Mari Kita Bersama-sama Membangun Kota Jakarta | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 6 2019
No Comments
Wawancara Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, Terkait Peringatan HUT Ibu Kota Jakarta

Mari Kita Bersama-sama Membangun Kota Jakarta

Mari Kita Bersama-sama Membangun Kota Jakarta

Foto : ANTARA/INDRIANTO EKO SUWARSO
A   A   A   Pengaturan Font
Hari ini, DKI Jakarta memasuki usia ke-492 tahun. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun berbenah untuk merayakannya. Beragam acara digelar agar warga Jakarta merasakan juga momen indah kelahiran kotanya melalui peringatan ulang tahun dengan tema Wajah Baru Jakarta.

 

Untuk membahas soal ini, Koran Jakarta mewawa­ncarai Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, di sela-sela aktivitasnya, di Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Jumat (21/6). Berikut petikannya.

Pesan apa yang ingin Anda sampaikan dengan mengusung tema HUT DKI kali ini, yakni “Wa­jah Baru Jakarta”?

Inilah salah satu contohnya. Bahwa wajah baru Jakarta bukan sekadar penampilan fisik, tapi mindset-nya dibarukan. Tadi saya ceritakan bahwa pembangunan fasilitas transportasi saja urutan­nya diubah dulu. Nomor satu itu fasilitas kendaraan pribadi, baru kemudian kendaraan umum, baru kemudian untuk sepeda dan peja­lan kaki.

Kalau sekarang?

Sekarang diubah. Nomor satu adalah fasilitas untuk pejalan kaki, untuk sepeda, kendaraan umum, baru kendaraan pribadi. Jadi, keba­ruan itu bukan hanya penampilan fisik, tapi juga pada mindset-nya. Nah, ini juga yang kita lakukan, termasuk merayakan ulang tahun Jakarta.

Agenda apa saja yang akan digelar untuk merayakan HUT DKI Jakarta?

Tahun ini kita rayakan dengan pesta di Bundaran HI. Kita ber­harap banyak warga Jakarta datang pada puncak acara Sabtu malam (22/6). Mari, kita mensyukuri apa yang sudah kita dapat dari Jakarta dan apa yang sudah kita kerjakan untuk Jakarta agar ke depan lebih baik lagi.

Lalu, makna pengecatan mural di terowongan Jalan Kendal itu bagian HUT DKI Jakarta juga?

Kita memulai pembuatan mural di terowongan Jalan Kendal di kawasan Dukuh Atas. Jalan Kendal ini dahulu digunakan untuk jalan kendaraan dengan roda karena kita pada waktu itu memfokuskan jalan untuk roda. Saya ingin garisbawahi bahwa alat transportasi yang semua orang punya adalah kaki. Karena itu yang harus dibangun jalan untuk kaki dan ini diubah dari jalan kendaraan beroda menjadi jalan untuk orang pejalan kaki.

Berarti ini Jalan Kendal ini sengaja ditutup untuk mengubah pemanfaatan jalan?

Ini diubah pemanfaatannya, sek­arang kita menjadikan tempat ini tempat spot kegiatan budaya, spot kegiatan seni sekaligus memberikan pengalaman baru bagi siapa pun yang melewati kawasan ini. Apalagi daerah Dukuh Atas saat ini ada be­berapa moda transportasi yang ber­temu di tempat ini. Pertama MRT, kedua kereta commuter line, kereta bandara, Transjakarta dan nantinya ada LRT dua lewat tempat ini. Jadi, hari ini saja itu sudah ada lima dan ada satu lagi bus umum. Jadi, lima moda itu penumpangnya bertemu di tempat ini. Semoga tempat ini menjadi salah satu tempat di mana warga mendapatkan pengalaman yang baru.

Ini murni dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atau ada bantuan pihak lain?

Ini dilakukan kolaborasi bersama dengan BRI Peduli yang mendukung juga teman-teman dari mural, teman-teman dari Univer­sitas Paramadina. Nantinya kita berharap, seperti ini akan ada di berbagai tempat di Jakarta sehingga lokasi-lokasi di Ja­karta memberikan pengala­man yang baru.

Apa harapan Anda un­tuk Jakarta pada usianya ke-492 tahun ini?

Harapannya kita lebih banyak mau berkontri­busi. Tadi diceritakan bahwa dinding itu bisa menjadi tempat untuk seni, mengekspresi, dan memberikan pesan. Saya ketika tahun lalu meluncurkan mural di sepanjang Antasari, waktu itu saya katakan jadikan Jakarta sebagai kanvas ekspesi seni budaya kita. Salah satu pesannya mari kita bersama-sama terlibat, mari kita ikut membangun Jakarta. peri Irawan/AR-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment