Kasus Novel dari Tim ke Tim | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 6 2019
No Comments

Kasus Novel dari Tim ke Tim

Kasus Novel dari Tim ke Tim
A   A   A   Pengaturan Font

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, pada 11 April 2017 diserang dua orang tak dikenal usai salat subuh berjemaah di masjid dekat rumahnya, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kedua orang yang berboncengan sepeda motor itu dengan sengaja menyiram­kan air keras ke wajah Novel. Mata kiri novel rusak 95 persen dan harus menjalani operasi berkali-kali di Singapura.

Hingga kemarin, 17 Juli 2019, meski sudah ada rekam­an CCTV dan telah memeriksa banyak saksi, Polri tak juga mampu menemukan pelaku penyerangan. Banyak anggota masyarakat menilai, Polri agak lain dalam penanganan ka­sus Novel ini. Mereka melihat, selama ini banyak kasus pelik dengan cepat dipecahkan Polri.

Dalam berbagai kasus yang oleh warga dinilai sangat su­lit seperti calon atau pelaku teror, Polri mampu menemukan persembunyiannya. Namun dalam kasus Novel ini entah mengapa, Polri belum juga menemukan pelaku. Banyak dugaan hal ini terjadi karena terkait orang kuat di belakang penyerangan Novel, barangkali dari dalam institusi tertentu. Hal itu juga beberapa kali diungkapkan Novel. Penyidik se­nior KPK ini menilai, Polri tidak serius mengungkap kasus­nya atau menangkap pelaku penyerangan dirinya.

Untuk menangkis kecurigaan atau keraguan masyarakat, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) pada 8 Januari 2019. TGPF telah me­nyelesaikan laporan pada 9 Juli 2019. TGPF terdiri dari bebe­rapa unsur Polri, KPK, dan sejumlah pakar.

Seperti telah diperkirakan Novel sendiri dan sejumlah anggota masyarakat yang meragukan hasil kerja TGPF, benar saja dari hasil kerja yang dilaporkan, TGPF praktis tidak ada kemajuan berarti. Padahal mereka bekerja selama 8 Januari sampai beberapa hari lalu. Bahkan jauh sebelum diumum­kan hasil kerja tim ini, Novel berulangkali mendesak Presi­den Joko Widodo untuk membentuk TGPF yang netral agar tidak ada tumpang tindih kepentingan.

TGPF hanya menyebutkan penyerangan terkait dengan pekerjaan Novel. Mungkin ada yang sakit hati sehingga balas dendam. Mereka ada beberapa orang yang disebut high profile. Ya, ini juga sudah banyak diduga orang. Tidak memerlukan sebuah TGPF untuk mengatakan itu. Secara faktual tidak ada yang maju signifikan yang diungkapkan tim tersebut. Kalau berani me­nunjuk atau menyebut nama, barulah ada buah dari kerja selama enam bulan tersebut.

Hasil TGPF malah mem­buat panjang penyelidikan kasus penyiraman air keras ini karena tim merekomen­dasikan untuk menindaklan­juti hasil kerjanya. Nah, untuk menindaklanjuti hasil kerja TGPF tersebut, Polri kembali membentuk tim baru. Kali ini namanya Tim Teknis La­pangan (TTL).

TTL dipimpin Kepa­la Badan Reserse Kriminal Polri, Komisaris Jenderal Id­ham Azis. “Rekomendasi tadi sudah jelas, dengan segala temuan hasil kerja 6 bulan tim pakar, direkomendasikan tim teknis lapangan yang spesifik. Teknis lapangan spesi­fik itu hanya dimiliki kami,” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Mohammad Iqbal. TTL akan bekerja maksimal enam bulan. Tapi jika masih dibutuhkan, Polri akan memperpanjang masa kerja tim tersebut. TTL akan mengejar tiga terduga penyerang Novel. TTL juga akan mendalami sejumlah perkara tindak pidana korupsi yang pernah ditangani Novel.

Mungkin Novel harus sabar untuk menunggu hasil kerja TTL maksimal enam bulan ke depan. Pertanyaannya, apa­kah kira-kira TTL yang kembali bentukan Kapolri Jenderal Tito seperti TGPF, mampu atau berani menyebut nama? Ka­lau tidak ada keberanian menyebut nama, sebaiknya ditinjau lagi pembentukan TTL agar tidak buang-buang energi.

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment