Jeritan Ratu Adil | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments

Jeritan Ratu Adil

Jeritan Ratu Adil

Foto : koran jakarta/Ones
A   A   A   Pengaturan Font

oleh Sindhunata

“Kapitalisme” bukanlah kata yang kita sukai. Tapi suka atau tidak, dia telah menjadi realita di negara ini. Dulu dansekarang, kritik terhadap kapitalisme terus dilontarkan. Maka timbullah wacana, daripada kapitalisme, mengapa tidak ekonomi Pancasila saja? Namun, betapa pun luhurnya gagasan ekonomi Pancasila, akhimya kapitalisme jugalah yang berjaya.


Harian Koran Jakarta ini menghangatkan kembali kritik terhadap kapitalisme, bersamaan dengan tersusunnya kabinet baru Presiden Joko Widodo. Malah, koran ini mensinyalemen, di Indonesia kapitalisme sudah menjadi kroni. Disarankan, pemerintahan Presiden Joko Widodo Jilid 2 mesti bertekad membasmi ekses yang mungkin ditimbulkan oleh kroni kapitalisme itu seperti pajak siluman dan kriminilasasi perkara perdata.


Janganlah sampai penguasa menjadi centeng para pengusaha mafia. Diingatkan pula, kronisme itu pasti akan mematikan inovasi dan lapangan kerja. Menarik, bahaya kroni kapitalisme itu masih dikaitkan dengan musnahnya keadilan di antara rakyat kecil. lnilah yang membuat rakyat ingin kedatangan Ratu Adil (Koran Jakarta, 29/30/31-0ktober 2019).


Serakah
Sejak kelahirannya, kapitalisme memang sudah membawa kontradiksi. Adalah Karl Marx yang dengan tajam menyoroti kontradiksi itu. Kritik Marx memang sempat tidak laku, ketika kapitalisme bergandengan dengan demokrasi liberal memperlihatkan kejayaannya. Namun, kritik itu kembali dimunculkan, ketika kapitalisme menimbulkan keserakahan dan ketimpangan sosial yang parah seperti terjadi akhir-akhir ini di banyak belahan dunia.


Dalam pikiran Marx, seperti dibahasakan esais Thomas Assheuer, kapitalisme itu seperti pemborong bangunan. Begitu datang di suatu tempat, batu-batu di tempat lain pun diborongnya habis. Kapitalisme mengalirkan susu dan madu di sini, tapi di sana orang hidup dengan makin sengsara. Ia membangun di suatu tempat, tapi merusak di tempat Iain. Ini semua mau mengatakan, kapitalisme hanya akan menghasilkan ketimpangan.


Jika yang satu kaya dan makmur karena kapitalisme, lainnya pasti sengsara karenanya juga. Sejak zaman imperialisme kolonial sampai sekarang selalu begitu. Negara-negara kaya makin makmur. Negara-negara miskin makin kere karena terjangan kapitalisme. Atau di suatu negara, segelintir orang hidup berlimpah, Iainnya papa dan merana karena praktik keserakahan kapitalisme.


Kapitalisme memang sulit dikendalikan karena bekerja berdasarkan mekanisme pasar yang mengharuskan persaingan kekuasaan. Logika persaingan : kalah atau menang. Akibatnya, mekanisme pasar tidak berjalan untuk menutupi atau mencukupi kebutuhan, tapi untuk meningkatkan atau memperbesar kekuasaan. Ini demi peningkatan kekuasaan, individu atau kelompok kapitalis tak segan-segan berhimpun. Tak jarang, mereka lalu merangkul pemerintah atau penguasa yang dijadikan alat mereka untuk makin memampukan bersaing meningkatkan modal dan kekuasaannya. ltulah kroni kapitalisme.


Jelas, ini sangat berbahaya. Sebab sekali lagi, mekanisme ekonomi kapitalistis berjalan semata-mata demi makin besamya kekuasaan, bukan demi mencukupi kebutuhan orang banyak. Demi kesejahteraan umum, negara semestinya mengontrol ekonomi. Tapi temyata negara diperalat demi penumpukan kuasa dan modal. Realitas ini sungguh malapetaka bagi rakyat banyak yang tidak bisa ikut dalam persaingan kapitalistis.


Kapitalisme percaya, dalam pasar ada invisible hand, yang mengatur pasar dengan sendirinya, hingga bisa bergerak dengan adil, efisien dan benar-benar mewujudkan cita-cita kapitalisme. Begitu pecah krisis moneter dan finansial, orang pun total meragukan kebenaran credo kapitalisme. Hampir dalam dekade terakhir, kepercayaan bahwa pasar itu efisien dan adil, terjun menuju titiknya yang terendah. Bahkan bankir Swiss, yang pemah menjadi CEO Deutzsche Bank, Josef Ackerman, pemah berkata, “Saya tidak percaya, pasar mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan diri sendiri.” Orang pun mulai melontarkan kata-kata sinis, jangan-jangan, tangan yang tak kelihatan itu tak kelihatan, ya karena nyatanya tangan itu memang tidak ada.


Sejak 20 tahun lalu, Francis Fukuyama meramal, sejarah akan sampai pada tujuannya. Dengan kemenangan kapitalisme dan demokrasi liberal. Ramalan itu seakan benar. Sejarah seakan selesai dengan runtuhnya sosialisme dan komunisme. Kemudian, kapitalisme liberal menjadi satu- satunya penggerak sejarah. Tapi 20 tahun kemudian, ramalan Fukuyama pun runtuh juga.


Fukuyama sendiri terpaksa mengoreksi pendapatnya. Temyata liberalisme dan kapitalisme tak mencapai akhimya. Bukan ketenteraman dan kemakmuran, malah anomali dan kekacauan yang terjadi. Di era kapitalisme ini justru merebak gejala mengkhawatirkan seperti politik identitas, populisme ekstrem, fundamentalisme , dan radikalisme. Semua ini akibat menghormati martabat manusia yang tidak diakui atau diinjak-injak.


Kehancuran Apokaliptis
Masih perlu lagi dicatat, suburnya kapitalisme dan demokrasi liberal ternyata melahirkan ketakutan. Ironisnya di zaman ini ketakutan tersebut bisa dijadikan modal untuk berpolitik. Gerakan populistis dan partai-partai kanan ekstrem tak segan-segan mendasarkan politiknya pada ketakutan itu yang sengaja di-blow-up dan dijadikan komoditi politik. Memanfaatkan ketakutan, sebuah partai atau kelompok politik bisa memperoleh suara kemenangan. Digembar-gemborkan, kelompoknya patut takut akan kelompok lain. Karena kelompok lain ini merebut kekayaannya, menyingkirkannya, dan menindas identitasnya. Itu digembar-gemborkan di bawah isu ketidakadilan, akibat kapitalisme dan demokrasi liberal.


Pelan-pelan ketidakadilan itu dirambatkan menjadi isu ras, kesukuan, dan keagamaan. Orang atau kelompok menjadi curiga, takut, dan kemudian membenci orang atau kelompok lain, hanya karena yang lain ini berbeda suku dan agamanya. Ketakutan ini lalu menjadi tanah yang subur bagi kelahiran radikalisme dan fundamentalisme. Hanya dengan kembali ke agamanya secara radikal dan fundamental, orang akan memperoleh identitas dan kekuatan untuk menghadapi atau melawan orang atau kelompok lain yang merugikan kepentingan serta harga dirinya.


Begitulah, kapitalisme temyata sudah membawa kehancuran di dalam dirinya sendiri. Tak heran, jika para pengritiknya berkata, apokalipsme itu melekat pada kapitalisme. Apokalipsme sendiri kurang lebih berarti, dunia ini akan berakhir dengan keberantakan, dan dunia baru yang sempurna sudah menanti dan siap menggantinya. Jadi, apokalipsme berkenaan dengan suatu perubahan total, semacam revolusi, yang mau menjungkirkan tatanan dunia. Mau tak mau, apokalipsme berkenaan dengan paham keagamaan yang yakin bahwa akhir zaman sudah datang. Pada saat itulah tatanan lama dijungkirkan menjadi dunia yang sama sekali baru.


Pengkritik utama kapitalisme, Karl Marx, walau bukan seorang religius, jelas-jelas memakai bahasa apokaliptis itu ketika bicara mengenai datangnya surga proletariat yang akan menjungkirkan kaum kapitalis-borjuis. Francis Fukuyama juga berbicara dengan nada yang sama, ketika bicara mengenai the end of history. Temyata salahlah ramalannya tentang akhir sejarah, di mana kapitalisme dan demokrasi liberalnya akan berjaya. Mau tak mau dia harus mengoreksi pandangan apokaliptisnya, dan berpaling pada apokalipsme baru, yakni merebaknya hasrat untuk memperoleh pengakuan diri. Ini memuncak menjadi kebencian, keirihatian, dan perpecahan kelompok identitas yang menghancurkan kapitalisme sendiri.


Kritik bemada apokalipstis itu juga pemah disampaikan Wolfgang Streeck, mantan direktur Max-Planck-Institut untuk Penelitian Masyarakat, Koln. Streeck, ekonom dan sosiolog, mengatakan, “Semua yang mempunyai awal, juga akan mempunyai akhir.” Pada 250 tahun lalu kapitalisme lahir, sekarang kapitalisme diancam oleh tiga ujung tombak yang disediakannya sendiri, yakni: pertumbuhannya yang menurun, jurang perbedaan yang terus melebar, dan utang yang terus membengkak. Tiga ancaman apokaliptis itu terkandung dalam diri kapitalisme sendiri dan ancaman itu pula yang akan menghancurkan dirinya.


Indonesia
Dalam sejarah Indonesia, salah satu kritik bemada apokaliptis terhadap kapitalisme itu paham Ratu Adil. Kritik ini bahkan lalu berubah menjadi gerakan protes yang nadanya mesianis-apokaliptis. Itu tampak dalam gerakan pemberontakan petani Jawa di abad IXX dan awal abad XX. Dalam banyak penelitian diperlihatkan, penyebab atau asal kebanyakan gerakan Ratu Adil itu ketidakpuasan rakyat terhadap ketidakadilan ekonomis.


Maklum, di zaman kolonial, penjajah mempraktikan ekonomi kapitalis, tanpa sedikit pun memperhatikan kepentingan rakyat, terutama petani. Ekonomi kapitalis itu hanya mengeksploitasi. Sendi-sendi perekonomian rakyat tidak diperhatikan, bahkan digilas. Benar kata Marx, sekali kapitalisme masuk, tidak akan menyisakan apa pun yang tidak dihisapnya.


Dari alasan ekonomis, kemudian gerakan Ratu Adil menemukan alasan baru, yakni mempertahankan identitas pribumi, lalu memberinya nada apokaliptis religius. Gerakan itu menganggap, tatanan yang ada adalah “tatanan dosa.” Maka tidak sah, tidak akan berlangsung lama, dan harus digantikan dengan tatanan yang sama sekali baru. Di sinilah gerakan Ratu Adil mendapat sifatnya yang mesianistis-apokalitptis.


Mereka yakin, akan datang zaman baru dengan tatanannya yang baru pula, yakni keadilan, kemandirian, dan kebanggaan akan identitas diri. Demi tatanan baru itu, mau tak mau tatanan lama harus ditiadakan. Dalam proses selanjutnya, gerakan itu tidak lagi mengembalikan masalahnya pada ekonomi lagi. Pegangannya total adalah keyakinan apokaliptisme sendiri.


Maka, terpisahlah gerakan itu dari inspirasinya yang semula, yakni protes sosial ekonomi, menjadi gerakan messianis-apokaliptis, yang radikal dan fundamental. Mereka hanya ingin menegakkan cita-cita dan menganggap tatanan lainnya tak berguna dan berdosa. Maka, harus dirobohkan dan ditiadakan. Untuk itu, umumnya gerakan Ratu Adil para petani Jawa menjadi pemberontakan yang berakhir dengan darah dan kekalahan belaka.


Jelas, gerakan apokaliptis yang menjadi ekstrem, radikal, dan terlepas dari konteks awalnya itu perlu dikritisi. Cara mengkritisinya, mencari alasan gerakan itu sampai muncul. Sebab umumnya akarnya ketidakpuasan ekonomis dan protes terhadap ketidakadilan. Penyelesaiannya menciptakan iklim ekonomis yang baik dan adil terhadap mereka yang tersingkirkan di era kapitalistis ini. Dalam arti ini, ada alasan yang benar dalam gerakan itu, yakni kerinduan akan tata sosial yang meratakan kesempatan dan keadilan.


ltulah kiranya alasan di balik gerakan radikal dan fundamental agama yang akhir-akhir ini merebak di antara kita. Untuk menghadapi gerakan ini janganlah kita salah resep. Jelas, tak cukuplah pendekatan yang bersifat keagamaan dan religius belaka. Maklum, akar masalahnya bukan agama, tapi ekonomi clan ketidakadilan sosial yang disebabkan kapitalisme dan kroni-kroni politiknya.


Maka, sesungguhnya para kroni kapitalisme itulah yang dituntut untuk paling bertanggung jawab dalam mengatasi masalah tersebut. Mereka perlu meredakan keserakahannya dan kembali bersama masyarakat mencari jalan bersama menciptakan keadilan dan mewujudkan ideal pemerataan sosial-ekonomis. Ini terutam di kalangan masyarakat bawah yang terjangkiti oleh radikalisme dan fundamentalisme. Itulah jeritan apokaliptis Ratu Adil terhadap kroni-kroni kapitalisme di zaman sekarang. Penulis Seorang Budayawan

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment