BI Berjibaku Rem Depresiasi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 6 2019
No Comments
Stabilisasi Rupiah - Meski BI Intervensi, Kurs Rupiah Kemarin Merosot Jauh sebesar 75 Poin

BI Berjibaku Rem Depresiasi

BI Berjibaku Rem Depresiasi

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Setelah mengintervensi pasar spot dan pasar domestik mata uang valas berjangka (Domestic NDF), BI siap melakukan hal serupa di pasar sekunder Surat Berharga Negara (SBN).

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mengaku sudah melakukan intervensi di pasar spot dan pasar domestik mata uang valas berjangka (Domestic NDF) untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi terhadap dollar AS akibat sentimen pelaku pasar global setelah anjloknya nilai mata uang peso Argentina.

“Kami melihat pasar terkejut terutama dengan peristiwa politik di Argentina,” kata Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Nanang Hendarsah, di Jakarta, kemarin. Bank Sentral sudah mentsabilisasi nilai tukar mata uang “Garuda” di spot dan DNDF agar depresiasi sejak Selasa (13/8) pagi tidak merosot terlalu jauh.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa (13/8) sore, melemah sebesar 75 poin dari sehari sebelumnya menjadi 14.325 rupiah per dollar AS. BI juga bersiap intervensi di pasar sekunder Surat Berharga Negara (SBN) setelah hasil lelang SBN diumumkan terutama jika banyak investor asing yang melepas SBN dan dapat melemahkan nilai tukar rupiah.

“Untuk menyikapi market surprise (kejutan di pasar) yang sifatnya temporer kami tentu tidak ingin menimbulkan dampak terhadap mata uang rupiah,” ujar Nanang. Gejolak di pasar finansial global hari ini terutama negara- negara berkembang, timbul setelah depresiasi tajam mata uang Argentina, peso hingga 14,5 persen menjadi 53 peso per dollar AS, Senin (13/8).

Anjloknya peso Argentina terjadi pasca-pemilihan presiden putaran pertama Argentina yang menghasilkan suara dengan kemungkinan terbesar untuk kemenangan pemimpin oposisi Alberto Fernandez. Pasar bereaksi negatif karena pemimpin opisisi itu dikenal sebagai tokoh pengusung rezim pengendalian devisa di Argentina.

Naik daunnya Fernandez juga menguatkan proyeksi bahwa krisis ekonomi Argentina dapat semakin memburuk dan berdampak pada negara-negara latin lainnya seperti Brasil. Karena gejolak itu, Nanang mengatakan tidak hanya rupiah melemah, namun juga seluruh mata uang negara-negara berkembang atau emerging markets.

Dengan kepanikan itu, terjadi aksi investor melarikan modalnya ke aset yang lebih aman atau flight to quality. Tercatat, won Korea Selatan, dollar Singapura, yuan Tiongkok, ringgit Malaysia, peso Filipina, dan rupe India juga melemah.

 

Tekan CAD

 

Selain sentimen eksternal, pelemahan rupiah sejak awal pekan ini juga dipengaruhi melebarnya defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD). Data terbaru Bank Indonesia (BI) menunjukkan CAD pada triwulan II-2019 mencapai 8,44 miliar dollar AS atau 3,04 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), lebih besar dibandingkan catatan pada triwulan I-2019 sebesar 7,0 miliar dollar AS atau 2,6 persen terhadap PDB.

Pelebaran tersebut juga menjadi perhatian pemerintah. Karenanya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indarwati siap mendukung dalam memastikan CAD tak semakin melebar hingga akhir tahun dengan menggunakan instrumen fiskal. “Kami siap menggunakan instrumen fiskal untuk membantu kementerian terkait dan juga inisiatif dari pemerintah daerah untuk bisa meningkatkan ekspor,” kata Sri Mulyani di Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan akan terus melakukan koordinasi dan pembahasan dengan kementerian yang berhubungan dengan moneter dan energi. Diakuinya koodinasi akan lebih diutamakan dengan Kementerian ESDM karena melebarnya CAD terkait adanya impor minyak dan gas yang tinggi. 

 

Ant/E-10

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment