Memastikan Biopsi Kanker Ataukah Tumor | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 19 2020
No Comments

Memastikan Biopsi Kanker Ataukah Tumor

Memastikan Biopsi Kanker Ataukah Tumor

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Ancaman kanker di Indonesia melonjak seiring perubahan pola makan dan gaya hidup. Organisasi penanggulangan kanker dunia dan Badan Kesehatan Dunia memprediksi lonjakan kanker mencapai 300 persen tahun 2030. Ini mayoritas terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Prevalensi kanker Indonesia 1,4 per 1.000 penduduk. Kanker tertinggi yang menggerogoti perempuan Indonesia adalah kanker payudara dan serviks.

Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes mengungkap jumlah deteksi dini kanker payudara dan serviks tahun 2016 terhadap 1,9 juta lebih atau 5,2 persen perempuan.

Tahun 2017 ditingkatkan menjadi tiga juta lebih atau 8,1 persen. Hasilnya, 3.000 perempuan positif kanker. Prevalensinya, satu perempuan mengidap kanker per 1.000 deteksi dini. Hipotesisnya, kontrol kanker payudara dan serviks sangat jauh dari harapan. Jumlah ini tidak sama rata mencakup seluruh daerah.

Buku ini memastikan uraian kanker payudara memunculkan kajian kekambuhan, masa bebas sakit, dan harapan hidup (hlm 31). Kanker payudara dapat kambuh, meski diterapi maksimal karena banyak faktor.

Buku juga mencatat tetumbuhan yang diklaim mengusir kanker payudara, seperti daun sirsak, bunga rosella, kulit manggis, kunyit, dan tapak dara. Hanya, menurut dr Monty dan dr Nadytia, dari sekitar 4.000 pasien kanker payudara, tak satu pun membaik dengan herbal tersebut. Ada pasien yang semula ditangani medis, lalu beralih ke herbal meninggal dunia, tidak terlalu lama.

Fakta ini memperlihatkan, klaim fungsi ramuan tradisional sebagai antioksidan mujarab untuk sel sehat. Untuk sel kanker yang sudah berubah sifat normalnya, ramuan tradisional tidak berdaya membunuh sel kanker (hlm 131). Standar pengobatan tetap berdasarkan karakter klinis dari hasil riset pusat kanker dunia sejak 1894. Maka, hanya operasi menjadi standar emas kanker payudara stadium awal.

Perlu pemeriksaan payudara tiap bulan, tujuh hari setelah tuntas menstruasi. Periksa dokter minimal setahun sekali. Jika stadium I, angka harapan hidup hingga lima tahun masih mencapai 98 persen, sedang stadium II menurun 90–95 persen. Benjolan di payudara belum tentu kanker. Perlu dilakukan biopsi untuk memastikannya karena bisa saja itu “hanay” tumor. Hanya sekitar 15 persen benjolan sebagai kanker.

Sementara itu, 85 persen lainnya benjolan disebabkan kelenjar payudara, tumor, kista, infeksi, atau sekadar ASI tersumbat sehingga tidak bisa muncrat.

Harapan hidup pasien lima tahun. Penyintas kanker yang bertahan hidup lima tahun berarti penyakitnya terkontrol baik. Indikator ini penting karena kanker payudara tidak mengenal istilah “sembuh” seperti penyakit lain, tetapi menggunakan istilah terkendali (hlm 48). Saat ini persentase terkendali 90 persen karena pengobatan canggih dan gerakan promosi deteksi dini.

Modalitas canggih bukan satu-satunya yang mampu mengontrol pertumbuhan kanker. Faktor lain yang harus dibenahi adalah psikologis dan sosiokultural (hlm 47). Akumulasi keberhasilannya baik. Semakin dini kanker diobati, tambah tinggi harapan hidup dan rendah angka kambuh. Ini membuat semakin besar prospek kesembuhannya.

Motivasi promotif ini sebagai langkah antisipasi. Dari 250 operasi yang tetap mempertahankan payudara, 48 persen harus operasi lagi, setelah 5,5 tahun. Jika pasien ke dokter, lalu divonis operasi, janganlah bersedih.

Ini berarti kanker payudaranya di stadium awal. Jika dokter mengatakan tidak bisa dioperasi, janganlah girang. Ini stadium tinggi (hlm 91).
P

ohon bajakah dan bunga telang kini naik daun. Bajakah dari belantara Kalimantan Tengah menjadi viral sains mendunia karena diwacanakan mampu membunuh sel kanker payudara stadium IV. Ini hoaks ataukah fakta yang memicu uji klinis, riset ilmiah, dan dikompetisikan secara internasional.

Riset akademis terhadap bunga telang (Clitoria ternatea) pun mampu membunuh sel-sel kanker dan menghambat kecepatan migrasi dari sel kanker payudara.

Diresensi Yustina Windarni, Alumna Politeknik API Yogyakarta

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment