Koran Jakarta | November 12 2019
No Comments

Komunikasi Harus Melahirkan Harmoni

Komunikasi Harus Melahirkan Harmoni
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Pengantar Studi (Ilmu) Komunikasi
Penulis : Dr Redi Panuju, MSi
Penerbit : Prenadamedia Grup
Tahun Terbit : Cet I, November 2018
Tebal : x+ 250 halaman
ISBN : 978-602-422-743-2

Kontestasi politik pilpres yang lalu seolah menjadi gambaran kegaduhan komunikasi. Ada adu kata, wacana, saling menjatuhkan, menyebar hoaks, dan fitnah. Kondisi tersebut dijawab buku Pengantar Studi (Ilmu) Komunikasi: Komunikasi seba­gai Kegiatan Komunikasi sebagai Ilmu.

Kegaduhan komunikasi diuraikan sebagai praktik tidak untuk mencip­takan kesepahaman, tetapi sebaliknya. Bahkan, tidak hanya menciptakan kesalahpahaman, dia menghasilkan komunikasi memperuncingkan perbe­daan, meningkatkan konflik. Akhirnya terjadi polarisasi beberapa kelompok (hlm 197). Kegaduhan merupakan ben­tuk komunikasi yang merobek-robek keharmonisan, memecah belah, dan sangat mungkin melahirkan huru-hara.

Padahal komunikasi proses pe­nyampaian informasi kepada orang lain untuk memengaruhi dan menggi­ring sikap serta perilaku agar memiliki kesepahaman (mutual understanding). Dengan demikian, tujuan komunikasi yang paling umum menciptakan saling pengertian, harmoni, atau keteduhan dan dukungan atau partisipasi.

Manusia modern dibanjiri pesan-pesan komunikasi dalam berbagai bentuk hampir di setiap sendi kehidupan ekonomi, sosial, politik, dan agama. Komunikasi mendomi­nasi proses interaksi sosial manusia. Terlebih lagi dengan perkembangan teknologi informasi (TI). Mau tidak mau, TI berimplikasi pada perkem­bangan bentuk-bentuk komunikasi.

Buku ini menunjukkan, melalui percepatan TI, pesan diproduksi dan direproduksi dengan cepat yang menghadirkan informasi semerawut. Akibatnya, silang sengkarut pesan membuat pesan tidak sempat dihayati, dievaluasi, dan dicerna dengan baik. Informasi tidak sempat dipikirkan secara tepat dan efektif (hlm 198).

Dalam keseharian, komunikasi sering kali dianggap mudah. Buku ini membedakan komunikasi seba­gai ilmu dan praktik. Sebagai praktik, komunikasi untuk menyampaikan dan menerima pesan. Hal tersebut berhenti sebagai fakta atau realita. Sedan­gkan sebagai ilmu, dia mendiagnosis fakta terse­mbunyi di balik realitas yang tampak (hlm 1).

Urgensi mempelajari ilmu komunikasi agar bisa dijadikan solusi bersama. Komunikasi bisa menjadi pemersatu dengan menciptakan kesepahaman makna, harmoni, dan hidup saling berdampingan. Atau sebaliknya, malah memicu konflik dan permusuhan.

Buku ini bisa menjadi bahan bacaan bermanfaat untuk memahami konteks-konteks komunikasi yang kini menjadi perhatian banyak orang. Ula­sannya sesuai dengan zaman seperti parasocial relationship atau fenomena interaksi sosial semu efek kemajuan teknologi informasi-telekomunikasi. Ini menempatkan seseorang yang jus­tru sangat mengenal orang lain dalam gadget atau media sosialnya, namun asing dengan sekitarnya.

Atau tentang paradoks komunikasi, yang seharusnya menjadi kegiatan untuk penyampaikan pesan, malah terdistorsi sehingga tidak tersampai. Buku juga menyertakan contoh-contoh artikel kritis penulis sebagai bentuk komunikasi ilmiah. Ada juga contoh kajian ilmiah ko­munikasi politik terbaru.

Salah satunya yang cukup menarik adalah kajian komunikasi poli­tik Jokowi yang menarik sejak ikut Pilkada DKI hingga Pilpres 2019. Dia blusukan, baju kotak-ko­tak, penggemar Metal­lica dan simbol milenial lainnya.

Buku ingin membuka perspektif atau cara pan­dang agar lebih jernih ketika melihat komuni­kasi, sehingga bisa men­jadi solusi menciptakan mutual understanding (kesepahaman) dalam memaknai dan memahami pesan. Tidak sebaliknya, komuni­kasi malah diarahkan menciptakan kegaduhan, kekeruhan, silangseng­karut, apalagi sampai menimbuhkan perpecahan. Diresensi Robiah Machtumah Malayati, Dosen Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment