Kebergantungan Impor Konsumsi Meningkat | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments
Defisit Perdagangan I Januari–September 2019 Defisit Capai USD1,95 Miliar

Kebergantungan Impor Konsumsi Meningkat

Kebergantungan Impor Konsumsi Meningkat

Foto : Sumber: BPS – Litbang KJ/and - KJ/ONES
A   A   A   Pengaturan Font
Lesunya kinerja ekspor-impor Indonesia merupakan indikasi dari penurunan daya beli masyarakat yang berujung pada pelambatan pertumbuhan ekonomi.

 

JAKARTA – Sejumlah kalangan mengingat­kan pemerintah untuk mencermati profil defi­sit neraca perdagangan Indonesia sebesar 160 juta dollar AS pada September 2019. Sebab, di balik defisit itu justru terjadi kenaikan impor barang konsumsi, dan sebaliknya terjadi penu­runan impor bahan baku/penolong.

Kenaikan impor konsumsi yang berlang­sung dalam tren perlambatan ekonomi ter­sebut mengindikasikan bahwa kebergantung­an Indonesia terhadap barang konsumsi dari luar negeri itu semakin menguat.

Di sisi lain, penurunan impor bahan baku/pe­nolong mengisyaratkan penurunan produktivitas dan kegiatan industri pengolahan. Ini dikhawa­tirkan akan terjadi penurunan daya beli dan per­lambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Peneliti Indef, Bhima Yudhistira, menge­mukakan secara tahunan (year-on-year/yoy) impor barang konsumsi pada September 2019 naik 6,09 persen. Hal itu berbanding terbalik dengan penurunan impor bahan baku/pe­nolong sebesar 5,91 persen pada periode sama.

Padahal, lanjut dia, bahan baku merupakan faktor penting sebagai indikator kinerja dari sek­tor industri pengolahan. Penurunan impor ba­han baku mengindikasikan adanya pergeseran, pelaku industri mulai mengurangi kapasitas produksi untuk mengantisipasi pelemahan kon­sumsi domestik dan pasar ekspor utama.

“Sedangkan konsumen beralih ke produk impor dengan asumsi harga produk impor le­bih terjangkau. Ini kan bentuk shifting konsumsi ke produk yang lebih pas di saat terjadi tekanan daya beli,” ujar Bhima, di Jakarta, Selasa (15/10).

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia men­derita defisit 160 juta dollar AS pada September 2019, dari surplus 80 juta dollar AS pada bulan sebelumnya.

Secara rinci, nilai ekspor turun 1,29 persen, dari 14,28 miliar dollar AS pada Agustus men­jadi 14,10 miliar pada September. Namun, nilai ekspor tersebut turun lebih tajam secara ta­hunan, yakni sebesar 5,74 persen.

Di sisi lain, nilai impor naik tipis 0,63 per­sen, dari 14,17 dollar AS pada Agustus menjadi 14,26 miliar dollar AS pada September. Akan te­tapi, secara tahunan impor turun 2,41 persen.

Jika diakumulasi, defisit neraca perda­gangan Januari–September 2019 mencapai 1,95 miliar dollar AS. Realisasi defisit ini lebih rendah ketimbang periode Januari–September 2018 yang sebesar 3,78 miliar dollar AS.

Penurunan Daya Beli

Sementara itu, Asosiasi Pengusaha Indone­sia (Apindo) meminta pemerintah tidak me­remehkan defisit neraca perdagangan itu, mes­kipun melemahnya kinerja ekspor dan impor tak lepas dari memburuknya kondisi ekonomi global.

Ketua Umum Apindo, Hariyadi Sukamdani, menduga lesunya kinerja ekspor-impor me­rupakan gambaran dari penurunan daya beli masyarakat. Ini patut dikhawatirkan karena konsumsi rumah tangga selama ini menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Kalau impor turun secara keseluruhan apalagi impor bahan bakunya, berarti memang ada perlambatan di pertumbuhan ekonomi dan yang kami khawatirkan adalah penurunan di daya beli,” jelas dia, Selasa.

Menurut dia, pelemahan daya beli menun­jukkan pertumbuhan ekonomi belum inklusif. Sebab, manfaat pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati kelas menengah atas, sedangkan ka­langan menengah bawah masih dalam kondisi tertekan. “Dalam arti kata lapangan kerja meny­empit, lalu kondisi yang terkait dengan efisiensi perusahaan dan sebagainya,” imbuh Hariyadi.

Dia menyatakan untuk memaksimalkan kualitas pertumbuhan ekonomi, pemerintah perlu menggenjot lebih banyak lapangan kerja. Dengan demikian, produktivitas dan ekonomi masyarakat ikut terkerek.

Secara terpisah, Ekonom Enny Sri Hartati mengatakan perlu keseriusan pemerintah me­ngembangkan industri hilirisasi untuk dapat mengangkat nilai tambah produk dan me­mangkas defisit neraca perdagangan.

Dia mencontohkan mahalnya harga gas di Indonesia membuat pelaku industri menahan diri untuk melakukan kegiatan di Indonesia. Un­tuk itu, pemerintah mesti berupaya menyedia­kan energi yang efisien agar industri mau masuk berinvestasi di Indonesia. YK/uyo/SB/WP

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment