Keunikan Situs Punden Nglambangan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments

Keunikan Situs Punden Nglambangan

Keunikan Situs Punden Nglambangan

Foto : koran jakarta/selocahyo
A   A   A   Pengaturan Font

Kota Madiun yang terletak di perbatasan wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah merupakan salah satu kota terbesar di kawasan Mataraman, (bagian barat Jawa Timur yang meliputi Ngawi, Madiun, Ponorogo, Jombang, dan Kediri). Madiun dikenal memiliki berbagai julukan, mulai Kota Sepur, Kota Gadis, Kota Karismatik, Kota Brem, dan Kota Pecel.

Madiun me­rupakan suatu wilayah yang dirintis oleh Ki Panembahan Ronggo Jumeno atau biasa disebut Ki Ageng Ronggo. Asal kata Madiun dapat diartikan dari kata medi (hantu) dan ayun-ayun (berayunan). Maksudnya adalah bahwa ketika Ronggo Jumeno melakukan Babat Tanah Madiun, banyak hantu yang berkeliaran. Penjelasan kedua karena nama keris yang dimiliki oleh Ronggo Jumeno bernama keris Tundhung Me­dhiun. Pada mulanya bukan dinamakan Madiun, tetapi Wonosari.

Sejak awal, Madiun me­rupakan sebuah wilayah di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram. Dalam perjalanan sejarah Mataram, Madiun memang sangat strategis, mengingat wilayahnya terletak di tengah-tengah perbatasan dengan Kerajaan Kadiri (Daha). Oleh karena itu, pada masa pemerintahan Mataram banyak pemberon­tak-pemberontak Kerajaan Mataram yang membangun basis kekuatan di Madiun, se­perti munculnya tokoh Retno Dumilah.

Beberapa peninggalan Kadipaten Madiun salah satu­nya dapat dilihat di Kelurah­an Kuncen, di sini terdapat makam Ki Ageng Panembah­an Ronggo Jumeno dan Patih Wonosari. Selain makam para Bupati Madiun, terdapat pula masjid tertua di Madiun, yaitu Masjid Nur Hidayatullah, artefak-artefak di sekeliling masjid, serta sendang (tempat pemandian) keramat.

Bicara soal pariwisata, potensi wisata Madiun juga tak kalah menariknya untuk disambangi saat liburan. Ada banyak objek wisata di Madiun yang dapat memberi­kan pengalaman liburan yang menyenangkan. Mulai dari wisata alam, wisata sejarah dan budaya, wisata religi, hingga beberapa tempat re­kreasi berkonsep wisata air yang menawarkan permai­anan yang seru. Belum lagi wisata kuliner dengan sajian khas daerah yang menggugah selera. Objek-objek wisata ter­sebut, di antaranya:

Punden Nglambangan

Bagi penggemar wisata sejarah, terdapat sebuah destinasi yang cukup menarik untuk dikunjungi, yakni Situs Punden Nglambangan. Situs yang berada di Desa Nglam­bangan, Kecamatan Wungu, ini kerap direkomendasikan bagi wisatawan, mengingat keunikan dan aura kunonya. Berbagai peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit dapat dilihat dari dekat di situs yang dijadikan lokasi ritual adat pada setiap Malam Satu Suro ini. Mulai dari artefak berupa lumbung selayur, punden, watu dakon, hingga sumur, sendang, dan pura Lembangsari. Ada pula sumur dan sendang Jambangan yang menjadi tempat pemandian zaman dahulu kala.

Sejak pintu gerbang situs yang berwujud gapura dari tumpukan batu bata, aura kuno langsung menyambut setiap yang datang. Sebagian bangunan dan benda-benda di lingkungan situs banyak yang telah ditutupi lumut. Sementara itu, pohon-pohon berukuran besar tumbuh di sekitar situs, menghadirkan suasana segar dan sejuk. Sua­sana situs yang sepi benar-be­nar menghadirkan ketenang­an bagi setiap pengunjung. Hanya ada 1–2 orang penjaga yang terlihat menyapu daun-daun kering.

Pohon-pohon yang ada dalam lingkungan situs telah berusia ratusan tahun. Sebut saja pohon adem, sonokel­ing, mentaos, kosambi, dan trembesi. Serunya lagi, wisatawan dapat menikmati nuansa “lawas” yang ada itu dengan cuma-cuma.

Punden Nglambangan terletak tidak jauh dari pusat Kota Madiun, sekitar 15 menit perjalanan menggunakan kendaraan. Beberapa bagian situs telah menjalani renovasi dan perbaikan. Agar lebih nyaman, pengunjung disa­rankan datang pada pagi hari karena masih sepi sehingga lebih leluasa untuk mengam­bil gambar.

Selain berwisata menik­mati keindahan situs, pe­ngunjung dapat sekaligus belajar tentang sejarah. Me­nurut penelitian yang ditulis oleh mahasiswa Universitas Merdeka Madiun, Irrofatu Ulfa dan Rudi Setiadi, sejak zaman prasejarah, wilayah Madiun dan sekitarnya telah didiami oleh kelompok ma­syarakat dengan kebudayaan dan peradaban yang tinggi.

Punden Nglambangan atau yang juga dikenal dengan sebutan Punden Lambang Kuning ini merupakan sa­lah satu peninggalan Ke­rajaan Majapahit dari zaman Hindu Jawa. Adat istiadat Jawa Hindu memang masih kental mewarnai penduduk Desa Nglambangan. Meski­pun mayoritas masyarakatnya pemeluk Islam, namun warga tetap menjalankan ritual ke­budayaan leluhur.

Punden sendiri berasal dari kata pepunden, yang arti­nya sesuatu yang dihormati. Tak heran, Punden Lambang Kuning sering dipergunakan oleh masyarakat Nglamban­gan untuk berbagai kegiat­an adat. Hampir setiap hari diadakan upacara selamatan di punden ini. Seperti warga yang berhasil diterima be­kerja, melahirkan anak, atau upacara Nyadran pada Satu Suro. Upacara Nyadran di­lakukan setiap tahun pada Jumat Legi. Pada malam Jumat, satu hari sebelumnya, warga melakukan pengajian, setelah itu pada keesokan hari, digelar Tayuban atau tarian laki-laki dan perempu­an dengan iringan alat musik gamelan.

Kelenteng Tri Dharma

Klenteng Madiun Tri Dharma atau Hwie Ing Kiong merupakan tempat ibadah dengan pujaan utama YM Mak Zu Thian Shang Sheng Mu. Terdapat banyak altar dalam kelenteng dan juga pa­goda tiga tingkat yang menju­lang dengan indah. Pendirian kelenteng yang terletak di te­ngah kota, tepatnya Jalan HOS Cokroaminoto Kejuron, ini diprakarsai oleh para tokoh Tionghoa setempat, dan mu­lai dibangun pada tahun 1887. Untuk melengkapi kelenteng, mereka membawa patung Ma Zu Thien Shang Shen Mu setinggi 97 sentimeter dari Tiongkok.

Tempat wisata religi ini bernuansa apik. Saat berfoto, pengunjung seperti dibawa kembali ke masa silam, de­ngan bangunan kelenteng yang didominasi gaya klasik Tionghoa, seperti warna me­rah, ornamen-ornamen dewa, dan naga. Meski tak dipungut biaya, namun pihak penge­lola membatasi ruang lingkup wisatawan hanya boleh masuk sampai bagian depan kelenteng.

Sebelum pindah di Jalan Cokroaminoto, Kelenteng Hwie Ing Kong Madiun ini pada awalnya berada di sebe­lah timur Sungai Madiun de­ngan bentuk dan ukuran kuil yang lebih sederhana. Kala itu, Residen Madiun mem­berikan sebidang tanah seluas kurang lebih 10.000 meter persegi di lokasi sekarang. Pembangunan kelenteng membutuhkan waktu yang cukup lama, sejak 1887 dan selesai pada 1897. Arsitek dan tenaga kerjanya didatangkan langsung dari Fujian, Tiong­kok. Begitu juga ubin merah yang terpasang pada bangun­an utama dibawa langsung dari Tiongkok dan sampai sekarang masih dipertahan­kan keutuhannya.

Setelah kuil Dewi Ma Zu yang baru selesai dibangun, dilaksanakan ritual keagama­an untuk pemindahan Rupang atau Kimsin Dewi Ma Zu dari kuil lama dengan disaksikan dan diikuti penduduk sekitar Madiun. Hwie Ing Kiong yang berarti istana kesejahteraan dan kemuliaan. SB/E-3

Berburu Kuliner di Alun-alun Madiun

Salah satu cara mudah menikmati suasana Madiun adalah de­ngan berkunjung ke alun-alun. Ya, selain tidak dipungut biaya, letak Alun-alun Madiun yang berada tepat di pusat kota akan memudahkan siapa saja untuk mencapainya. Lokasi alun-alun dikelilingi bebe­rapa bangunan di antara­nya Masjid Agung Madiun di sebelah barat, bangunan pertokoan di sebelah selatan, bangunan Presiden Plasa di sebelah timur, dan kantor pemerintahan serta bekas Bioskop Arjuna di sebelah utara. Petunjuk arah menuju tempat ini saat memasuki Kota Madiun cukup mudah dengan berpatok pada arah menuju kantor pemerintah­an dan alun-alun.

Alun-alun ini berfungsi utama sebagai lokasi upa­cara, berolahraga, bersantai, berkumpul, hingga me­nyelenggarakan acara seperti bazar dan panggung hiburan. Kini wajah alun-alun sema­kin menarik sejak pembe­nahan yang dilakukan oleh pemda setempat.

Alun-alun Madiun kini di­lengapi dengan taman yang asri, sementara area terbuka berupa tanah lapang masih disisakan pada sebelah timur alun-alun. Taman menjadi salah satu bagian alun-alun yang menjadi favorit pengun­jung karena menghadirkan suasana sejuk terutama di siang hari dengan berbagai tumbuhan yang terawat de­ngan baik. Sementara sensasi gemerlap dapat dinikmati pengunjung pada malam hari, dengan semarak lampu-lampu warna warni yang dirangkai dengan indah, memberikan kesan unik, co­cok sebagai wahana swafoto. Sedangkan pada sekeliling lokasi, trotoar jalan juga telah dipercantik dengan keramik.

Terdapat beberapa spot menarik untuk dikunjungi. Salah satunya monumen yang menjadi ikon alun-alun tak jauh dari jalan masuk. Patung Kolonel Marhadi ber­nuansa merah menyambut dengan gagah, berdiri tegak sambil menunjuk ke depan. Monumen itu dibangun un­tuk mengenang Almarhum Kolonel Marhadi, perwira Angkatan Darat sekaligus tokoh setempat.

Wisatawan juga dapat melihat aktivitas warga, para orang tua dengan anak-anak di bagian tengah alun-alun yang dilengkapi berbagai permainan seperti sepeda listrik, dan beberapa ketang­kasan. Untuk urusan jajan juga tak ketinggalan, Alun-alun Madiun menyediakan cukup banyak menu kuliner. Sebut saja bakso, mi ayam, batagor, ronde, dan sate ayam, serta aneka minuman dengan harga terjangkau.

Untuk menuju destinasi wisata tersebut, Anda bisa menngunakan pesawat Garuda Indonesia, Citilink, dan Sriwijaya Air melalui Bandara Adisumarmo, Solo, Jawa Tengah, atau Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Ti­mur. SB/E-3

 

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment