Gagasan dan Pesan Keberagaman Gus Dur | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 27 2020
No Comments

Gagasan dan Pesan Keberagaman Gus Dur

Gagasan dan Pesan Keberagaman Gus Dur

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Buku ini mengurai panjang lebar kisah hidup almarhum Gus Dur, panggilan akrab almarhum KH Abdurrahman Wahid, yang penuh dengan inspirasi dan keteladanan. Meski telah tiada, hingga kini gagasan dan pesan-pesannya terlebih berkaitan dengan keberagaman masih terus menggema.

Lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 7 September 1940, Gus Dur meninggal di Jakarta pada 30 Desember 2009 dalam usia 69. Putra pertama (enam bersaudara) KH Wahid Hasyim dan Nyai Solichah ini juga cucu KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (hlm 21–22). Tokoh bangsa ini telah menginspirasi banyak orang dari berbagai kalangan.

Kiai yang unik tersebut juga banyak mengumandangkan pluralisme. Dia terus memperjuangkan keberagaman atau perbedaan negeri ini. Melalui semangat pluralismenya, Gus Dur senantiasa mengajak masyarakat untuk menghargai dan mengormati setiap perbedaan. Bagi Gus Dur, untuk memiliki sikap-sikap pluralis, setiap orang perlu mengubah cara pandang dan pola pikir dalam memahami perbedaan. Perbedaan harus dirawat dan hargai, bukan malah diancam.

Melalui pluralisme, setiap orang mestinya bisa membangun dialog dan kerja sama, terutama mengatasi masalah-masalah kemanusiaan (hlm 121–122).

Buku ini menguraikan sederet gagasan, sikap, dan pesan pluralisme Gus Dur yang dapat direnungi dan teladani bersama, di antaranya Gus Dur berusaha mengedepankan sikap sabar dan pemaaf saat menghadapi orang-orang yang membenci, menzalimi, dan berusaha menjatuhkan martabatnya.

Masih hangat di ingatan ketika menjelang Pemilu Legislatif 2004, beredar video menghebohkan dengan judul Gus Dur Dibaptis. Waktu itu sebenarnya Gus Dur tahu dalang di balik berita yang menyudutkan dan mencemarkan nama baiknya, tetapi dia diam dan menyikapinya dengan sabar, bahkan memafkannya.

Gus Dur tak mau dibuat repot dengan masalah yang tidak substansial dan cenderung menghambat perjuangannya. Omongan “gitu aja kok repot” menjadi bukti bahwa Gus Dur memandang sederhana setiap persoalan (hlm 123).

Pesan keberagaman lainnya yang pernah digaungkan, dia berusaha hati-hati menilai agama orang lain. Hal ini penting dipahami karena Indonesia dihuni penduduk yang sangat beragam baik ras, bahasa, agama, maupun keyakinan.

Ketidakhati-hatian dalam menilai agama orang lain akan membuat keadaan menjadi kacau serta rentan menimbulkan perpecahan. Gus Dur pernah mengingatkan, kebaikan selamanya akan tetap bernilai sekalipun pelakunya berbeda keyakinan. Kebaikan yang diperbuat oleh seseorang tidak akan menjadi buruk hanya karena pelakunya tak seagama.

Maka, setiap orang wajib menghargai dan menghormatinya (hlm 148). Pesan keberagaman Gus Dur selanjutnya yang perlu direnungi bersama, untuk menegakkan agama dalam suatu negara tidak harus selalu dilakukan dengan mendirikan agama negara. Indonesia adalah bangsa majemuk.

Masyarakatnya terdiri dari berbagai perbedaan. Semuanya harus dilindungi negara. Menurutnya, Indonesia bukanlah negara agama, tetapi negara yang beragama (hlm 136).

Buku ini tak hanya menyajikan biografi, gagasan, dan pesan keberagaman Gus Dur, tapi juga mengulik sifat humorisnya saat berhadapan dengan berbagai persoalan.

Salah satunya, ketika didemo untuk mundur dari Presiden, dia berusaha tenang dan menjawab tuntutan mereka dengan cukup jenaka. “Sampean ini bagaimana. Saya maju saja harus dituntun, kok malah disuruh mundur.”

Diresensi Sam Edy Yuswanto, Alumnus STAINU Kebumen

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment