Koran Jakarta | August 19 2019
No Comments
Christian Kustedi, CEO dan Founder Dusdusan.com

Memajukan Bebas Berjualan

Memajukan Bebas Berjualan

Foto : koran jakarta/Haryo brono
A   A   A   Pengaturan Font

Christian Kustedi mendirikan Dusdusan. com pada 2015 yang kini telah memiliki anggota (member) mencapai 92.000 lebih.

Bermula setelah lulus dari jurusan desain komuniasi visual di Universitas Pelita Harapan pada 2008, Christian Kustedi bersama Andre Suthedja dan Sharleen Olga membua studio desain bernama Kamarupa. Studio ini menerima jasa grafis dan web desain.

Kemudian, bersama dengan salah satu klien Kamarupa, yaitu Technoplast, sebuah perusahaan yang bergerak dalam pembuatan produk dari plastik, keduanya bekerja sama membangun merek tersendiri, dan mulai berjalan pada 2014 dengan nama Dusdusan.

“Saya memiliki passion di bisnis. Saya suka merintis usaha dari nol,” ungkapnya, pekan lalu. Nama Dudusan tergolong unik.

Dengan nama itu diharapkan pembeli akan memesan dalam jumlah berkarduskardus. Beruntung, sesuai filosofi namanya, Dusdusan berkembang cukup pesat, yang terbukti dengan reseller yang terus bertambah.

“Reseller Dusdusan tersebar di 420 kabupaten kota. Target saya, tahun ini jumlah reseller mencapai 120 ribu anggota,” ujar ayah dua anak ini. Dudusan kini bukan hanya menyediakan produk eksklusif dari plastik yang diproduksei oleh Technoplast saja.

Seiring waktu, mitra perusahaan ini bertambah dengan menawarkan produk kecantikan dan kesehatan melalui kerja sama dengan Green Leaf, Medina, dan Homeco Living. Dengan varian produk dan bertambahnya reseller, membuat pertumbuhan jadi cukup baik juga. “Sekarang penjualan masih meningkat terus. Tahun 2017–2018 kita naik 100 persen.

Tahun 2019 kita targetnya double terus setiap tahun,” ujarnya. Pria yang lahir di Jakarta, 1 Januari 1986, mengatakan pada awalnya saat pertama beropersai pada 2015, Dudusan menggunakan konsep business to business (B2B) yang menyasar pasar hotel dan restoran, dengan menawarkan produk peralatan dapur, seperti gelas, mangkok, toples, dan sejenisnya

Namun setelah tidak ada perkembangan dalam pemasaran, akhirnya mengubah strategi menjadi Business to Consumer (B2C), menyasar pasar rumah tangga. Dengan menjaring perempuan dan mahasiswi sebagai reseller paling dominan, Dusdusan menggunakan strategi pengembangan produk, komunitas, dan teknologi.

Caranya dengan menawarkan produk yang eksklusif, pada komunitas yang luas, dengan fitur teknologi canggih dan memudahkan. Dengan teknolog web, model bisnis Dusdusan bukan seperti multilevel marketing, karena tidak ada downline maupun upline. Untuk menjadi member juga cukup dengan biaya 299 ribu rupiah, berlaku satu tahun.

Melalui akses web, reseller akan memperoleh akun berupa username dan kata sandi. Reseller yang rajin dengan poin tinggi bahkan bisa menukar poinnya dengan mobil atau umrah. “Sudah banyak yang berhasil berangkat umroh dari Dusdusan,” kata pria berkacamata ini.

Tak cuma itu, Dudusan membebaskan anggota dengan tidak ada target tertentu. Di sini, reseller mengambil barang secara langsung melalui Dusdusan selaku distributor, sehingga marjin keuntunggan member mencapai 20–30 persen.

“Kami memberikan kebebasan jualan, baik secara offline dengan modal katalog pada acara arisan, atau melalui social commerce seperti Facebook, Instagram, WA, BBM, dan lainnya,” ujar dia.

Sistem “Dropship”

Untuk menekan biaya pengiriman saat ada pembeli jauh dari lokasi penjual, Dusdusan membuka beberapa gudang di Bandung, Cikarang, Semarang, Sidoarjo, dan Makassar. Dengan demikian, reseller terdekat yang memiliki stok barang banyak bisa dimanfaatkan dengan cara sistem dropship.

“Ongkos kirim panci dengan harga 200–200 ribu dari Jakarta ke Makassar bisa 400 ribu sendiri. Yang bisa stok bisa membantu member yang tidak punya stok,” ujar pria yang rutin olahraga tenis dalam frekuensi 2–3 kali seminggu ini.

Dusdusan juga memberikan harga yang transparan antar-reseller dan bisa dipantau oleh semua. Setiap reseller yang menawarkan harga tidak masuk akal dilaporkan oleh reseller lain, dan Dusdusan juga memiliki tim untuk mencari member yang merusak harga, selanjutnya ditutup.

Christian menyatakan visi Dusdusan adalah menjadi distributor dalam skala mikro atau menjadi distributor online yang terdepan. Reseller harus menjadi ujung tombang hingga ke konsumen terdekat dari rumahnya (last mile).

Christian yakin, Dusdusan bakal semakian besar di masa depan. Apalagi menurut Euro Monitor, nilai pasar direct selling mencapai 26 triliun rupiah per tahun. Dengan bisnis model yang tersendiri yang dikembangkan, ia yakin dapat memberikan peluang usaha bagi masyarakat.

Ia menugungkapkan banyak yang menyarankan agar Dusdusan mengandeng investor agar bisnis cepat berkembang, misalnya, dengan mencari pendanaan Seri A. Namun, mencari investor yang cocok tidak mudah. “Dibilang urgent, nggak juga. Dibilang nggak butuh, enggak juga. Tunggu jodoh saja,” katanya.

Bila mendapatkan investor akan dipakai untuk mempercepat perkembangan dari sisi produk, teknologi, komunitas. Kepada komunitas Dusdusan akan mendapatkan program retensi untuk memperkuat hubungan bisnis dengan reseller. Dari sisi teknologi ia akan menambah developer untuk menghadirkan fitur baru, dan dari produk menghadirkan inovasi produk terus menerus. haryo brono/AR-2

BIODATA

Nama: Christian Kustedi

Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 1 Januari 1986

Pendidikan:
• Sarjana Desain Komuniasi Visual dari Universitas Pelita Harapan Lulus tahun 2008.
• Pendidikan S2 Komunikasi Universitas Pelita Harapan.

Karier:
• CEO dan Founder Dusdusan.com
• Founder studio desain “Kamarupa”

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment