Koran Jakarta | October 16 2019
No Comments
Investasi “Belt and Road Initiative”

Indonesia, Vietnam, dan Singapura Negara Paling Menjanjikan

Indonesia, Vietnam, dan Singapura Negara Paling Menjanjikan

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

SINGAPURA - Survei terbaru menunjukkan, perusahaan-perusahaan di kawasan Asia Tenggara yang mengincar proyek jalur perdagangan dan konektivitas ambisius milik Tiongkok, Belt and Road Initiative (BRI), telah menempatkan Vietnam, Singapura, dan Indonesia sebagai tiga negara paling menjanjikan untuk investasi program itu.

Survei yang dilakukan Federasi Bisnis Singapura dan perusahaan jasa profesional PwC itu menyebutkan, proyek-proyek infrastruktur yang diincar meliputi smart city, kawasan industri dan jalan. Laporan hasil survei itu diumumkan pada awal KTT infrastruktur yang berlangsung selama dua hari di Singapura.

Singapura telah memposisikan diri sebagai broker untuk berbagai proyek infrastruktur yang dibutuhkan di seluruh Asia Tenggara. Asian Development Bank memperkirakan, ekonomi kawasan itu akan membutuhkan dana sekitar 210 miliar dolar AS per tahun untuk investasi infrastruktur dari 2016 hingga 2030, untuk memastikan kawasan itu terus tumbuh.

Sementara data terbaru dari Fitch Solutions menunjukkan, Jepang telah mengalahkan Tiongkok dalam pengadaan infrastruktur di enam ekonomi terbesar ASEAN, dengan total nilai proyek sebesar 367 miliar dolar AS. Namun Beijing lebih tertarik membelanjakan investasi bernilai miliaran dolar AS untuk pengadaan kereta api dan membangun jalur kereta dalam program Belt and Road Initiative yang diluncurkan pada 2013.

Kini Tiongkok memiliki proyek-proyek itu pada lebih dari 125 negara, termasuk di Indonesia. Tetapi rencana Tiongkok tersebut dikritik oleh berbagai negara. Program Belt and Road Initiative dinilai sebagai alat untuk memerluas ambisi geopolitik Beijing pada negara-negara yang menerima dana untuk pembangunan infrastruktur lewat jalan “perangkap utang”.

Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dalam pertemuan dengan para pemimpin dunia di Forum Belt and Road kedua di Beijing, April lalu, telah menjanjikan program itu akan memberi keuntungan bagi seluruh negara peserta, dan Tiongkok akan memberi perhatian yang lebih besar untuk keberlanjutan proyek itu.

Dalam pidatonya di forum tersebut, Presiden Bank Investasi Infrastruktur Asia, Jin Liqun, menekankan perlunya pendekatan yang lebih alami dalam proyek infrastruktur Belt and Road Initiative. Sedangkan menurut para pemimpin bisnis di forum itu, Singapura dapat mengambil manfaat dari fokus Tiongkok pada pembiayaan berkelanjutan dan pertumbuhan hijau untuk program itu.

Kepala eksekutif Banyan Tree Holdings, Ho Kwon Ping, mengatakan, Singapura dapat berkontribusi melalui keahliannya dalam teknologi negara pintar untuk mendukung pembangunan infrastruktur. “Kami tidak hanya dapat menawarkan banyak layanan ke negara-negara berkembang, tetapi juga ke kota-kota di masa depan,” katanya. 

 

SCMP/SB/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment