Koran Jakarta | September 18 2019
No Comments
Surat Utang Negara

Jepang Geser Tiongkok Kepemilikan “US Treasury”

Jepang Geser Tiongkok Kepemilikan “US Treasury”

Foto : Sumber: Bloomberg
A   A   A   Pengaturan Font

WASHINGTON - Sejak Juni lalu, Jepang dilaporkan te­lah menjadi pemegang surat utang Amerika Serikat atau US Treasury terbesar, melampaui Tiongkok yang duduk dalam posisi pertama sebelumnya. Perkembangan itu terjadi ber­samaan dengan meningkatnya suhu perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia itu.

Menurut data yang diri­lis Departemen Keuangan AS, pekan lalu Kamis (15/8) u, Jepang meningkatkan kepe­milikan obligasi, uang kertas, dan wesel AS dari 21,9 miliar dolar AS menjadi sebesar 1,12 triliun dolar AS , level ter­tinggi yang dihasilkan dalam lebih dari dua setengah ta­hun, Sementara itu, kepemi­likan Tiongkok juga naik untuk pertama kalinya dalam empat bulan terkahir, menjadi 1,11 triliun dolar AS.

Jepang terakhir kali meme­gang posisi sebagai kreditor asing terbesar AS pada Mei 2017. Negara itu telah me­nambahkan lebih dari 100 miliar dolar AS Treasury den­gan kenaikan yang stabil sejak Oktober 2018. Menurut Pasar Modal BMO, kini US Treasury semakin diminati negara-neg­ara di dunia. Sementara pa­tokan imbal hasil 10 tahun AS telah jatuh ke level terendah sejak 2016 dalam beberapa bulan terakhir, dengan tingkat obligasi pemerintah Jepang 10 tahun saat ini negatif 0,23 per­sen.

“Pembelian yang telah kita lihat dari investor Jepang benar-benar merupakan cer­minan dari lingkungan hasil global rendah dan negatif,” kata pakar strategi BMO, Ben Jeffery.

Ketenangan dan kehati-hatian selama berbulan-bulan dalam perang dagang AS-Tiongkok pecah pada Mei lalu saat pembicaraan an­tara kedua pihak buntu. Pada Juni, AS menaikkan tarif impor pada barang-barang Tiong­kok senilai 200 miliar dolar AS, dari 10 persen menjadi 25 persen .

Gencatan senjata pada akhir Juni yang disetujui oleh Trump dan Xi Jinping, ha­nya berlangsung sekitar satu bulan setelah Trump men­gumumkan pada tanggal 1 September AS akan mengena­kan pungutan 10 persen pada hampir seluruh jenis barang impor dari Tiongkok yang be­lum terkena sanksi tarif.

Pekan lalu, Trump men­gumumkan penundaan pem­berlakuan tambahan tarif 10 persen untuk barang-barang tertentu, termasuk ponsel dan komputer jinjing, hingga 15 Desember untuk memenuhi kebutuhan belanja liburan warga AS. Namun Beijing men­gatakan tetap berencana akan membalas langkah AS itu.

Penimbunan hutang AS di Tiongkok meningkat di bawah pengawasan ketat dalam sen­gketa perdagangan, di tengah spekulasi bahwa Tiongkok akan menjual obligasi seba­gai upaya balasan. Awal bu­lan ini, AS telah secara resmi menyatakan Tiongkok seba­gai manipulator mata uang setelah yuan melemah men­jadi 7 yuan per dolar AS. SCMP/SB/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment