Koran Jakarta | October 16 2019
No Comments

Idul Adha sebagai Momen Mengorbankan Egoisme

Idul Adha sebagai Momen Mengorbankan Egoisme
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Agar Anda Bahagia Jadi Hamba Allah
Penulis : M Dhiyauddin Kushwandi
Penerbit : Qaf
Cetakan : November 2018
Tebal : 298 halaman
ISBN : 978–602- 5547-33

Hari Raya Idul Adha bukanlah sekadar perayaan ritual, tapi proses untuk mendekat kepada Allah. Maka dia sering disebut Idul Kurban, yang secara literal berarti kem­bali mendekatkan diri kepada Allah. Cara efektif untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengorbankan ego yang secara simbolik ditampilkan dengan mengorbankan hewan untuk didermakan.

Maka, orang akan menjadi altruis dan humanis. Dia akan mencintai semua manusia dan membalas setiap kebaikan dengan yang lebih, bahkan membalas keburukan dengan kebai­kan. “Ia laksana pohon yang lebat buahnya, dilempar orang dengan batu, dibalasnya dengan buah. Dia selalu berjuang dengan tidak takut cacian manusia serta rela berkorban demi ke­selamatan semua makhluk,” (hlm 21).

Mencintai sesama adalah inti ajaran semua nabi. Agama itu umpama po­hon. Cinta itu air yang menghidupkan akar, batang, ranting, daun, bunga, dan buah kehidupan. Cinta adalah ajaran fundamental Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad. Sayang, karena ulah manu­sia, agama direduksi seperti pohon yang dibonsai. Akibatnya, esensi agama mati.

Kumpulan kepercayaan, ritual, seremoni, ajaran yang kaku, keras, kering, dan gersang harus ditinggal­kan. Sebab alih-alih menjadi rahmat, malah menjadi beban kemanusiaan yang memberatkan. Bahkan sering kali menjadi alasan, pemicu permusuhan, dan peperangan yang menghancurkan peradaban.

Begitu juga dalam konteks Idul Adha, jangan hanya berhenti pada seremonial. Menyelami agama jangan hanya di pinggiran atau permukaan. “Itulah maksud dari pesan Al Quran, udkhuli fis silmi kaffah. Artinya, masuklah dan menyelamlah dalam Islam secara total, jangan setengah-setengah,” (hlm 231)

Ketika Idul Adha dirayakan secara holistis, orang akan merasa dekat de­ngan Allah. Hatinya selalu damai. Dia tidak pernah takut lagi. Sebab ketakut­an biasanya terkait dengan masa de­pan. Sedangkan orang yang dekat Allah selalu setia kepada-Nya. Orang yang dekat dengan Allah tenggelam dalam rasa syukur di segala keadaan.

Kedekatan dengan Tuhan mem­buatnya merasa tidak lebih baik dari siapa pun. Tidak ada orang baik yang merasa paling baik. Merasa paling baik adalah jelek. Tiada orang suci merasa suci. Merasa suci adalah sombong.

Kondisi hati orang yang sukses merayakan Idul Adha akan riang dan teduh dipandang. Dunia akan terasa terang, indah, sejahtera, dan penuh kebahagiaan. Kebahagiaan dan pende­ritaan adalah pilihan. Semua tergan­tung pada kondisi hati. Orang yang bersih rohaninya tidak akan pernah menyalahkan orang lain atas derita yang dialami (hlm 49).

Para pahlawan adalah manusia yang berjiwa besar. Hidup mereka ti­dak hanya untuk kepentingan sendiri, tetapi kemanusiaan. Sesungguhnya, semua pengorbanan adalah bukti cinta kepada Tuhan. Allah pun sangat mencintai.

Maka, Idul Adha adalah penyerahan diri total kepada Allah. Merayakannya berarti berproses menjadi hamba Allah. Dia telah merdeka dari ikatan-ikatan egoisme yang menjadi sekat hubung­an vertikal maupun horizontal. Hidup bukan lagi hanya untuk menyembah, tetapi sebagai persembahan kepada Allah melalui pelayanan penuh kasih kepada sesama. Diresensi Habibullah, Alumnus Pascasarjana UIN Malang

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment