jenis anggrek yang ditemukan tumbuh men­empel di permukaan batang pepohonan. Sedangkan Eulophia lagaligo memiliki kemiripan dengan Eulophia nuda (jenis anggrek yang sebelumnya sudah ditemu­kan). ima/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment