Koran Jakarta | August 19 2019
No Comments
IN MEMORIAM ARSWENDO ATMOWILOTO

Kolumnis “Jenak” Itu Telah Pergi

Kolumnis “Jenak” Itu Telah Pergi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Arswendo Atmowiloto

 

Jagat sastra dan wartawan ber­duka. Sastrawan dan wartawan senior Arswendo Atmowiloto telah berpulang pada Jumat (19/7) sore, sekitar pukul 17.50 WIB, di kediamannya di Komplek Kompas, Petukangan, Jakarta. Meninggalnya sastrawan ini akibat penyakit kanker kelenjar prostat yang dideritanya sejak beberapa waktu belakangan.

Arswendo adalah kolumnis tetap Koran Jakarta sejak berdiri, Mei 2008, dengan mengisi rubrik Jenak secara rutin setiap akhir pekan. Di rubrik Jenak itu Arswendo memotret setiap detak kehidupan keseharian yang dituangkan dalam tulisan bergenre sersan, serius tapi santai. Di samping itu, Arswendo juga pernah menjadi juri Koran Jakarta Award.

Tapi sejak minggu ke-2 Mei 2019, tulisan Arswendo mulai tersendat. Bidikannya pada lekuk kehidupan sudah mulai kehilangan greget. Sempat terhenti beberapa saat, lantas kembali mengisi Jenak, dan sesaat kemudian melalui WhatsApp, dia mengabarkan, “Bung, jika saya pulih sampai akhir tahun ini saya usahakan ngisi Jenak, tapi kalo belum berarti saya istirahat,” pesan Arswendo. WhatsApp itu dia kirimkan lantaran dia sedang sakit serius dan dirawat di rumah sakit. Gedung dengan Seribu Kupu-kupu adalah tulisan terakhir Jenak di Koran Jakarta edisi 8-9 Juni 2019.

Kabar duka ini tentu cukup mengejutkan publik, sebab sebelumnya pada 26 Juni lalu, ia sempat berangsur pulih dan akhirnya boleh pulang setelah dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta. Namun, nasib berkata lain, sastrawan dan wartawan senior kelahiran Surakar­ta, 26 November 1948 ini akhirnya menghembuskan napas terakhir di rumahnya.

Jenazah Arswendo Atmowiloto pun disemayamkan di rumah duka, Komplek Kompas B-2, Jalan Damai, Petukangan Selatan, Ja­karta Selatan. Acara Misa Requiem sekaligus pelepasan jenazah dilaksanakan di Gereja St Matius Penginjil, Paroki Bintaro, Pondok Aren, hari Sabtu pagi, 20 Juli 2019. Selesai misa, jenazah akan dibawa ke tempat peristirahatan terakhir di Sandiego Hill, Karawang.

Semasa hidup, Arswendo juga dikenal sebagai wartawan di berbagai media massa, seperti Kompas, HAI, Monitor, dan kon­sultan di grup penerbitan Tab­loid Bintang Indonesia. Dia juga mendirikan grup penerbitan sendiri dengan melahirkan be­berapa tabloid dan majalah.

Arswendo pun pernah mendirikan Production House, PT Atmochademas Persada, yang memproduksi sinetron, film dan tayangan infotainment. Sinetron serial Keluarga Cema­ra, Deru Debu, Ali Topan Anak Jalanan, dan Satu Kakak Tujuh Keponakan adalah beberapa dari sekian banyak karya Arswendo yang meraih sukses.

Arswendo menikah dengan Agnes Sri Hartini dan dikaruniai tiga anak, yakni Albertus Wibisono, Pramudha Wardhana, dan Cicilia Tiara. Arswendo punya nama baptis Paulus, namun ia memakai nama Arswendo karena dianggapnya lebih pop.

Arswendo memang telah melahirkan banyak karya seni, baik penulisan untuk sinetron, drama, maupun tulisan di media massa. Dalam penulisannya itu, tak jarang pula ia menggunakan nama samaran. Beberapa karyanya yang dimuat di media massa, yakni seperti cerita bersambungnya, Sudesi (Sukses dengan Satu Istri), di Harian Kompas, ia menggunakan nama Sukmo Sasmito.

Untuk Auk yang dimuat di Suara Pembaruan ia memakai nama Lani Biki, kependekan dari Laki Bini Bini Laki, nama iseng yang ia pungut sekenanya. Nama-nama lain yang pernah dipakainya adalah Said Saat dan BMD Harahap.

Menilik lebih jauh soal karya sastra, di era 1972, ia pernah memenangkan Hadiah Zakse atas esainya Buyung - Hok dalam Kreativitas Kompromi. Dramanya, Penantang Tuhan dan Bayiku yang Pertama, memperoleh Hadiah Harapan dan Hadiah Perangsang dalam Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara DKJ 1972 dan 1973. Pada 1975, dalam sayembara yang sama ia mendapat Hadiah Harapan atas drama Sang Pan­geran. Karya novel sejarah berseri paling spektakuler adalah Senopati Pamungkas.

Dramanya yang lain, Sang Pema­hat, memperoleh Hadiah Harapan I Sayembara Penulisan Naskah Sandi­wara Anak-Anak DKJ 1976. Selain itu, karyanya Dua Ibu (1981), Kelu­arga Bahagia (1985), dan Mendo­blang (1987) mendapatkan hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K pada 1981, 1985, dan 1987. Pada 1987 Arswendo memperoleh Hadiah Sastra Asean. yzd/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment