Koran Jakarta | September 18 2019
No Comments

Biarkan KPU Rampungkan Tugas

Biarkan KPU Rampungkan Tugas

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, me­nyatakan akan menolak hasil penghitungan suara Pe­milu 2019 yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Mengapa demikian? Dia menuduh telah terjadi ke­curangan selama penyelenggaraan pemilu. Ini mulai masa kampanye hingga proses rekapitulasi hasil perolehan suara yang masih berjalan.

Tepatkah Prabowo menyatakan ini di saat KPU masih menghitung dengan kerja tak mengenal lelah? Di dalam acara “Mengungkap Fakta Kecurangan Pilpres 2019” di Ja­karta, Selasa (14/5) itu, Prabowo menilai penghitungan suara pemilu curang, sehingga menolaknya. Dalam acara tersebut, BPN memaparkan berbagai kecurangan yang menurut mere­ka terjadi sebelum, saat pemungutan suara, dan sesudahnya, di antaranya permasalahan daftar pemilih tetap fiktif, politik uang, penggunaan aparat, surat suara tercoblos, hingga salah hitung di website KPU.

Ketua BPN, Djoko Santoso, juga menyatakan hal sama. Alasannya, BPN melihat telah terjadi banyak kecurangan yang merugikan pihaknya pada Pilpres 2019. “Berdasarkan hal tersebut, BPN Prabowo-Sandi bersama rakyat Indonesia yang sadar hak demokrasinya, menyatakan menolak hasil perhitungan suara KPU yang sedang berjalan,” kata Djoko.

Tentu sikap menolak tersebut menjadi hak kubu BPN. Na­mun, apakah tepat penolakan tersebut disampaikan saat KPU masih berjuang keras sampai nglembur-nglembur, kurang ti­dur, sakit, dan bahkan ratusan petugas KPPS meninggal du­nia. Bukankah lebih elegan, seperti telah banyak disampai­kan para ahli, segala keberatan disampaikan ke Bawaslu atau Mahkamah Konstitusi. Lalu, apakah tepat penolakan tersebut bagi pendidikan politik masyarakat atau rakyat? Bukankah le­bih baik, mendidik rakyat dengan menyalurkan keberatan ke jalur hukum.

Kontestasi politik sebaiknya diisi juga dengan pendidikan demokrasi rakyat, bukan sekadar soal menang kalah. Meno­lak saat KPU masih menghitung hasil pemilu, apakah itu se­buah pelajaran demokrasi yang baik bagi rakyat?

Apalagi Prabowo kerap kali menyatakan pilpres bukan soal meraih kursi presiden saja. Ucapan ini tentu sangat baik. Namun juga harus diikuti langkah-langkah pendukung pernyataan tersebut agar ti­dak sekadar ucapan di bibir. Sebagai para negarawan, se­baiknya, kubu BPN juga me­mikirkan pendidikan politik rakyat agar masyarakat meli­hat mereka sebagai demokrat yang dewasa, bukan kekanak-kanakan.

Penolakan hasil pilpres saat KPU masih menghitung, rasanya tidak tepat. Lebih dari itu, sikap tersebut, juga tidak menghargai jerih payah, para KPPS yang banting tulang, ku­rang makan, kurang tidur, sehingga berakibat fatal: banyak yang meninggal dunia, hanya supaya demokrasi berjalan ju­jur dan adil, serta rampung pada waktunya. Sebaiknya BPN dan Prabowo-Sandi membawa bekal kecurangan tersebut ke jalur hukum, kalau memang datanya akurat. Jadi mereka bisa berbicara banyak di dalam ranah hukum, bukan di seminar, lalu menyatakan menolak hasil hitung KPU.

Sikap tersebut juga bisa melemahkan semangat KPU ka­lau terus menerus disuarakan. Padahal saat ini KPU justru memerlukan dukungan seluruh rakyat agar mampu meram­pungkan penghitungan tepat waktu. Di samping itu, rakyat juga bisa memberi penilaian tersendiri, kalau kubu BPN terus mendiskreditkan KPU.

Alangkah baik bila semua pihak menahan diri sampai tanggal 22 Mei. Setelah itu, barulah merespons hasil penghi­tungan KPU. Kalau benar-benar dinilai banyak ketidakberes­an, tentu masyarakat juga bakal mendukung. Rakyat juga ingin hasil yang bersih, bukan penuh kecurangan. Makanya, marilah sabar dalam bereaksi. Semua pihak akan mendapat haknya untuk membela perolehan suaranya. Saluran dan alur hukumnya begitu jelas. Semua diakomodasi untuk memper­juangkan hak-haknya. Tidak ada yang akan dilanggar hak-haknya. Bawaslu dan MK juga akan dihujat rakyat kalau tidak memberi ruang yang mau mencari keadilan. Jadi, tidak perlu khawatir. KPU biar merampungkan penghitungan.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment