Koran Jakarta | September 18 2019
No Comments
Museum Nasional

Koleksi yang Membuat Kagum Dunia

Koleksi yang Membuat Kagum Dunia

Foto : KORAN JAKARTA/M FACHRI
A   A   A   Pengaturan Font

Museum Nasional Indonesia merupakan museum yang merefleksikan kebudayaan di seluruh Indonesia. Hampir semua peninggalan sejarah di Nusantara dapat dilihat di museum ini.

Koleksi di Museum Nasional banyak dipinjam museum negara lain untuk mengisi sebuah pameran. Bahkan Museum Nasional sering melakukan kerja sama pameran. Museum di luar negeri sangat berminat dengan koleksi-koleksi Museum Nasional Indonesia.

Menurut Sri Patmiarsi, Kepala Bidang Kemitraan dan Promosi Museum Nasional Indonesia yang ditemui di ruang kerjanya, Senin (12/8), kerja sama itu cukup beralasan. Mengingat Museum Nasional Indonesia memiliki koleksi sebanyak kurang lebih 170 ribuan koleksi benda pra sejarah hingga benda sejarah.

Koleksi-koleksi tersebut terdiri dari arca, koleksi barang-barang semasa kolonial, numismatik, barang arkeologi, benda-benda kesultanan serta beberapa koleksi yang kumpulkan sejak jaman Hindia Belanda.

Singapura merupakan salah satu negara yang tertarik untuk memajang koleksi Museum Nasional Indonesia di sejumlah museum yang terdapat di negeri Singa tersebut. Tahun ini, mereka meminjam koleksi untuk tiga pameran. Selain itu, ada China dan Brusel (Belgia) merupakan negara lain yang kerap menggunakan koleksi Museum Nasional Indonesia untuk pameran di negaranya.

Sebelum peminjaman barang koleksi, pihak museum selalu mengadakan perjanjian kerja sama untuk menjaga keutuhan barang koleksi. “Ada aturan yang dipatuhi mereka (museum peminjam), yaitu mulai awal penanganan, pemotretan maupun pengemasan,” ujar dia. Hal ini lantaran, benda yang dipinjaman merupakan benda yang memiliki nilai sejarah.

Walaupun sudah ada perjanjian, tidak semua koleksi museum dalam dipinjamkan. Pihak Museum Nasional Indonesia akan melihat kondisi koleksinya terlebih dahulu. Jika koleksi sudah rapuh, mereka tidak akan meminjamkan koleksi ke museum negara lainnya. Di sisi lain, koleksi yang sudah keluar dari museum harus diperlakukan hati-hati dan perlu di awasi.

Kerusakan koleksi merupakan hal yang tidak bisa dihindarkan mengingat barang kerap dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. “Ada (kerusakan), kayak kemarin ke Brusel bawa Arca Ganesha lalu bagian kuping ada yang gupil,” ujar dia. Karena diasuransikan, arca segara bisa diperbaiki kembali.

 

Kerusakan tidak hanya pada koleksi yang dipinjamkan ke museum lain. Beberapa barang koleksi juga mengalami kerusakan lantara usianya yang sudah tua,seperti barang yang telah mencapai usia ratusan tahun. Perawatan yang dilakukan museum tidak lain untuk menjaga keawatan barang. Mereka merawat koleksi dengan perawatan khusus dengan suhu tertentu.

Museum yang berdiri pada 24 April 1778 merupakan museum yang terdiri dari dua gedung, yaitu Gedung A (bangunan lama) dan Gedung B. Gedung A banyak menyimpan arca peninggalan Hindu Budha sekitar abad ke 5 sampai abad ke 14.

Sedangkan, Gedung B banyak menyimpan bendabenda yang terkait manusia dan lingkungannya, beberapa koleksi berupa manusia purba termasuk gading gajah.Saat ini, gedung B masih dalam proses penataan ulang kembali yang direncakanan akan selesai pada akhir 2019.

Andriyati Rahayu, Kepala Program Studi S1 Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia mengatakan bahwa Museum Nasional Indonesia telah mewakili keberaaannya sebagai museum nasional, terutama dari sisi arkeologi yang terhitung dari pra sejarah hingga masa kolonial.

Selain itu, Museum Nasional Indonesia merupakan museum yang memiliki pengunjung yang cukup banyak. ”Museum cukup banyak pengunjungan, terutama 10 tahun terakhir ini,” ujar dia yang kerap mengunjungi museum tersebut.

Wanita yang biasa disapa Ria ini mengatakan kegiatan yang diadakan di museum mampu menarik minat masyarakat untuk berkunjung ke museum. Dia berharap museum makin sering mengadakan kegiatan untuk menambah jumlah pengunjung. din/E-6

1.000 Lebih Pengunjung Setiap Hari

Belakangan, museum tidak sekadar tempat penyimpanan benda-benda bersejarah. Museum juga menjadi ruang publik sebagai tempat aktifitas masyarakat, khususnya kegiatan yang bersifat edukasi. Hal ini tidak lain, sebagai upaya untuk mengajak masyarakat mencintai museum.

Kegiatan-kegiatan tersebut cukup menarik pengunjung untuk datang ke museum. Museum yang tadinya hanya didatangi segelintir pengunjung, tampak lebih semarak dengan adanya kegiatan yang bersifat publik.

Beberapa waktu lalu, Museum Nasional Indonesia telah membuka sebagian ruang untuk kegiatan publik. Namun, sejak adanya undang-undang Kemajuan Budaya No 5 Tahun 2017, mereka makin membuka diri untuk kegiatan masyarakat terutama yang memiliki kaitannya dengan museum.

Mereka memiliki berbagai program untuk menarik pengunjunga, seperti ruang kegiatan untuk anak-anak PAUD. Di ruang tersebut, anak-anak diajak membuat ketrampilan sebagai salah satu budaya di Tanah Air, seperti membuat gelang maupun membatik. Setelahnya, mereka akan diajak untuk berkunjung ke ruang pamer dikenalkan pada benda-benda bersejarah.

Selain itu, Museum Nasional Indonesia juga bekerja sama dengan komunitas untuk mengisi kegiatan di museum. Salah satunya, mereka bekerja sama dengan komunitas aksara.

 

Masyarakat dapat belajar membaca akasara kuno maupun jawa kuno. Adalagi, kegiatan rutin yang dilakukan Teater Koma dan Dapur Dongeng. Kegiatan tersebut menampilkan teatrikal dengan tematema sejarah yang terdapat di museum. “Kegiatan-kegiatan tersebut mampu menggairahkan museum,” ujar Sri Patmiarsi, Kepala Bidang Kemitraan dan Promosi Museum Nasional Indonesia yang ditemui di Museum Nasional Indonesia, Senin (12/8).

Hingga saat ini, rata-rata jumlah pengunjung sebanyak 1000 per harinya. Saat akhir pekan, pengunjung bisa menjadi lebih dari 1500 orang sedangkan pada hari kerja pengunjung sekitar kurang dari 1000 orang.

Untuk melakukan kegiatan di museum, pihak museum tidak menarik dana kecuali dana yang disyaratkan oleh penyelenggaran. Karena untuk kegiatan, museum telah memiliki anggaran dari pemerintah. Hanya, mereka akan lebih mengutamakan penyelenggarakan yang mengajukan diri disertai dengan surat sebagai pengantar. din/E-6

Saksi Abadi Sejarah Bangsa

Museum menjadi pelengkap untuk mengetahui sejarah bangsa secara lebih mendalam. Tujuannya tidak lain untuk memperkaya sudut pandang memahami sejarah.

Hal tersebutlah yang dirasakan Gita Perwitasari, 22, lulusan Program Studi Pariwisata, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ia berpendapat berkunjung ke museum akan melengkapi referensi sejarah bangsa yang telah di pelajari sejak bangku SD hingga SMA.

“Ada keterangan di sini (museum) yang tidak aku dapat dalam buku sejarah selama sekolah di SD, SMP dan SMA,” ujar dia yang ditemui di Museum Nasional Indonesia, Selasa (13/8). informasi lain tentang perkembangan kerajaan Islam pertama di Indonesia merupakan salah satunya.

Dari buku sejarah yang dibacanya, Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Tanah Air. Namun setelah mengunjungi museum, ia memperoleh informasi bahwa benih-benih Islam sudah muncul sebelum adanya kerajaan tersebut.

Bibit perkembangan Islam di Tanah Air mulai terdapat pada masa Kesultanan Tidore, Maluku pada 1081. Namun pada masa itu, sultan hanya memimpin tidak menyebarkan agama Islam ataupun membentuk kerajaan. Sehingga, Kesultanan Tidore tidak resmi menjadi kerajaan Islam pertama.

Hal serupa dirasakan Kurniawan, 23, mahasiswa tingkat akhir di Universitas Negeri Jakarta, laki-laki yang senang mengunjungi museum tersebut mengatakan bahwa museum akan memberikan banyak informasi, baik dari informasi yang tertulis maupun dari bentuknya.

Seperti arca, bentuk arca akan menginformasikan peradaban yang terjadi pada masa itu. “Peradapan itu seperti apa dan mengapa bisa terjadi seperti itu,” ujar laki-laki yang masih memendam keinginan untuk mengunjungi timur Indonesia ini tentang benda-benda yang tersimpan di dalam museum.

Baginya untuk mengetahui sejarah bangsa tidak cukup hanya melalui buku. Museum akan memperkaya pengetahuan tentang sejarah. Beberapa lalu, dia diskusi dengan teman-teman yang mengambil pendidikan di di bidang sejarah di kampusnya.

Hasil diskusi menyimpulkan bahwa memahami sejarah tidak cukup hanya melalui buku saja. “Bahwa yang dibukukan tentang peradapan, jangan kau percayai seperti itu saja,” ujar dia tentang hasil diskusi dengan teman-temannya. Karena masih ada hal lain yang belum tertuliskan.

“Katakanlah, kekuasaan yang menungganginya, pastilah ada sejarah yang diubah untuk kepentingannya,” ujar dia. Untuk itu, ia selalu datang ke museum maupun sumber sejarah lainnya untuk memuaskan keingintahuannya. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment