Koran Jakarta | July 22 2019
1 Comment
suara daerah

Kopi Gayo untuk Sejahterakan Rakyat Bener Meriah

Kopi Gayo untuk Sejahterakan Rakyat Bener Meriah

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Sebagai kabupaten yang masih relatif muda, baru berusia 15 tahun pada tahun ini, Kabu­paten Bener Meriah, Provinsi Aceh terus berbenah untuk mengoptimalkan potensi daer­ahnya. Dengan visi kabupaten yang islami, harmoni, maju, dan sejahtera, Kabupaten Bener Meriah memiliki kekua­tan sumber daya alam dan manusianya yang gigih.

Bupati Bener Meriah, Sarkawi, tak ingin kekuatan daerahnya mengendap tak terasah dan gagal bersaing di pasar dunia. Untuk itu, dia rajin menyambangi berbagai stakeholder untuk menjalin kerja sama dengan daerahnya guna meningkatkan kesejahteraan rakyat Kabupaten Bener Meriah.

Untuk mengetahui apa saja yang akan dan telah dilakukan jajaran Pemerintah Kabu­paten Bener Meriah dalam meningkatkan kesejahteraan warganya, wartawan Koran Ja­karta, Eko SP, berkesempatan mewawancarai Bupati Bener Meriah, Sarkawi, di Yogya­karta, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Masalah utama apa yang dihadapi Kabupaten Bener Meriah saat ini?

Kabupaten kami baru beru­mur 15 tahun, masih sangat muda. Ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagaima­na mengejar ketertinggalan dengan daerah lain yang lebih mapan. Secara administratif, birokrasi, dan program-program kerja, dan kerja sama harus dipercepat.

Kami memiliki potensi yang luar biasa yakni sebagai dae­rah penghasil kopi gayo yang terkenal sekali. Sayangnya sebesar 95 persen diekspor, sewaktu-waktu harga dunia jatuh kami merugi.

Anda banyak menjalin kerja sama, termasuk dengan Universitas Gadjah Mada (UGM). Kerja sama itu untuk meningkatkan potensi Bener Meriah?

Benar. Kami masih memer­lukan pendampingan dalam melakukan pembangunan. Kabupaten Bener Meriah menginginkan langkah-lang­kah yang terukur dalam membangun daerah sesuai dengan kajian-kajian dan potensi yang dimiliki.

Kami me­merlukan road­map ke depan seperti apa. UGM mungkin punya tim yang bisa melakukan itu. Mung­kin Rektor UGM dan pim­pinan yang lain bisa hadir ke Bener Meriah melihat potensi yang ada sekaligus membuat langkah-langkah strategis yang dibutuhkan ke depan seperti apa.

Saya sangat berharap kerja sama dengan UGM ini menjadi momentum sekali­gus langkah awal guna menata pembangunan di Bener Me­riah ke depan, kabupaten yang relatif masih muda dan baru berusia 15 tahun ini.

Terkait kopi gayo, apa yang bisa dilakukan agar tidak terlalu tergantung de­ngan pasar ekspor?

Tentu serapan dalam negeri harus diperbesar. Angka lima persen serapan lokal ini kami usahakan bisa terus naik agar seimbang antara ekspor dan pasar domestik. Kalau seim­bang, sudah tidak terlalu ta­kut harga jatuh karena bisa diimbangi dengan pasar lokal. Jadi harganya tidak terlalu jatuh.

Ada keinginan untuk mengembang­kan wisata dikaitkan dengan kopi gayo?

Ya, dengan ada­nya perkebunan kopi, kami harap bisa tumbuh sebagai daerah wisata. Karena sebagian Kabupaten Bener Meriah adalah dataran tinggi yang sangat indah. Wisata sambil belanja kopi gayo di asalnya kan bagus. Selain itu kami memiliki pertanian, po­tensi geothermal, panas bumi, dan lain-lain.

Untuk itu kami berharap tim dari UGM bisa datang ke sana, bisa memetakan ini dengan baik. Kami yakin UGM memi­liki pengalaman yang cukup di dalam mendampingi pemba­ngunan sebuah kabupaten, bagaimana melakukan langkah-langkah strategis pengem­bangan potensi yang dimiliki.

Bagaimana dengan infra­struktur menuju Kabupaten Bener Meriah?

Kami punya Bandara Rem­bele di Gampong Bale Atu, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, yang belum lama diresmikan Presiden Joko Widodo. Bandara yang terletak di ketinggian perbuki­tan sekitar 1.200 meter dari permukaan laut dan dikelilingi perbukitan ini merupakan gerbang wisata di dataran tinggi Gayo yang terkenal de­ngan tempat wisata alam dan tentu saja kopi gayonya yang terkenal hingga ke Eropa dan Amerika Serikat.

Seberapa menarik potensi wisata di Bener Meriah?

Potensi wisata alam di Kabupaten Bener Meriah ti­dak kalah oleh daerah lain di Indonesia. Potensi tersebut, di antaranya Danau Laut Tawar, Gua Puteri Pukes, Pantan Terong, dan Gua Loyang Koro yang di dalamnya terdapat benda-benda cagar budaya sejak ratusan tahun lalu.

Untuk menuju ke Kabupat­en Bener Meriah, saat ini da­pat diakses melalui jalur udara maupun darat. Melalui jalur darat dapat ditempuh selama sekitar enam jam dari Banda Aceh, dan sekitar delapan jam dari Medan. Sedangkan me­lalui jalur udara saat ini dapat ditempuh sekitar satu jam dari Bandara Kualanamu menggu­nakan maskapai Penerbangan Susi Air, tiga kali seminggu.

Kerja sama dengan UGM ini akan seperti apa?

Rektor UGM, Panut Mu­lyono senang sekali dengan tawaran kerja sama ini dan malah meminta segera ditin­daklanjuti dengan kegiatan-kegiatan nyata. Para pakar siap untuk didatangkan ke Bener Meriah.

Untuk itu, Rektor UGM me­minta kami untuk segera me­nunjuk PIC (people in charge) sehingga komunikasi bisa terjalin lebih baik untuk nanti implementasi dan prioritasnya yang kami pilih apa. Misal, ter­kait dengan penataan ruang, terkait dengan pengembangan pertanian, perindustrian, dan lain-lain.

N-3

View Comments

Kopi Aceh Gayo
Jumat 12/7/2019 | 04:20
Ada keinginan untuk mengembang­kan wisata dikaitkan dengan kopi gayo? semoga bagian pertanyaan ini segera terealisasi

Submit a Comment