Koran Jakarta | October 16 2019
No Comments

Beratnya Merawat Warisan Budaya Leluhur

Beratnya Merawat Warisan Budaya Leluhur

Foto : koran jakarta/aloysius
Terus Semangat l Perlu ketabahan dan perjuangan tak kenal menyerah untuk merawat budaya bangsa dengan terus mengadakan pergelaran seperti Wayang Kulit, di Babadan, Wedomartani, Sleman, Yogyakarta. Sabtu (17/8).
A   A   A   Pengaturan Font

Perlu komitmen serius. Barangkali itu kalimat yang harus dicanang­kan di benak setiap anak bangsa. Ini terutama seba­gai tekad menjaga dan me­lestarikan, kalau tidak bisa mengembangkan, budaya adiluhung peninggalan nenek moyang.

Sebab tak bisa dipung­kiri, anak-anak sekarang lebih gandrung dengan budaya digital yang dengan mudah ditemukan di smart­phone. Apalagi orangtua juga “welcome” atas sikap anak-anak dengan menye­diakan smartphone.

Tulisan ini berangkat dari keprihatinan se­tiap melihat pergelaran budaya yang dulu amat digandrungi, ditunggu, dan diserbu seperti wayang ku­lit, wayang orang, jathilan, ketoprak, atau tonil. Dulu setiap ada pertunjukan macam-macam kekayaan bangsa tadi selalu dijubeli penonton.

Tapi, kini tontonan seperti di atas nyaris bisa dihitung dengan jari pe­nontonnya. Misalnya pada pergelaran wayang kulit di Babadan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dalam rangka menyambut hari kemerdekaan, yang di­gelar Sabtu (17/8), penon­tonnya sangat sedikit.

Itulah yang dimaksud bahwa cukup berat upaya merawat warisan-warisan mahakarya para leluhur. Sebab, kalau tidak banyak penonton lalu menyerah, akan punah benar pening­galan-peninggalan tak ternilai tersebut

Komitmen Babadan

Untuk itu, masyarakat perlu mengapresiasi perangkat Dusun Babadan yang memiki komitmen tinggi terus me­nyelenggarakan kesenian tra­dional di tengah arus budaya global. Di bawah pimpinanan dukuh Suci T, yang didukung Lurah Wedomartani, Teguh, tokoh-tokoh Babadan pantang me­nyerah, juga ketika melihat tak banyak penonton dalam tiap pergelaran kesenian.

Lurah Teguh, terus meng­ingatkan, kalau tidak dise­lenggarakan pergelaran, lama-lama anak-anak tidak mengenal budaya sendiri. Itu benar. Anak dulu hafal dunia pewayangan. Anak sekarang sangat hebat kalau masih me­ngenal dunia pewayangan.

Acungan jempol buat tokoh dan masyarakat Babadan, tiap tujuh belasan senantiasa mengadakan pergelaran. Se­moga mereka tidak lelah terus merawat kekayaan bangsa.

Perlu pemikiran digitalisasi wayang yang sesuai dengan kehendak anak-anak milenial. Ini tentu bukan tugas masyarakat Babadan, tetapi pemerintah pusat, daerah, hingga kecamatan, semua harus berpikir keras menghadirkan kesenian dalam wajah digital agar terus digandrungi anak-anak.

Sebab transformasi juga sudah tampak dari sisi “pe­lengkap” pertunjukan. Tak ada lagi pedagang makanan tradisional. Pedagang menjual makanan milenial seperti sosis goreng/bakar. Para penonton tak lagi duduk di tikar,tetapi disediakan bangku. Bahkan panitia menyediakan aneka makanan gratis untuk para penonton, tapi penonton tak kunjung hadir.

Semoga komitmen merawat warisan leluhur oleh masyara­kat Babadan ini menyebar ke seantero nusantara. wid/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment