Ekonomi Global Hadapi Pelemahan Serius | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 6 2019
No Comments
Ancaman Resesi I RI Mesti Prioritaskan Pengendalian Impor

Ekonomi Global Hadapi Pelemahan Serius

Ekonomi Global Hadapi Pelemahan Serius

Foto : Sumber : BPS
A   A   A   Pengaturan Font

>> Pelemahan industri Tiongkok dan ekonomi Jerman tingkatkan kecemasan investor.

>> Trump tunda tarif tambahan 10 persen bagi impor dari Tiongkok jadi 15 Desember.

JAKARTA – Setiap hari rangkaian be­rita buruk muncul mempertegas risiko bahwa ekonomi global menghadapi pe­lemahan yang serius. Tiongkok mela­porkan pertumbuhan produksi industri terlemah sejak 2002.

Ekonomi Jerman juga menyusut aki­bat penurunan kinerja ekspor, dan pro­duksi kawasan euro merosot paling ta­jam dalam lebih dari tiga tahun karena keseluruhan ekspansi mandek. Di sisi lain, pasar obligasi Amerika Serikat (AS) dan Inggris mengirimkan peringatan re­sesi terbesar sejak krisis keuangan global.

Sementara itu, di tengah-tengah an­caman resesi global itu, Indonesia diha­rapkan segera mengantisipasi dengan membenahi kinerja perdagangan dan investasi. Apabila pemerintahan Pre­siden Joko Widodo kesulitan memacu ekspor dan investasi hingga akhir tahun ini, maka sebaiknya pengendalian impor menjadi prioritas utama tim ekonomi.

Investor global meningkatan kekha­watiran soal perlambatan ekonomi du­nia, karena data industri Tiongkok yang lebih lemah dari perkiraan semakin mempertajam kemerosotan pada eko­nomi terbesar kedua dunia itu.

Data resmi yang dirilis pada Rabu (14/8) menunjukkan pertumbuhan out­put industri melambat 4,8 persen pada Juli lalu, dibandingkan periode sama se­tahun sebelumnya. Ini merupakan per­tumbuhan terburuk dalam 17 tahun.

Kemudian, Jerman menambah kece­masan setelah Produk Domestik Bruto (PDB) negara itu turun 0,1 persen pada April–Juni tahun ini, sehingga memicu kekhwatiran atas resesi pada ekonomi terbesar di Eropa itu. PDB area euro juga hanya tumbuh 0,2 persen secara kuar­talan. Ini merupakan penyusutan yang signifikan dibandingkan dengan per­tumbuhan 0,4 persen yang dilaporkan pada tiga bulan pertama tahun ini.

Pasar keuangan AS pada pembukaan perdagangan Rabu (tadi malam) juga mengirimkan alarm resesi. Bursa saham AS jatuh, membalik reli yang dibuku­kan Selasa (13/8), setelah pasar obligasi Paman Sam tersebut kian kencang me­ngirimkan sinyal resesi.

Berbarengan dengan koreksi in­deks Dow Jones dan Nasdaq, imbal ha­sil (yield) obligasi tenor 10 tahun jatuh di bawah yield obligasi jangka pendek tenor dua tahun. Fenomena ganjil pada pasar obligasi itu dipercaya merupakan indikasi resesi ekonomi.

Akibatnya, investor memburu aset yang lebih minim risiko hingga men­dorong yield obligasi tenor 30 tahun menyentuh rekor terendahnya. “Bursa saham AS kehabisan waktu di tengah in­versi kurva yield,” tulis technical strategist Bank of America, Stephen Suttmeier, se­perti dikutip CNBC International.

Menurut catatan Credit Suisse, inversi antara obligasi pemerintah AS tenor 2-ta­hun dan 10-tahun terjadi lima kali sejak 1978 dan semuanya mengindikasikan re­sesi, meski dengan tenggat yang panjang.

Pelaku pasar juga masih mewaspa­dai eskalasi perang dagang antara AS-Tiongkok dan sejauh mana dampaknya bagi ekonomi global setelah Beijing me­rilis data produksi manufaktur Juli yang melambat di bawah ekspektasi pasar.

Data tersebut keluar setelah AS meng­umumkan penundaan tarif atas bebera­pa produk Tiongkok seperti pakaian dan ponsel yang semula terancam kena tarif impor sebesar 10 persen. Tarif itu akan ditunda menjadi 15 Desember, dari ren­cana semula pada 1 September tahun ini.

Presiden AS, Donald Trump, me­ngatakan kebijakan itu bertujuan untuk menghindari potensi dampak negatif yang bisa muncul menjelang musim be­lanja Natal. Dia juga menyatakan sikap ini akan membuat Tiongkok lebih terdo­rong untuk mencapai kesepakatan.

Jalur Perdagangan

Terkait dampak resesi bagi Indonesia, peneliti Indef, Aryo DP Irhamna, menga­takan kemungkinan krisis akan terjadi melalui jalur perdagangan yang akan berdampak pada depresiasi rupiah. Oleh karena itu, kinerja neraca perdagangan harus benar-benar menjadi perhatian, yakni dengan serius mengurangi impor barang konsumsi terutama barang yang bisa diproduksi di dalam negeri.

“Tapi kenapa impor barang konsum­si terus naik, dan terus dibiarkan,” papar dia, ketika dihubungi, Rabu.

Menurut Aryo, masalah impor Indo­nesia terkait erat dengan praktik perburu­an rente yang belum terlihat upaya serius untuk memberantasnya. Solusi utamanya terletak pada seberapa besar komitmen pemerintah untuk mengendalikan impor, serta membangun kemandirian nasional. “Soal pemburu rente ini adalah masalah vital bagi upaya kita dalam mengadang krisis ekonomi. Jangan sampai defisit transaksi berjalan dan defisit neraca per­dagangan membuat kita tak punya ke­kuatan mengadang krisis,” tukas dia. SB/YK/WP

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment