Koran Jakarta | May 23 2019
No Comments
Staf Khusus Presiden Bidang Keagamaan Internasional, Siti Ruhaini Dzuhayatin, soal Stabilitas Politik di Bulan Ramadan

Masyarakat Harus Menahan Diri dan Menunggu Hasil Resmi dari KPU

Masyarakat Harus Menahan Diri dan Menunggu Hasil Resmi dari KPU

Foto : ISTIMEWA
Siti Ruhaini Dzuhayatin
A   A   A   Pengaturan Font
Proses rekapitulasi suara yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) beriringan dengan bulan suci Ramadan. Kendati demikian, polarisasi masyarakat pascapemungutan suara masih terjadi.

Beberapa pihak yang kurang puas terhadap penyelenggaraan pemilu pun, membuat narasi-narasi politik yang berpotensi menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Padahal, seharusnya masyarakat dapat menahan diri, apalagi bangsa Indonesia yang mayoritas muslim tengah menjalankan ibadah puasa.

Untuk mengupas hal tersebut lebih lanjut, Koran Jakarta mewawancarai Staf Khusus Presiden Bidang Keagamaan Internasional, Siti Ruhaini Dzuhayatin, melalui sambungan telepon di Jakarta, Minggu (12/5), berikut petikannya.

Bagaimana Anda melihat iklim politik di bulan Ramadan ini?

Sebetulnya, menjaga iklim politik itu tidak selalu bulan Ramadan, karena bagaimanapun menjaga persatuan Indonesia penting setiap saat. Tetapi, memang bulan ini bertepatan dengan pemilu, jadi seolah- olah makin memanas. Sebagai bangsa yang pernah mendapatkan penghargaan internasional sebagai masyarakat muslim yang demokratis, sudah seharusnya kita bersyukur dengan menjaga iklim demokrasi kita.

Bagaimana dengan polarisasi yang masih terjadi akibat salah satu pihak yang belum mengalah?

Sebetulnya, kita memahami hal tersebut sebagai kekecewaan politik. Namun bagaimanapun juga di politik hanya satu yang menang. Tetapi, kekecewaan itu tidak harus kemudian larut dalam sentimen agama yang berlebihan. Jangan mengorbankan kekuatan sosial yang selama ini kita nikmati sebagai bangsa yang aman, rukun, dan damai, hanya dengan kepentingan politik semata. Jika ada yang berkata harus berjihad karena kemungkaran, ini berlebihan. Politik hanyalah urusan dunia, kita harus isi bulan ini dengan semangat keagamaan yang baik, yang bersifat khasanah.

Seberapa pentingkah peran pemuka agama dalam situasi saat ini?

Saya sepakat dengan imbauan Ketua PP Muhammadiyah, Ketua PBNU, Ketua MUI, dan lembagalembaga agama yang lain, yang berpesan bahwa kita harus menunggu hasil resmi dari KPU. Jadi, sebetulnya umat Islam secara mayoritas sudah mendengarkan pimpinan organisasinya. Nah, bahwa di sana-sini ada suara gerakan-gerakan, marilah kita cermati, di balik itu ada misi atau agenda apa. Saya percaya mayoritas umat beragama di Indonesia sudah mendengarkan imbauan pemuka agamanya masing-masing.

Lalu, potensi people power yang sering digaungkan?

Jadi gini konteksnya, people power itu bakal terjadi kalau lembaga demokrasi kita mati. Sementara, lembaga negara sampai saat ini juga masih berfungsi sebagaimana mestinya. Kalaupun terjadi, pasti nanti ada konsekuensi hukumnya.

Berarti, elite politik harus berdamai?

Saya kira begitu, karena harga kebangsaan kita lebih mahal daripada sebuah kegiatan rutin lima tahunan. Kita lihat kemarin, presiden-wakil presiden duduk bersama, buka puasa bersama Ketua DPR, DPD, dan MPR.

Terakhir, ada pesan khusus dari Bapak Presiden?

Pesan dari Presiden di beberapa kesempatan, pemilu ini adalah rutinitas politik lima tahunan. Kita harus menyikapi secara arif, jangan sampai mengorbankan nilai kebangsaan yang telah kita bangun selama lebih dari 70 tahun ini. Beliau mengimbau kepada masyarakat Indonesia untuk memberikan kepercayaan kepada penyelenggara pemilu dengan menunggu hasil resmi dari KPU dan menghargai kerja kerasnya. 

 

trisno juliantoro/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment