Hilangkan Perpeloncoan Siswa | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 6 2019
No Comments

Hilangkan Perpeloncoan Siswa

Hilangkan Perpeloncoan Siswa

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Duka menyelimuti keluarga siswa SMATaruna Palem­bang. Di tengah kegembiraan para orangtua di selu­ruh Tanah Air karena pada HariSenin (15/7) mereka mengantar putera puteri ke sekolah, sebab itu hari pertama sekolah setelah libur panjang kenaikan kelas dan proses penerimaan siswa baru. Keluarga siswa bernama Delwyn, justru amatsedih dan terpukul, karena putera kesayangan mereka harus meregang nyawa, ironisnya di sekolah tempat Delwyn Berli Julindro menuntut ilmu untuk kali pertama.

Delwyn meninggal dunia saat masa orientasi seko­lah (MOS) pada Sabtu (13/7). Setelah divisum dokter RS Bhayangkara Palembang, ditemukan tanda-tanda keke­rasan di dada dan resapan darah di kepala akibat hantaman benda tumpul.

Kapolda Sumsel Irjen Pol. Firly mengatakan pelaku peng­aniayaan bernama Obi Prisman (24 tahun) ditetapkan seba­gai tersangka. Penetapan status tersangka diputuskan sete­lah polisi melakukan penyelidikan mendalam 26 jam dan menggelar rekontruksi kejadian perkara.

Tersangka memukul korban dengan sebatang bambu ka­rena tersinggung dengan ucapan korban. Tersangka dijerat Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlin­dungan Anak Pasal 80 dan Pasal 70 dengan ancaman hu­kuman 15 tahun kurungan.

Kasus ini bukan saja sangat memprihatinkan tetapi men­jadi peringatan terakhir bagi institusi pendidikan mulai tingkat dasar hingga pendidikan tinggi. Korban-korban me­ninggal sebelumnya dalam kasus perpeloncoan dan terak­hir yang menimpa Delwyn harus menjadi pelajaran penting. Ini tidak boleh terjadi lagi, sebab institusi pendidikan bukan untuk ajang perpeloncoan tetapi tempat menuntut ilmu dan mengembangkan karakter peserta didik. Jadi, jauhkan per­pleoncoan, hilangkan kekerasan, dan mulai tumbuhkan ke­nyamanan dan kondisi yang memungkinkan peserta didik menuntut ilmu dengan baik.

Terkait jatuhkan korban­tewas siswa Sekolah Taruna di Palembang ini, Wakil Ke­tua Komisi X DPR bidang pendidikan, Reni Marlinawati dalam keterangan persnya mengingatkan, Masa Penge­nalan Lingkungan Sekolah (MPLS) ataupun Masa Ori­entasi Sekolah (MOS) jangan keluar dari koridornya. Pe­merintah harus memastikan tidak ada perploncoan dalam MPLS sebagaimana tertuang dalam Peremendikbud No 18 Tahun 2016 tentang Pen­genalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru.

Begitu juga Menteri Pen­didikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Ef­fendy menegaskan tidak boleh ada perpeloncoan terhadap siswa baru, terutama pada masa pengenalan lingkungan se­kolah.

Muhadjir kemudian memuji program kakak asuh dan adik asuh yang diterapkan di SD Muhammadiyah 5 Jakarta ketika mengunjungi sekolah tersebut. Menurutnya, dengan program itu, siswa senior dilatih untuk bertanggung jawab terhadap siswa junior yang baru masuk sekolah.

Sekali lagi kita ingin mengingatkan semua kalangan pen­didikan, juga peserta didik bahwa perpeloncoan di Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) merupakan sisa dari kolonialisme. Untuk itu, sekolah harus menghindari praktik berbau kekerasan ini.

Sekolah, dan pihak terkait harus tegas terhadap indi­vidu, termasuk para pendidik yang melakukan kekerasan baik dalam masa pengenalan maupun dalam proses belajar mengajar.

Kita harus melihat ke depan bahwa tantangan dunia pen­didikan kita sangat besar. Negara maju sudah jauh mening­galkan kita, sementarakita masih terjebak urusan perpelon­coan yang berpotensi menimbulkan korban jiwa.

Dunia pendidikan kita harus diarahkan untuk mengejar ketertinggalan dan memajukan sumber daya manusia Indo­nesia agar bangsa kita mampu bersaing dengan negara-ne­gara yang sudah maju. Kita bisa mencapai itu karena potensi besar yang ada pada generasi muda kita.

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment