Bermain di Pinggir Kali Kuning | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments

Bermain di Pinggir Kali Kuning

Bermain di Pinggir Kali Kuning

Foto : koran jakarta/aloysius widiatmaka
A   A   A   Pengaturan Font

Kegiatan untuk menyegarkan kondisi hati, pikiran, jiwa, dan badan. Salah satunya bermain di pinggir kali. Melihat aliran air yang bening saja hati sudah menjadi “segar.” Inilah bagian dari rekreasi alam yang dikemas secara kreatif di sebuah lembah Desa Wisata Sambi, Pakem, Yogyakarta, yang hanya beberapa kilometer dari kaki Gunung Merapi.

Kaum muda Pakembinangun, Pakem, Sleman,Yogyakarta pada tahun 2000 melihat lahan kosong lalu timbullah ide untuk membuat lahan tersebut bermanfaat. Kawasan di pinggir Kali Kuning tersebut lumayan luas, kurang lebih sekitar empat sampai hektare. Ini sebenarnya tanah kas desa lalu disewa oleh kaum muda desa Sambi, untuk dijadikan area games. Kini tepi Kali Kuning tersebut setiap akhir pekan atau hari libur ramai didatangi kelompok-kelompok untuk mengadakan rekreasi.

Ada rombongan dari kantor, gereja, warga kota, sekolah, dan kelompok lain. “Kalau Sabtu dan Minggu bisa ada empat atau lima kelompok bermain secara bersamaan. Kami ada tujuh pendopo di pinggir kali yang bisa dimanfaatkan dalam berbagai kelompok berbeda, sehingga privasi rombongan tetap terjaga,” kata salah satu instruktur Dodi.

Untuk menuju lokasi dari Yogyakarta Anda mengambil arah Kaliurang, setelah melewati daerah Pakem mulai melihat tanda di sebelah kanan karena tak lama lagi sampai di area untuk belok kiri. Dari jalan raya, belok ke kanan, memasuki desa Sambi, kalau membawa kendaraan mobil atau motor banyak tempat parkir juga. Kemudian ada beberapa pendopo kecil untuk istirahat atau persiapan bermain.

Kalau sudah siap lalu rombongan akan dipandu ke lokasi menuruni kawasan ke lembah. Kehijauan mata memandang ada di depan. Kegirangan para peserta mulai tampak ketika melihat gemericik suara aliran air Kali Kuning yang begitu bening di bawah sana.

Kebanyakan tamu langsung menuju kali, melepas alas kaki, dan masuk ke air. Mereka merecik-recikkan ke bagian kaki, tangan, bahkan muka. “Airnya segar sekali,” ujar salah satu peserta rekoleksi dari sebuah gereja dari Yogyakarta, Susi (23). Memang air Kali Kuning sangat bening dan masih “anyes” serta belum terkontaminasi sampah atau kotoran lain karena belum jauh dari sumber air, sekitar kaki Gunung Merapi.

Rekoleksi dan “Game”

Usai sekadar bermain air para peserta dari gereja Kristen itu yang kebanyakan remaja berjumlah sekitar 40-an langsung menuju pendopo. “Enak sekali acaranya karena diadakan di pendopo, alam terbuka, di lembah, dan pinggir kali pula,” tambah Susi. Para remaja itu mengadakan rekoleksi (semacam penyegaran rohani) untuk setengah hari.

Setelah doa, puji-pujian di pondok dan pengantar dari panitia, mereka langsung mengadakan lintas alam naik turun bukit. Mereka mengadakan berbagai games di tengah ‘hutan’ yang masih dalam kawasan wisata Sambi. Setelah puas bermain, mereka kembali ke pondok pinggir kali untuk melanjutkan acara. “Area ini memang bisa untuk rekreasai fisik dan rohani,” ujar Dodi.

Pada kelompok lain ada yang sedang bermain untuk orang dewasa di antaranya paintball dan archery. “Permainan archery sebenarnya bisa dilakukan di da­lam ruangan, tetapi bermain di tengah berbukitan kecil ini lebih asyik,” ujar salah satu pemain, Intan (23) yang mengaku baru pertama bermain seperti ini. Yang baru pertama mungkin agak sulit karena permainan dengan inti memanah lawan memang tidak mudah, na­mun mengasyikkan.

Untuk kaum pria ada permainan yang lebih “maco” seperti paint­ball. Namun, begitu game ini tidak melulu dilakukan kaum Adam. Ada juga kaum Hawa yang senang. Hanya game ini perlu perlengkap­an lebih komplit seperti pengaman dada dan kepala agar aman saat tertembak. Namun pemain tidak boleh menembak kepala.

Seperti tiap game, ada juga aturannya. Di sini salah satunya diajari kejujuran atau integritas: yang tertembak tiga kali jujur me­ngaku dengan angkat senjata, lalu mundur dari arena pertempuran. Peluru yang tersisa, kalau masih ada, ditransfer ke teman.

Menurut Dodi, kawasan ini milik kas desa Pakembinangun yang disewa swasta lalu dibangun area bermain yang dijadikan tempat rekreasi atau wisata sejak 2003. Penyewaannya kadang berlaku untuk satu tahun, tapi juga bisa tiga tahun. Ada tujuh pendopo yang bisa dimanfaatkan untuk para pelancong.

Suasana alam yang asri, segar, dan hijau memang nyaman untuk tempat bermain. Harga paket bermain untuk orang dewasa 170.000 rupiah, remaja 135.000 rupiah, dan anak-anak 115.000 rupiah. Untuk grup yang akan bermain sebaiknya menghubungi jauh-jauh hari sebelumnya, terutama kalau mau datang pada hari Sabtu, Minggu, atau pas libur untuk menghindari bentrok atau tidak mendapat tempat. “Meski begitu, satu hari bisa melayani tiga sampai empat rombongan. Mereka akan ditempatkan di pendopo-pendopo secara terpisah, sehingga privasi kelompok tetap terjaga,” ujar Dodi. wid/G-1

Paket ‘Belajar’ bagi Anak-anak

Rombongan tidak hanya un­tuk orang dewasa, tetapi juga anak-anak, atau campuran. Sebab pengelola juga menyediakan paket khusus untuk anak-anak. Un­tuk bocah-bocah paketnya seharga 115.000 rupiah. Namanya anak kecil di mana pun kalau melihat air tentu senang. Apalagi ini air me­ngalir di kali yang bening dan cetek tentu mereka penuh antusias.

Mereka bisa berbasah-basahan bahkan mandi. Air di Kali Kuning dusun Sambi ini sangat jernih. Rasanya tidak masalah kalau anak-anak mandi di kali. Apalagi di base camp ada banyak kamar mandi yang memang disediakan untuk mandi para outbonders. Sehing­ga anak-anak yang bermain atau mandi di kali bisa langsung bersih­kan diri di base camp.

Selain bermain air di kali, anak-anak juga diajari cara membajak sawah. Di sini secara tradisional ba­jak sawah menggunakan sapi atau kerbau. Anak-anak didampingi pe­ngelola bisa belajar mengemudikan bajak dan sapi. Ini akan memberi pengalaman menyenangkan ter­utama bagi anak-anak kota.

Selain itu, bocah-bocah bisa juga belajar menanam padi di sa­wah baik cewek maupun cowok. La­hannya sudah disediakan, demiki­an juga benihnya. Di sini biasanya anak diajari cara menanam bibit padi agar lurus baik ke samping maupun ke depan. Tentu yang pa­ling menyenangkan adalah lomba menangkap ikan dalam kolam. Bu­kan ikan lele karena berbahaya bisa kena patilnya. Ikan-ikan yang aman seperti gabus atau belut.

Lokasi “Desa Wisata Sambi” se­kitar 19 kilometer dari Yogyakarta. Para wisatawan dari Jobodetabek bisa naik pesawat Garuda Indone­sia dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Adisucipto di Yog­yakarta. Dari bandara lanjut naik kendaraan sekitar 40 menit sudah sampai di lokasi.

Panoramanya indah sekali, per­paduan antara lembah, perbukit­an, persawahan, ditambah aliran air dengan latar belakang Gunung Merapi. Tak ada salahnya untuk mencoba rekreasi di alam hijau ini guna menyegarkan jiwa raga. wid/G-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment