Koran Jakarta | September 18 2019
No Comments

IFC Gencar Sosialisasikan “Green Building”

IFC Gencar Sosialisasikan “Green Building”

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

YOGYKARTA – International Finance Corporation (IFC) makin gencar mensisialisasikan konsep bangunan ramah lingkungan atau green building di Indonesia. Saat ini, pe­ngembangan green building menjadi salah satu fokus pem­biayaan anggota kelompok Bank Dunia tersebut.

Green Buildings Program Leader IFC Indonesia, Sandra Pranoto mengungkapkan IFC bekerja sama dengan lebih dari 2.000 institusi bisnis di seluruh dunia, menggunakan modal, keahlian, dan pengaruh untuk menciptakan pasar dan peluang di area tersulit di dunia. Pada tahun fiskal 2018, IFC menyalurkan lebih dari 23 miliar dollar AS dalam bentuk pembiayaan jangka panjang bagi negara berkembang, me­manfaatkan kekuatan sektor swasta untuk mengakhiri kemis­kinan ekstrim dan meningkatkan kesejahteraan bersama.

Dia menambahkan, di Indonesia, IFC membantu Indo­nesia sejak 2011 untuk mewujudkan bangunan ramah ling­kungan. Sebagai bagian dari Bank Dunia, IFC berkomitmen membantu negara-negara mengurangi dampak perubahan iklim.

“Awalnya kami bantu rekomendasi sejumlah peraturan untuk green building dan aturan itu sudah diterapkan di Kementerian PUPR pada 2015, Jakarta pada 2012, dan Ban­dung pada 2016,” jelas Sandra dalam sosialisasi IFC berta­juk The Future is Green Are You Ready for It? di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

IFC juga melibatkan akademisi untuk membuat modul green building untuk mata kuliah bangunan Gedung hi­jau. Saat ini, modul tersebut telah diterapkan di UI, UGM, Undip, ITB, dan ITS. Kelima perguruan tinggi itu menjadi universitas pertama di dunia yang menerapkan modul ini.

Pada kesempatan sama, praktisi bangunan hijau sekali­gus dosen Departemen Arsitektur dan Perencanaan UGM, Jatmika Adi Suryabrata mengatakan implementasi konsep green building bukanlah sesuatu yang mudah.

Jatmika menuturkan green building masih sulit menjadi hal mainstream di masyarakat karena sejumlah alasan. Per­tama, kemampuan arsitek masih minim. Kedua, masih se­dikit dari arsitek yang punya kemampuan engineeringYK/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment