Lambat Berbenah, Daya Saing RI Merosot | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments
Peringkat Daya Saing I Perlu Memacu Peningkatan Kualitas SDM

Lambat Berbenah, Daya Saing RI Merosot

Lambat Berbenah, Daya Saing RI Merosot

Foto : Sumber: The Global Competitiveness Report 2019 - KJ/ONES
A   A   A   Pengaturan Font
Penurunan peringkat Indonesia bukan hanya karena negara lain mengalami kenaikan skor, melainkan juga karena skor daya saing Indonesia memburuk.

 

JAKARTA – Sejumlah kalangan mengemu­kakan penurunan peringkat daya saing global menunjukkan Indonesia kalah cepat dengan negara lain dalam membenahi kebijakan pen­dukung kompetisi.

Bahkan, kebijakan pembantu Presiden se­ring kali justru memperburuk daya saing ka­rena mengedepankan ego sektoral, sehingga kementerian berjalan sendiri-sendiri, minim koordinasi dan sinergi.

Selain itu, belum adanya kepastian hukum dan praktik bisnis kronisme yang merajalela membuat investasi di Indonesia menjadi lebih mahal dan tidak efisien. Akibatnya, investor enggan menanamkan modalnya.

Sebelumnya dikabarkan, laporan The Glo­bal Competitiveness Report 2019 yang dirilis World Economic Forum (WEF) pekan ini me­nunjukkan, peringkat daya saing Indonesia merosot 5 peringkat dari 45 menjadi 50.

Ekonom Indef, Enny Sri Hartati, menilai an­jloknya peringkat daya saing Indonesia dise­babkan kurangnya koordinasi di dalam tubuh pemerintahan. Ini terjadi karena ego sektoral yang membuat kementerian cenderung berja­lan sendiri-sendiri.

“Kuncinya di strong leadership-nya. Kalau ada strong leadership ini mampu untuk meng­oordinasikan kerja sama antarlembaga untuk menggenjot daya saing secara nyata,” papar dia, di Jakarta, Kamis (10/10).

Menurut Enny, perlu disusun maping ber­sama antarkementerian guna memacu daya saing secara konkret. “Dengan demikian, pe­merintah bisa mengidentifikasi sektor prioritas atau produk apa yang akan ditingkatkan daya saingnya,” jelas dia.

Sedangkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, mengakui penurunan peringkat daya saing terjadi karena Indonesia kalah cepat dengan negara lain da­lam hal perbaikan level kompetitif.

“Sebetulnya, penyebabnya pasti karena orang lain perbaikannya lebih cepat. Tetapi, kami sen­diri memang sedang menyiapkan juga perubah­an yang cukup besar-besaran,” tukas dia.

Darmin menambahkan upaya memperbaiki daya saing Indonesia sudah dilakukan melalui reformasi kebijakan secara struktural. Misal­nya, mempercepat perizinan investasi mela­lui sistem perizinan yang terintegrasi dalam jaringan (Online Single Submission/OSS).

Bahkan, saat ini pemerintah tengah me­nyiapkan penyatuan undang-undang alias om­nibus law untuk kian meningkatkan percepat­an perizinan.

Sementara itu, ekonom senior dari Univer­sitas Indonesia, Faisal Basri, mengemukakan penurunan peringkat Indonesia yang cukup tajam itu juga disertai dengan penurunan skor, dari 64,9 pada 2018 menjadi 64,6 pada 2019.

“Berarti penurunan peringkat Indonesia bukan hanya karena negara-negara lain meng­alami kenaikan skor melainkan juga karena skor daya saing Indonesia memburuk,” ujar Faisal, seperti dikutip dari blog pribadinya.

Di samping itu, sejumlah kalangan juga menilai daya saing juga tergerus oleh belum adanya kepastian hukum yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi, ditambah Indeks crony capitalism Indonesia yang berada di urutan ke-7 terburuk di dunia. Dua hal itu pada akhir­nya membuat investasi di Indonesia menjadi mahal, tidak efisien.

Dikejar Vietnam

Faisal menambahkan, dari 12 pilar dalam Global Competitiveness Index (GCI), Indo­nesia membukukan skor tertinggi, yakni 90, dalam stabilitas makroekonomi. Sayangnya, skor yang merupakan prasyarat penting per­tumbuhan ekonomi berkelanjutan itu, belum dapat dijadikan modal untuk mengerek daya saing. Akibatnya di kawasan Asean, Indonesia hanya lebih baik dari Filipina dan Vietnam.

“Perbaikan di Indonesia perlu diakselerasi­kan agar tidak disusul oleh Vietnam yang be­lakangan ini menunjukkan perbaikan pesat di berbagai bidang,” kata Faisal.

Sedangkan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan P Roeslani, menyoroti bahwa salah satu permasalahan daya saing Indonesia adalah kualitas sumber daya manusia (SDM). Oleh karena itu, Kadin sudah melaksanakan program pembenahan SDM melalui vokasi. “Tidak mungkin semua orang mau menempuh pendidikan universi­tas. Oleh karena itu, kita kembangkan pogram vokasi di mana Kadin Indonesia telah bekerja sama dengan Kadin Jerman,” ungkap Rosan.

Dia pun menilai bahwa penurunan peringkat daya saing global Indonesia disebabkan refor­masi yang cenderung jalan di tempat, sedang­kan negara lain mampu melompat lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia. ers/uyo/WP

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment