Koran Jakarta | November 12 2019
No Comments
Museum Bank Indonesia

Jejak Ketangguhan Ekonomi Indonesia

Jejak Ketangguhan Ekonomi Indonesia

Foto : Koran Jakarta/Wahyu AP
A   A   A   Pengaturan Font

Setiap periode waktu tertentu, Museum Bank Indonesia menyajikan ilustrasi dan penggambaran peristiwa ekonomi moneter yang terjadi dari masa ke masa.

Museum bukan sekadar gedung untuk mem­bangun kenangan. Sejatinya, museum adalah bangunan untuk memberi penghargaan tertinggi pada sejarah. Bahkan, museum adalah lambang prestasi.

Ya, bagi generasi zaman now atau generasi modern, prestasi itu penting karena bagian dari eksistensi. Maka sumber ruang bagi orang untuk belajar tentang pres­tasi itu ada di museum. Jadinya, museum adalah sumber tempat belajar.

Museum juga merupakan salah satu bukti peradaban sebuah kota. Karena itu, keberadaan museum-museum yang ada di Indonesia ha­rus mendapat perhatian yang baik.

Nah, di Jakarta, ada museum yang memotret dan “menghidup­kan” imajinasi masa silam tentang perkembangan perekonomian Indonesia. Namanya Museum Bank Indonesia. Negeri ini memiliki sejarah panjang dan teruji dalam melewati berbagai tekanan dan krisis ekonomi.

Rekam jejak ketangguhan perekonomian Indonesia secara utuh bisa ditemukan jejaknya di Museum Bank Indonesia atau MBI ini. Museum ini berada di kawasan Jakarta Kota. Daerah ini sebenarnya hanya bagian kecil dari wilayah Ke­camatan Taman Sari, Jakarta Barat. Tapi, kata Jakarta yang mendahu­luinya membuat kawasan ini terasa istimewa.

Kota memang daerah yang is­timewa. Wilayah ini menjadi surga bagi penikmat museum dan seja­rah. Ada banyak cerita sejarah di tiap tiap bangunan-bangunan kuno di kawasan tersebut. Selain Mu­seum Sejarah Jakarta yang sudah masyur, salah satu museum yang wajib di kunjungi saat berada di kawasan kota tua adalah Museum Bank Indonesia.

Diresmikan 21 Juli 2009 oleh Presiden Susilo Bambang Yudho­yono, MBI menjadi wahana edukasi yang menyenangkan dan modern untuk memahami persoalan dan perkembangan ekonomi di Indo­nesia. Suatu tema yang sebenar­nya terasa cukup berat. Termasuk mengenai sejarah Bank Indonesia itu sendiri.

“Kalau kita bilang pertama, MBI ini adalah tools. Sarana. Jadi menjadi sarana untuk mengko­munikasikan berbagai kebijakan ekonomi pada publik, kebijakan BI apa saja yang dikeluarkan buat ekonomi Indonesia. Tapi intinya pertama, ya itu tadi, komunikasi kebijakan. Kedua, itu edutaiment and fun, karena museum kan tetap harus memberikan rasa yang me­nyenangkan. Itu saja semangat dari keberadaan museum BI ini,” terng Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Onny Widjanarko.

Gambaran Utuh

Secara umum, MBI dibagi dalam tiga klaster. Yakni klaster kelem­bagaan, klaster numismatik, dan juga klaster heritage. Masing-ma­sing klaster memiliki ciri khas. Misalnya klaster kelembagaan yang menginformasikan perjalanan Indonesia dari sisi ekonomi. Klaster numismatik memajang koleksi uang-uang kuno. Sedangkn klaster heritage membawa pengunjung pada sejarah gedung.

Secara keseluruhan, MBI memberikan gambaran utuh ba­gaimana kegiatan perekonomian berkembang di Indonesia dengan menarik rentang sejarah dari masa perdagangan rempah di nusantara hingga era program perekonomian modern. Museum menjelaskan saat masyarakat tempo dulu mulai me­ngenal uang sebagai alat jual beli dari para pedagang yang singgah di nusantara dan menghidupkan kegiatan perekonomian hingga saat ini.

Museum ini juga menjadi lam­bang ketahanan ekonomi Indone­sia dalam menghadapi berbagai krisis dan tekanan ekonomi. Gam­barannya dirunut dalam penyajian secara time series yang jelas, ring­kas namun mudah dipahami.

Yang menarik, setiap periode waktu tertentu, MBI menyajikan ilustrasi dan penggambaran peris­tiwa ekonomi yang terjadi. Ilustras­inya lengkap dengan kebijakan-kebijakan yang diambil untuk merespon setiap peristiwa.

Misalnya, saat masa-masa awal berdirinya Bank Indonesia yang dipamerkan dalam Periode 1, Menuju Negara Merdeka. Tata pamer pada periode ini ditandai dengan patung pejuang yang te­ngah memegang senjata di antara dua pohon karet.

Tata pamer ini memang meng­gambarkan kondisi Indonesia saat itu. Pascamerdeka, fokus negara masih pada soal keamanan. Pem­brontakan masih marak.

Ditengah kebutuhan negara yang besar tapi pendapat nega­ra hanya bergantung pada ekspor karet dan migas. Alhasil, sebagai kas negara, BI harus mencetak lebih banyak uang. Kebijakan ini akhirnya berdampak pada tingkat inflasi di Indonesia yang sangat tinggi. Mencapai lebih dari 600 persen.

MBI juga cukup menjelaskan secara detil berbagai langkah yang dilakukan Bank Indonesia dan pemerintah untuk menstabilkan keuangan dan perekonomian Indo­nesia saat itu hingga perekonomi Indonesia mulai membaik dan mulai terarah. Bahkan digambar­kan juga di era 1980-an hingga 1990 awal, Indonesia dijuluki Macan Asia karena perekominan yang bertumbuh dengan baik

Bersama Bank Indonesia, peme­rintah juga mengagas gerakan ayo menabung. Dana yang disimpan kemudian disalurkan dalam bentuk kredit untuk menghidupi UMKM-UMKM yang mulai berkembang di Indonesia. Semua terangkum jelas dalam sajian yang menarik.

Lalu, ada gambaran era global­isasi ekonomi di periode 1990-an. Yakni periode saat masifnya dana asing masuk ke Indonesia untuk menggerakan banyak sektor oleh pengusaha pengusaha swasta di Indonesia.

Pinjaman jangka pendek tanpa lindung nilai dan penyaluran dana yang salah kelola pada proyek-proyek jangka panjang membuat krisis ekonomi global meronto­kan perekonomian di Indonesia, digambarkan secara komprehen­sif.MBI juga mengkliping peris­tiwa Krisis multidimensi semakin memperparah bangunan ekonomi nasional. Rupiahpun terjun drastis.

Semua kondisi krisis yang dirangkum dalam periode ke 5 yakni Krisis Segala Lini (1997-1998) menggunakan latar belakang me­rah yang menunjukan kegentingan kondisi saat itu. Tak lupa sebuah mesin ATM rusak melengkapi pro­perti pameran untuk menggam­barkan peristiwa penarikan uang besar-besaran di masyarakat saat itu.

MBI juga menyajikan perkem­bangan perekonomian terbaru yang di rangkum dalam tata pamer 2012 -2016. Tata pamer ini dibuat sangat menarik. Sangat milenial. Ada berbagai permaian yang lebih fun untuk memahami berbagai kebijikan dan beragam istilah da­lam bidang ekonomi seperti inflasi misalnya.

“Kalau dibilangkan produk BI itu adalah kebijakan. Jadi kami ingin juga menginformasikan kebijakan-kebijakan yang diambil 2012-2016,” kata Onny. nik/E-6

Neo Klasik dengan Standar Keamanan Prima

Tak hanya soal bagaimana perjalanan perekonomian di Indonesia, Museum Bank Indonesia ( MBI) juga menyimpan sejarah yang tak kalah menariknya. Yakni tentang gedung yang pernah menjadi kantor pusat Bank Indone­sia hingga tahun 2000-an ini.

Rika, pemandu wisata MBI yang menemani Koran Jakarta berkeliling museum mengatakan, gedung MBI ini sendiri merupakan gedung peninggalan De Javasche Bank, yakni bank sentral pertama di Hindia Belanda. De Javasche Bank sendiri didirikan pada 1828.

“Di masa awal berdiri, De Java­asche Bank menggunakan gedung bekas binnen hospital. Binnen berasal dari bahasa Belanda yang berarti di dalam. Binnen hospital berarti rumah sakit yang berada di dalam, di dalam area benteng. Benteng Batavia saat itu,” kata Rika menjelaskan.

Seiring berkembangnya kegiat­an De Javasche Bank, kapasitas gedung bekas rumah sakit ini tak lagi memadai. Setelah melalui lima tahap renovasi besar, bangunan ru­mah sakit benar-benar di bongkar, sirna dan berganti dengan gedung baru sebagaimana yang ada saat ini. Proses secara keseluruhan hampir 100 tahun.

Adalah Eduard Cuypers, seorang arsitek Belanda yang betugas untuk merancang gedung De Javasche Bank. Oleh Eduard, gedung De Javasche Bank ini dibangun de­ngan beragam keistimewaan yang mutahir.

Eduard memasukan seni arsitektur gaya neo klasik yang dipadu dengan pengaruh lokal. Alhasil gedung ini memiliki eksterior dan interior yang menarik dan terjaga sangat baik sampai saat ini. Standar keamanan juga prima dengan lapisan baja tebal pada setiap ruangan di lantai satu yang difungsikan sebagai penyimpanan kas.

 Salah satu keindahan dari bangunan ini adalah dinding pintu dan jendela yang dihiasi dengan 314 kaca patri aneka warna. Sangat cantik. Ragam hiasa kaca patri ini sendiri dibuat Atelier Jan Schouten, seorang insiyur sekaligus tukang kaca belanda.

Ragam hias dalam kaca patri tersebut menggambarkan ber­bagai peristiwa dan kegiatan antara lain dewi pelindung, kota Batavia, Surabaya, Semarang. Surabaya, dan Semarang menjadi kota kantor cabang De Javasche Bank.

Aneka hasil bumi di nusantara seperti kelapa, sagu, kapas dan lain sebagainya juga turut menjadi ide untuk hiasan kaca patri. “Kaca-kaca patri semuanya dikerjakan di Belanda. Hampir semua material bangunan memang di import dari Belanda,” Rika menambahkan.

Wastafel Kuno

Hal unik lain yang masih tersisa di gedung bekas De Javasche Bank ini adalah keberadaan wastefel kuno di ruang direksi. Bukan ka­rena sisa rumah sakit, konon keber­adaan wastafel ini terkait dengan wabah kolera yang pernah melanda Batavia. Dimana hampir sebagian besar korbannya adalah warga Belanda.

“Jadi bukan karna dulu ini adalah rumah sakit. Tapi karena direksi De Javasche Bank itu harus cuci tangan setelah bertemu orang untuk menghindari wabah kolera,” kata Rika.

Wastafel ini sendiri lokasinya cu­kup tersembunyi. Yakni berada di salah satu bilik lemari panjang yang berfungsi juga sebagai pembatas antar ruangan direksi. nik/E-6

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment