Bermain Layang-layang di Malam Hari | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments
Layang Lakbok Art and Culture Festival

Bermain Layang-layang di Malam Hari

Bermain Layang-layang di Malam Hari

Foto : FOTO-FOTO: KORAN JAKARTA/TEGUH RAHARDJO
A   A   A   Pengaturan Font

Malam hari suasana pedesaan biasanya sunyi senyap, hanya suara burung malam dan serangga yang disertai angin dingin pegunungan yang menemani. Namun berbeda dengan suasana di Desa Sidaharja, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis Jawa Barat, akhir September. Di Desa itu, terutama di area pesawahan Blok Kuntul, justru suasananya sangat meriah.

Di tempat itu berlangsung festival layang-layang. Uniknya, justru puncak fes­tival dilakukan malam hari. Artinya layang-layang diterbangkan saat malam hari. Nah, kok bisa? Apa kelihatan saat terbang?

Layang Lakbok Art and Culture Fes­tival atau Festival Layang Lakbok 2019 demikian even yang berlangsung 27 dan 28 September itu dinamai. Resmi dibuka oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil ditemani Bupati Ciamis Herdiat Sunarya.

Festival ini menunjukan masyara­kat setempat dan sekitarnya sangat kreatif mengemas sebuah potensi per­mainan lokal tradisional namun bisa menggema menjadi potensi wisata unggulan di masa depan. Bahkan Gubernur menyatakan nilai sembilan untuk kemeriahan suasana festival tersebut.

Mendukung keberlanjutan Layang Lakbok Festival, Emil berharap festival ini dilaksanakan secara rutin dengan sistem kompetisi, bahkan bukan tidak mungkin ke depan akan memperebut­kan Piala Gubernur Jawa Barat.

Direktur Layang Lakbok Festival 2019, Irvan Nuary, mengatakan festival berlangsung dengan memberdayakan masyarakat sekitar sehingga turut menjaga ekosistem kebudayaan di tengah-tengah masyarakat Lakbok sendiri.

Irvan menambahkan bahwa Layang Lakbok Festival berdampak positif dalam mendorong ekonomi warga setempat apalagi jika ditambah den­gan kolaborasi seni dan budaya lewat jaringan festival.

“Layang Lakbok punya jaringan festival, Festival Gayo di Aceh, Festival Silalahi di Sumatera Utara, dan Dieng Festival, merupakan jaringan festival berbasis masyarakat yang ada di Indo­nesia, yang juga berjaringan dengan Festival Layang Lakbok 2019,” tutur Irvan.

Dia pun berharap akan semakin banyak wisatawan yang datang ke Lakbok sehingga memberi semangat baru pada masyarakat lokal dalam menciptakan wadah pemberdayaan masyarakat.

“Insyaallah Layang Lakbok Fes­tival membantu pemerintah di segi pemberdayaan SDM (Sumber Daya Manusia),” tambah Irvan.

Festival ini pun terbukti menarik minat pengunjung, termasuk wisa­tawan asal Prancis bernama Aliece. Dia mengaku bahagia bisa hadir di Lakbok menyaksikan festival yang menurutnya unik.

“Ini festival yang khas dan san­gat menarik, saya senang berada di Lakbok. Apalagi jarang sekali diada­kan festival layang-layang tapi digelar di malam hari, kebanyakan festival layang-layang diadakan siang hari,” ujar Aliece.

Sama seperti Aliece, ada Tariyem asal Cilacap yang juga merasa terhibur saat melihat Layang Lakbok Festi­val. “Saya datang ke sini ingin lihat festival yang tidak seperti biasanya, menerbangkan layangan tapi malam-malam,” kata Tariyem.

Layang Lakbok Festival 2019 pun semakin meriah dengan berbagai penampilan seni tradisional yang dimainkan warga Lakbok untuk meng­hibur pengunjung, salah satunya lewat penampilan Doel Sumbang. tgh/R-1

Panggung Musik Tengah Sawah

Malam itu, sinar puluhan layangan yang dihiasi lampu LED pun beterbangan di langit Lakbok bak kunang-kunang.

Puluhan layang-layang yang terbang di ang­kasa hanya terlihat kilatan cahayanya saja. Cahaya warna-warni terlihat menari-nari, berputar, menukik dan bergerak kanan dan kiri, nampak begitu indahnya langit malam Lakbok saat itu. Penonton berdiri di pinggir areal sawah atau menonton sambil duduk di sekitar gerobak dan stan kuliner lokal yang dijual di kawasan festival tersebut.

Festival yang berbasis masyarakat tersebut dikelola oleh warga sekitar dari berbagai latar belakang. Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, festival yang kedua ini disambut antu­sias banyak kalangan, termasuk dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Layang Lakbok seperti memberikan pesan tersendiri. Selain menjadi tradisi ketika masyara­kat setelah panen sambil menunggu turunnya hu­jan, juga menjadi sarana warga asal Lakbok yang berada di luar daerah untuk berkunjung ke rumah sendiri alias mudik. Sejauh apapun mereka pergi pasti akan kembali untuk mengadu layangan di malam hari.

 

Peserta sudah mulai berdatangan sejak siang hari, lokasinya di lahan luas, bukan lapangan seperti lapangan bola, namun lahan bekas sawah yang habis dipanen dan sudah mengering. Karena terletak di pesawahan, tidak ada fasilitas yang mewah, seperti festival kebanyakan. Hanya ada gubug-gubug beratap jerami yang berdiri mengelilingi kawasan Festival Layang Lakbok. Tenda-tenda itu menjual aneka jajajan dan makanan setempat.

Sementara di bagian tengah ada panggung sederhana dan hamparan plastik terpal yang menjadi lokasi VIP bagi warga dan tokoh ma­syarakat untuk menyaksikan festival.

Membuka festival dilakukan sejak siang. Ton­tonan seni tradisional khas Ciamis dipertontokan satu- persatu. Seperti seni bebegig sawah hingga wayang golek.

Menginjak malam, masyarakat nampak mulai berbondong-bondong mendekati panggung. Satu persatu penampilan penari dan musik dihadir­kan, bahkan hadir Doel Sumbang yang ikut me­meriahkan acara malam itu. Mungkin ada ribuan warga yang ikut menikmati suguhan musik pada festival itu.

Festival pun dimulai setelah Gubernur resmi membuka acara tersebut. Gubernur mencoba menerbangan layang-layang kecil dibantu dengan masyarakat desa yang juga sudah sabar menung­gu lama momen tersebut. Layang berwarna putih mulai terbang pelan, lampu warna-warna ter­tempel pada layangan mulai terlihat menyala dan terbang meninggi, diikuti sorakan pengunjung yang sudah memadati kawasan festival.

Setelah itu, sekitar 100 an layang-layang lain­nya mulai diterbangkan, dan langit Lakbok pun menjadi penuh warna-warni dari cahaya layang-layang. tgh/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment