Koran Jakarta | August 19 2019
No Comments
PERADA

Jalan Kasih Ibu Teresa

Jalan Kasih Ibu Teresa

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

 

 

Orang mengibaratkan pengaruh kebaikan Ibu Teresa seperti pendar di atas air yang tenang. Tindakan kebaikan yang dia tanam tidak revolusioner. Dimulai dari kebaikan hati, ditanam di wilayah Calcutta India, seorang diri, lalu perlahan menyebar dan menjadi tarekat Misionaris Cinta Kasih yang memiliki sedemikian banyak pengikut yang berkhidmat di seluruh dunia.

Dia penganut Khatolik. Namun, kebaikannya menyentuh penganutpenganut agama lain. “Berbicaralah kepada orang lain, saudara saudari dan orang-orang yang bekerja bersama mereka. Ada yang Khatolik. Ada yang tidak Khatolik. Tetapi, sapalah orang tanpa pandang bulu. Anda akan tahu apakah jalan itu ketika anda melihantnya. Sesuatu yang sangat indah,” katanya (hlm ix).

Jalan hidup Ibu Teresa disarikan dalam enam hal, yaitu iman, cinta, doa, damai, keheningan dan pelayanan. Enam hal tersebut merupakan siklus yang tak bisa dipisah. Tanpa hati yang damai, tak mungkin manusia bisa mewujudkan kedamaian bagi sesama. Kedamaian tersebut tak mungkin diraih dalam suasana hingar bingar. Hingar bingar hanya membuahkan hati yang mengeras.

Tidak ada Tuhan dalam hati yang membatu. Sebaliknya, buah dari kesunyian adalah peribadatan. Buah dari peribadatan adalah keyakinan. Buah dari keyakinan adalah kecintaan. Buah dari kecintaan adalah pelayanan. Buah dari pelayanan adalah perdamaian. Rasa kemanusiaan Ibu Teresa berbasis pada iman kepada Tuhan.

Aspek cinta yang menggerakkan Ibu Teresa bersumber kepada keimanan yang berhasil dia manifestasikan ke ranah humanis. Dia berprinsip dimensi keimanan kepada Tuhan sejajar dengan kecintaan kepada manusia sebagai mahluk Tuhan. Pelayanan yang dilakukan awalnya difokuskan pada puluhan ribu orang termarginal secara sosial karena faktor kemiskinan dan penyakit.

Ribuan pengidap HIV dia kunjungi, diajak berbincang, dipeluk dan dimaikan hatinya. Dia juga membangun rumah sakit gratis untuk mengobati orang sakit. Masyarakat Hindu dengan senang hati mempersilahkan Ibu Teresa membangun rumah di sakit di halaman tempat ibadah mereka. Dia juga membuat tempat tinggal untuk mereka yang tuna wisma.

Ada kisah menarik dari keluarga Omer Ahmed, keluarga muslim India, yang seluruh saudara-saudarinya disekolahkan di sekolah Katolik di Loretto, tempat Ibu Teresa mengajar dari 1930-1940-an. Bertahun-tahun keluarga Omer Ahmed mendukung karya Misionaris Cinta Kasih. Omer Ahmed adalah seorang produser film.

Dia mewawancarai Ibu Teresa sebagai film dokumenter tentang perjuangan Ibu Teresa. Sosok semacam Ibu Teresa tampak sebagai anomali di tengah arus kehidupan individualis dalam berbagai sektor saat sekarang ini.

Saat orang memilih menjauhi pengidap penyaikit AIDS, membuang mereka ketempat pengasingan karena berbagai alasan, justru Ibu Teresa dengan lapang dada memeluk mereka dan bersentuhan langsung tanpa alingaling. Dia juga bersedia tinggal dan berbaur bersama mereka.

 

Peresensi, Muhammad Aminulloh, Alumnus STAI Al-Khoziny Buduran Sidoarjo

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment