Ketika Hari-hari Senja Makin Membutuhkan Biaya | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments
Generasi Sandwich

Ketika Hari-hari Senja Makin Membutuhkan Biaya

Ketika Hari-hari Senja Makin Membutuhkan Biaya

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Sebagai orang dewasa, Kor Ter Ming, selalu mengenang perjalanan liburan yang ia lakukan bersama orang tua dan adiknya di pantai timur Malaysia. Saat menjelajahi pesisir pedesaan Pahang dan Trengganu, dia ingat nasehat ayahnya tentang pentingnya sesekali melakukan liburan bersama keluarga.

Hari ini, pria berusia 61 tahun itu menjalankan tradisi keluarga bepergian bersama istri dan dua anaknya yang telah dewasa, setidaknya setahun sekali. Pada beberapa kesempatan, ia bergabung dengan pria yang memulai semua itu, sang ayah, Kor Hong Fatt, 87 tahun.

“Gagasan bepergian bersama keluarga dimulai dari ayah saya, bisa tetap bepergian dengan dia dan keluarga saya sendiri adalah berkah dan kesempatan istimewa. Itu berarti saya bisa menikmati perjalanan dengan peran yang lengkap, baik sebagai putra dan ayah,” kata Kor Ter Ming, yang sehari-hari bekerja sebagai sopir taksi. Namun tidak semua orang senang bahwa orang tua mereka hidup lebih lama. Bagi Martha Lee (bukan nama sebenarnya), menjadi pengasuh tunggal untuk ibunya yang berusia 92 tahun, telah menghalangi kehidupan pribadi dan karirnya.


Meskipun mendapat dukungan keuangan dari lima bersaudara, ia harus merawat ibunya sendiri selama lebih dari 15 tahun. Pria lajang berusia 60 tahun, itu harus rela meninggalkan pekerjaan karena kewajiban itu. Tugas tersebut menjadi lebih sulit ketika ibunya diterpa demensia, dan kesehatannya memburuk. “Tumbuh dewasa, saya tidak pernah berpikir bahwa ibu saya akan tetap hidup ketika saya mencapai usia 60,” kata pekerja paruh waktu itu.

Kor Ter Ming dan Martha termasuk Generasi Sandwich (GS) Singapura, yakni orang-orang yang secara finansial mendukung dan merawat anggota keluarga yang lebih tua, dan lebih muda pada saat yang sama. Sebagian besar dari mereka berada dalam posisi yang terjepit, merupakan orang-orang yang bekerja antara usia 30 dan 60 tahun, tetapi beberapa di antara mereka adalah pensiunan berusia 60-an dan 70-an yang tidak hanya merawat anak-anak dan cucu-cucu mereka, tapi juga orang tua mereka.

Berdasarkan studi 2017, Singapura berada dipuncak harapan hidup dunia, hampir selama 85 tahun warganya sekarang lebih tua dari pemegang posisi pertama sebelumnya, Jepang. Kaum pensiunan tidak lagi secara otomatis menjadi yang tertua dalam keluarga mereka. Masalahnya diperkirakan akan memburuk ketika tingkat kesuburan turun, dan harapan hidup terus melambung. SB/R-1

Akses yang Lebih Luas

Warga Singapura hidup lebih lama dari sebelumnya. Pada ajang Hari Nasional Agustus, PM Singapura, Lee Hsien Loong, mengatakan, kini warga berusia seratus tahun jumlahnya lebih dari dua kali lipat dari hampir 500 pada 2007, menjadi 1.300 orang. Sebagian besar keadaan ini disebabkan karena akses yang lebih luas ke fasilitas perawatan kesehatan kelas dunia, dan pencegahan dini penyakit kronis.


Namun kondisi itu juga punya sisi buruk. Meskipun sekarang warga Singapura menjadi orang yang hidup paling panjang umur di dunia, tetapi sebagian besar hidup mereka berada dalam kesehatan yang buruk, dibandingkan dengan 30 tahun lalu.

Studi yang dilakukan tahun ini menemukan antara 2009 dan 2017, proporsi orang dewasa yang lebih tua dengan tiga atau lebih penyakit kronis berjumlah hampir dua kali lipat. Selain mengalami kesulitan melakukan kegiatan sehari-hari, lebih banyak warga Singapura berusia 60 tahun ke atas juga mengalami kondisi kesehatan kronis seperti tekanan darah tinggi, kolesterol, katarak, radang sendi, dan diabetes.

Sementara GS saat ini seperti Kor dan Martha dapat mengandalkan saudara kandung untuk berbagi beban merawat orang tua mereka, generasi Singapura berikutnya tidak akan memiliki keleluasaan itu. Menurut data, jumlah warga Singapura yang memiliki anak sebagai penerus keluarga turun. Tingkat kesuburan negara itu 1,4, jauh di bawah 2,1 yang dibutuhkan hanya untuk memenuhi jumlah populasi. (SB/R-1)

Menjadi Tua Semakin Mahal

Tekanan pada GS berikutnya akan lebih kuat. Pada 2050, diperkirakan 3,08 juta orang Singapura atau 47 persen dari total populasi Singapura akan berusia setidaknya 65 tahun.
“Keadaan itu akan memberi tekanan besar pada populasi yang bekerja untuk merawat orang tua,” kata Yorelle Kalika, pendiri dan CEO Active Global Specialgator Caregivers.
Sedangkan bila merujuk fakta bahwa 26,6 persen lansia diperkirakan akan menderita penyakit kronis pada 2035, Yorelle optimistis mereka akan mendapat perawatan yang profesional.


Menjadi tua di Singapura juga semakin mahal. Tahun ini, laporan dari Sekolah Kebijakan Publik Lee Kuan Yew menemukan bahwa seorang warga negara Singapura berusia 65 tahun ke atas, dan hidup sendiri membutuhkan biaya hidup untuk memenuhi kebutuhan dasar sekitar 1.379 dolar Singapura sebulan. Sedangkan bagi mereka yang berusia antara 55 dan 64 tahun, membutuhkan biaya adalah 1.721 dolar Singapura.

Namun pakar penuaan dari Singapore University of Social Sciencesada, Helen Ko, menyampaikan beberapa kabar baik. Menurutnya, Singapura aktif mempersiapkan diri untuk menghadapi lonjakan demografi pengasuh lanjut usia. “Misalnya, dengan menaikkan usia pensiun dan bekerja kembali masing-masing menjadi 65 dan 70 tahun, itu akan memungkinkan pengasuh bekerja lebih lama dan memiliki lebih banyak sumber daya untuk merawat orang tua mereka yang lanjut usia.

Juga hibah bulanan sebesar 200 dolar Singapura yang diperkenalkan pada Oktober, sekarang dapat membantu pengasuh mengimbangi pengeluaran mereka,” ujarnya. Meski begitu, Ko percaya orang Singapura yang lebih muda harus siap menghadapi masa-masa yang lebih sulit, dibandingkan dengan orang tua mereka. “Implikasinya bagi masa depan para manula di Singapura sangat besar. Mereka perlu bersiap untuk memikul tanggung jawab pengasuhan seperti itu dan memastikan bahwa mereka tetap sehat hingga memasuki tahun-tahun senja,” katanya.

Pada 2015, pemerintah Singapura memperkenalkan program Paket Generasi Perintis untuk membantu warga negara yang lahir sebelum 1950, dalam mengatasi biaya perawatan kesehatan dan kebutuhan hidup. Sedangkan tahun ini, pemerintah meluncurkan Paket Generasi Merdeka untuk membantu generasi baby boomer yang lahir pada 1950-an.
Namun masyarakat yang menua juga memiliki sisi buruk. Bagi Marimuthu Govindasamy, 61 tahun, bisa menikmati secangkir kopi atau berbagi percakapan dengan ibunya, 84 tahun, adalah sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan saat masih remaja.


“Ketika saya muda, menginjak usia 60 berarti menjadi tua dan lemah. Tapi sekarang setelah saya mencapai titik sejarah ini, saya merasa lebih sehat dan lebih bahagia daripada sebelumnya, “ kata nenek dari lima cucu itu. Demikian pula, Kor Ter Ming memanfaatkan semua peluang yang tersisa untuk mengejar kesempatan dengan ayahnya. Namun dia tahu kesempatan itu tidak lama. SB/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment