Koran Jakarta | September 18 2019
No Comments
Politik Eropa

Inggris Terancam Kekurangan Bahan Pokok Setelah Brexit

Inggris Terancam Kekurangan Bahan Pokok Setelah Brexit

Foto : TOLGA AKMEN/AFP
WARGA LONDON - Aktivitas warga di Jembatan Westminster, London, Inggris, beberapa hari lalu. Kebutuhan bahan pokok Inggris bakal berkurang apabila Brexit tanpa kesepakatan.
A   A   A   Pengaturan Font

LONDON - Inggris diperkirakan akan menghadapi kekurangan bahan pokok, seperti bahan bakar, makanan, dan obat-obatan serta aksi protes di perbatasan antara Irlandia dan Irlandia Utara jika harus meninggalkan Uni Eropa atau British Exit (Brexit) tanpa kesepakatan (no deal) pada Oktober mendatang. Demikian laporan The Sunday Times yang diperoleh dari sebuah dokumen rahasia pemerintah Inggris seperti dikutip sejumlah media pada Minggu (18/8).

Menurut laporan yang disusun oleh Home Office Inggris, sebanyak 85 persen armada transportasi truk menggunakan saluran penyeberangan utama yang mungkin tidak siap untuk menghadapi bea cukai Prancis. Hal itu berarti gangguan di pelabuhan berpotensi akan berlangsung hingga tiga bulan sebelum arus pengiriman pulih. Kondisi itu diperkirakan akan menyebabkan kekurangan bahan bakar, makanan dan obat-obatan.

“Jika Brexit tanpa kesepakatan benar-benar terjadi, akan mengakibatkan protes dan penyumbatan jalan di perbatasan antara provinsi Inggris di Irlandia Utara dan Irlandia” kata berkas tersebut.

Disebutkan, dokumen pemerintah Inggris tersebut disusun pada bulan ini oleh Kantor Kabinet Inggris di bawah nama sandi Operation Yellohammer. “Mereka menawarkan pandangan berbeda dalam perencanaan rahasia pemerintah untuk mencegah keruntuhan bencana dama infrastruktur negara,” demikian tulis Times mengenai dokumen tersebut.

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson telah berulang kali berjanji bahwa negara tersebut akan meninggalkan UE pada 31 Oktober, dengan atau tanpa kesepakatan. Malah, pada awal pekan ini, ia juga memberitahukan kepada Presiden Prancis, Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman, Angela Merkel bahwa parlemen Westminster tidak dapat menghentikan Brexit.

Johnson telah berada di bawah tekanan dari politisi di seluruh spektrum politik Inggris untuk mencegah Brexit yang dilakukan tanpa kesepakatan. Bahkan, pemimpin oposisi negara itu, Jeremy Corbyn bersumpah untuk menjatuhkan Johnson pada awal September untuk menunda Brexit.

 

Membawa Bencana

 

Para penentang Brexit mengatakan bahwa keputusan Inggris keluar dari UE tanpa kesepakatan akan membawa bencana bagi negara yang dulunya dikenal sebagai negara demokrasi paling stabil di Barat.

Bahkan, dengan keputusan tersebut, mereka menilai hal itu akan melukai pertumbuhan global, mengirimkan gelombang kejutan bagi pasar keuangan dan melemahkan London yang selama ini diklaim sebagai pusat keuangan terkemuka di dunia.

Sebelumnya telah dilaporkan bahwa ekonomi Inggris telah bergerak melambat sejak pemungutan suara pada Juni 2016 untuk meninggalkan UE. Tingkat pertumbuhan tahunan turun dari lebih dari 2 persen.

Para pendukung Brexit mengatakan mungkin akan ada gangguan jangka pendek dengan keluarnya Inggris dari UE tanpa kesepakatan. Namun, Inggris dapat lebih berkembang jika terbebas dari UE. 

 

AFP/SB/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment