Gembira Melestarikan Permainan Tradisional | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 6 2019
No Comments

Gembira Melestarikan Permainan Tradisional

Gembira Melestarikan Permainan Tradisional

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Komunitas Hong menjadi oase permainan tradisional di tengah gempuran permainan modern.

Permainan tradisional tidak sekadar media permainan anak-anak. Di dalamnya terkandung nilai-nilai kehidupan. Komunitas Hong melestarikan permainan tradisional di tengah gempuran permainan modern di masyarakat.

Egrang, benteng sodor atau gobak sodor, boi-boian, bentik merupakan permainan tradisional yang telah dikenal dari masa ke masa.

Permainan yang dulu sangat favorit bagi anak-anak. Permainan yang banyak mengandalkan gerak fisik ini mampu membangun karakter anak bahkan melatih rasa sosial. Salah satu alasannya, karena permainan tidak dapat dimainkan seorang diri melainkan harus berpasangan dengan teman lainnya.

Barangkali hal tersebut menjadi satu keistimewaan permainan tradisional di bandingkan permainan modern. Lantaran permainan modern umumnya dimainkan secara inidivial. Sedangkan permainan tradisional harus dipermainakn secara beramairamai.

“Kalau dalam permainan tradisional dimainkan banyak orang. Itu tujuannya bukan untuk kemenangan,” ujar Indra Kristiawan, instruktur permainan di Komunitas Hong yang ditemui di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Minggu (28/8).

Ada makna yang lebih mendalam. Permainan yang dilakukan bersama-sama akan lebih memahami kemampuan diri sendiri, lingkungan dan Tuhannya. Seperti dalam permainan daun yang menggunakan daun kelapa, nangka maupun bambu. Pemain akan mendapatkan nilai alamiah melalui daun yang digunakan sebagai media main.

Alhasil, mereka akan mengenal lingkungan sekitarnya selanjutnya mengenal Tuhan sebagai Maha Pencipta. “Dengan permaian tradisional banyak sekali nilai-nilai kehidupan yang kita ambil, seperti malatih sabar atau fokus,” ujar laki-laki yang berprofesi sebagai koki ini.

Selain dimainkan secara komunal, permainan tradisional menjadi cara untuk mendekatkan diri pada alam. Karena selama permainan anak-anak akan bersentuhan langsung dengan air, tanah, daun maupun benda –benda alam lainnya.

Untuk itulah, permainan tradisional tidak dapat dipindahkan dalam aplikasi teknologi informasi. Karena pengalihan ke software akan menghilangkan esensi permainan tersebut, terutama bersentuhan langsung dengan alam.

Pada dasarnya permainan tradisional dari satu daerah dengan daerah lainnnya memiliki kesamaan. Perbedaannya hanya terletak pada penamaannya saja.

Di sisi lain, permainan tradisional juga turut melestarikan bahasa, terutama bahasa daerah. Karena, penamaan bahkan lagu yang mengiringi permainan menggunakan bahasa daerah.

Komunitas Hong merupakan komunitas untuk melestarikan permainan tradisional. Saat ini, komunitas yang berdiri pada 2003 telah memiliki anggota sekitar 100 orang mulai anak kecil hingga manula.

Mereka memberikan kontribusi sesuai kemampunan yang dimilikinya, seperti sebagai penari, pemain musik, pengelola yayasan bahkan koki penyaji makanan tradisional seperti Indra.

Komunitas Hong menjadi oase permainan tradisional di tengah gempuran permainan moderen. Setiap harinya, mereka menerima anak-anak sebanyak kurang lebih 200 anak untuk bermain permainan tradisional.

Melalui permainan tradisional yang telah terkumpul, komunitas memperkenalkan permainan tradisional pada anak-anak dibantu sejumlah instruktur. Saat ini, komunitas yang berada di Bandung dan Subang masih menerima kunjungan dalam bentuk rombongan setiap Senin sampai Jumat. din/E-6

Permainan Kebersamaan, Diakui Dunia

Rasa bangga menjadi alasan anggota Komunitas Hong untuk menekuni permainan tradisional. Mereka tak menyangka permainan yang sebagian telah dikenal sejak kanak-kanak memiliki makna untuk kehidupan keseharian bahkan mendapat tempat terhormat di negeri orang.

Aditia Rachman, 29, Instruktur Permainan di Komunitas Hong tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya saat bercerita permainan tradisional.

“Bangga, permainan dari daerah saya dikenal lagi dilestarikan lagi,” ujar dia singkat. Lantaran, permainan yang dikenalnya sejak kanak-kanak memiliki makna yang luas dalam kehidupan masa kini.

Aditia yang menikmati permainan tradisional pada masa kecilnya mengaku bahwa permainan tersebut memiliki perbedaan dibandingkan permainan moderen seperti saat ini.

Permainan tradisional menuntut pelakukanya untuk bersentuhan langsung dengan air maupun darat. Seperti saat bermain dengan ban bekas, mereka akan menyentuh langsung ban tersebut. Hal tersebut yang tidak ditemukan pada permainan moderen, seperti gadget.

Sementara, Iis, 45, ibu rumah tangga mengatakan permainan tradisional merupakan permainan yang penuh filosofi, empati maupun kebersamaan.

“Seperti, saya menitipkan sebagian badan saya di badan mbak lalu sebagian lagi di badan saya, sebagai bentuk kerja sama,” ujar dia menjelaskan salah satu makna permainan tradisional.

Setelah berkunjung ke negeri Belanda beberapa waktu lalu, Iis makin ingin melestarikan permainan tradisional. Terlebih di salah satu sekolah di negeri kincir angin tersebut menyimpan egrang, salah satu permainan tradisional dalam negeri, sebagai alat main. Satu pemandangan yang hampir tidak pernah dijumpai di sekolah-sekolah di dalam negeri.

Meskipun ada rasa bangga, permainan tradisional dihargai di negeri orang namun terselip rasa khawatir dalam dirinya. Jangan-jangan, kalau permainan tradisional makin tidak dikenal maka tidak mustahil anak cucu harus mempelajarinya di negeri orang.

Untuk itu, ia terus menyuarakan supaya permainan tradisional terutama di lingkungan tempat tinggalnya. Supaya, permainan tradisional tidak dianggap remeh.

Hingga hari ini, permainan tradisional telah diakui oleh dunia. Selain itu, Permainan yang tidak mengutamakan pihak yang menang dan yang kalah melainkan untuk kebersamaan. din/E-6

Merawat 2.600 Permainan Klasik Nusantara

Komunitas Hong tidak membuat permainan tradisional baru. Melainkan, mereka berupaya melestarikan dan menggali permainan tradisional yang terdapat di seluruh pelosok negeri.

Permainan tradisional tersebut biasanya ditemukan Mohammad Zaini Alif, Pendiri Komunitas Hong saat berada di sejumlah daerah. Dia akan mendokumentasikan permainan kemudian membagi ke anggota komunitas untuk dipelajari.

Seperti saat berkunjung ke Baduy Dalam. Lantaran daerah tersebut tidak memperbolehkan pengambilan gambar, Zaini membawa tim gambar untuk mendokumentasikan permainan.

“Lalu di share ke anggota untuk dipelajari,” ujar Indra. Masing-masing anggota membutuhkan waktu yang berbedabeda dalam menyerap permainan baru. Mereka biasa berlatih dalam waktu tertentu atau bersamaan dengan pelatihan yang dilakukan sebelum memenuhi undangan suatu acara.

Hingga saat ini, Komunitas Hong telah mendokumentasikan atau merawat sebanyak 2600 permainan tradisional di seluruh pelosok Tanah Air. Serta sebanyak 400 permainan merupakan permaian tradisional yang terdapat di sejumlah negara.

Setelah dipelajari, Indra menyimpulkan bahwa pada dasarnya permainan tradisional memiliki kesamaan antara satu dengan yang lainnya. “Kadang permainan itu hanya beda lokasi dan beda nama,” ujar dia.

Di jaman yang sarat dengan teknologi, permainan tradisional menjadi penyeimbang permainan modern. Karena permainan tradisional membutuhkan semua gerak tubuh dan dimainkan secara personal.

Berbeda dengan perminan moderen yang bisa dimainkan secara individual dan cukup mengandalkan gerakan tangan. “Awalnya, anak-anak akan terlihat kaku, namun setelahnya mereka akan terlihat enjoy,” ujar Indra tentang pengalaman mendampingi anak-anak dalam bermain dengan sejumlah permainan tradisional.

Rasa takut pada awal permainan pun sirna berganti dengan suka cita penuh gelak tawa. Alhasil dengan permainan tradisional, anak-anak akan diingatkan kembali tentang kelestarian alam bahkan kebersamaan antara sesema manusia. din/E-6

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment