Desa Perbatasan Jabar-Jateng dengan Adat Unik | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments
Kampung Kuta

Desa Perbatasan Jabar-Jateng dengan Adat Unik

Desa Perbatasan Jabar-Jateng dengan Adat Unik

Foto : FOTO-FOTO: KORAN JAKARTA/TEGUH RAHARDJO
A   A   A   Pengaturan Font

Kabupaten Ciamis, kabupaten yang berada paling pinggir bagian selatan Jawa Barat (Jabar), berbatasan langsung dengan Kabupaten Cilacap Jawa Tengah (Jateng), memiliki satu desa unik yang masih memegang teguh adat istiadat budaya setempat.

Memang sudah tidak lagi tertutup karena sudah mengenal listrik, motor bahkan parabola, namun adat istiadat turun temurun masih tetap dipertahankan warganya. Mer­eka juga tidak menutup diri dengan kunjungan warga luar, sebab desa ini sudah menjadi desa tujuan wisata. Desa tersebut adalah Desa Kuta atau Kampung Kuta.

Salah satu adat yang terus dilestari­kan adalah Nyuguh. Koran Jakarta, datang bersama Wagub Jabar sebagai tamu undangan, menyaksikan upacara adat tersebut.

Kampung Adat Kuta (KAK) berada di Dusun Kuta, Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis. Kampung ini masih memper­tahankan bangunan rumah panggung berbahan dasar kayu dan bambu. Tidak ada bangunan dengan meng­gunakan tembok semen. Itu dilakukan untuk menjalankan amanah yang su­dah dilakukan secara turun temurun.

Namun memang saat ke lokasi, masih ada ruas jalan yang rusak. Jalan rusak mulai terasa saat memasuki wilayah kecamatan. Selebihnya mulus, hotmix sebagian ruas jalan beton.

“KAK ini masuk agenda pembangu­nan infrastruktur yaitu pembangunan kawasan perbatasan. Insyaallah No­vember ini jalan aksesnya diperbaiki,” kata Wagub Jabar, Uu Ruzhanul Ulum, belum lama ini.

Menurut Uu, KAK memiliki potensi kepariwisataan besar. Maka itu, Pem­prov Jabar akan mendorong Kampung Adat Kuta menjadi destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan.

“Kami akan membantu untuk melestarikan kampung adat ini, teru­tama dalam menunjang pariwisata agar wisatawan semakin banyak yang datang. Dengan begitu, akan ada peningkatan ekonomi. Karena ukuran suksesnya pariwisata, salah satunya, banyak pengunjung,” ucapnya.

Selain memperbaiki akses, Pem­prov Jabar akan membangun titik-titik penginapan bagi wisatawan di sekitar KAK. Hal tersebut dilakukan karena banyak wisatawan KAK yang kesulitan mencari penginapan.

“Jadi pada saat wisatawan masuk ada potensi budaya, adat, alam, dan penginapan,” imbuhnya.

Tradisi Nyuguh atau hajat bumi dimaknai sebagai ungkapkan rasya syukur terhadap Sang Pencipta.

Berbagai kegiatan kesenian men­gawali rangkaian Nyuguh. Mulai dari ronggeng atau seni ibing yang melibat­kan tamu, sampai seni godang buhun yang juga masih bertahan di Dusun Kuta.

Selain itu ada juga kegiatan men­garak dongdang atau jampana yang berisi aneka makanan tradisional serta aneka hasil bumi lainnya. Di belakang­nya, iring-iringan barisan warga. Ada yang memikul ikatan pari atau gabah yang belum dirontokkan, dii­kuti barisan keluarga yang membawa bekal makanan tradisional. Di antara makanan tradisional itu ada gulapeu, papais, pepes ikan, sayur jantung, putri noong, ketupat dan lainnya. tgh/R-1

Legenda Saling Bertaut

Ada beberapa cerita turun – temurun yang diyakini warga setempat. Keterkaitan berdirinya Kerajaan Galuh hingga legenda Ciung Wanara erat terakit dengan kampung Kuta ini.

Awalnya Kampung Kuta ini menjadi cikal bakal ibu kota Kerajaan Galuh. Rencana pem­bangunan bahkan sudah disiap­kan termasuk bahan baku untuk membangun kota kerajaan. Upaya ini gagal karena kampung ini di­anggap masih belum cocok untuk titik pusat pemerintahan. Sehingga Kampung Kuta ini seringkali dise­but sebagai kota terlantar.

Raja Galuh kemudian memin­dahkan lokasi pemerintahannya sekitar 6 Km dari Kuta, tepatnya di kawasan Ciung Wanara. Hutan Ciung Wanara kini menjadi salah satu destinasi wisata di Ciamis yang jaraknya tidak jauh dari Kuta.

Bekas ibu kota Galuh yang ditel­antarkan selama beberapa lama tersebut menarik perhatian Raja Cirebon dan Raja Mataram. Mas­ing-masing raja tersebut kemudian mengirimkan utusannya untuk menyelidiki keadaan di Kampung Kuta. Raja Cirebon mengutus Aki Bumi, sedang Raja Mataram meng­utus Tuan Batasela.

“Perlombaan “ ini dimenangkan Aki Bumi. Sesampainya di Kuta, Aki Bumi menemui para tetua kampung dan melakukan penert­iban, seperti membuat jalan ke hu­tan dan membuat tempat peristi­rahatan di pinggir situ. Aki Bumi terus menjadi penjaga (kuncen) Kampung Kuta sampai mening­gal. Ia lalu dimakamkan bersama keluarganya di tengah-tengah Kampung, yang sekarang termasuk Kampung Margamulya.

Setelah keturunan Aki Bumi tidak ada lagi, Raja Cirebon memerintahkan agar yang menjadi kuncen di Kampung Kuta beri­kutnya adalah orang-orang yang dipercayai Aki Bumi, yaitu para leluhur kuncen Kampung Kuta saat ini.

Masyarakat Adat memiliki hutan keramat atau disebut Leu­weung Gede yang sering didatangi orang-orang yang ingin mendapat­kan keselamatan dan kebahagiaan hidup. Namun, sangat dipantang meminta sesuatu yang menunjuk­kan ketamakan seperti kekayaan.

Larangan lain yang berlaku di luar Leuweung Gede tapi masih termasuk wilayah KAK pun wa­jib dipatuhi, seperti larangan membangun rumah dengan atap genting, mengubur jenazah di kampung ini, memperlihatkan hal-hal yang bersifat memamerkan kekayaan yang bisa menimbulkan persaingan, mementaskan kes­enian yang mengandung lakon dan cerita, misalnya wayang.

Keunikan lainnya, warga Kampung Kuta dilarang membuat sumur. Air untuk keperluan sehari-hari harus diambil dari mata air. La­rangan tersebut mungkin dikarena­kan kondisi tanah di kampung yang labil dan dikhawatirkan dapat merusak kontur tanah. tgh/R-1

Berinteraksi dengan Kehidupan Seni Warga

Walaupun terikat aturan adat, masyarakat Kampung Kuta mengenal dan mengge­mari berbagai kesenian yang digunakan sebagai sarana hiburan. Baik kesenian tradisional seperti calung, reog, sandiwara (drama Sunda), tagoni (terbang), kliningan, jaipongan, kasidah, ronggeng, sampai kesenian modern dangdut.

Pertunjukan kesenian biasa dilaksanakan saat mengadakan selamatan/hajatan terutama perkawinan dan penerimaan tamu kampung.

Memang adat yang paling ditunggu adalah upacara Adat Nyuguh. Upacara ini dilaksanakan pada 25 Sapar pada setiap tahunnya. Sesuai ke­biasaan leluhur, acara nyuguh harus dilakukan di pinggir Sungai Cijolang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cilacap, Jateng.

Dari titik rumah kuncen, warga setempat yang tinggal di bagian dalam kampung akan membawa sesajian dan bunga untuk dilarung di sungai, yang membatasi wilayah Jabar dan Jateng yang membelah desa.

Sebelum melarung, warga akan bergantian menyuguhkan kesenian tradisional di depan rumah utama. Puncaknya adalah kesenian memadukan gamelan dengan lumpang atau alat penumbuk padi yang dipukul ibu-ibu beramai-ramai. Uniknya ibu-ibu mengenakan baju tradis­ional Sunda dengan warna yang cerah “ngejreng”. Selesai bersuka cita, acara melarung pun dimulai.

Untuk bisa menikmati sejumlah kegiatan adat kampung, saat ini sudah ada beberapa rumah di dalam Kuta yang bisa disewa. Jumlahnya ada puluhan, sehingga tidak perlu khawatir jika ada waisatawan yang ingin menikmati bermalam di kampung yang masih asri ini. tgh/R-1

 

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment