Membumikan Nilai Kepahlawanan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments

Membumikan Nilai Kepahlawanan

Membumikan Nilai Kepahlawanan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Setiap tanggal 10 November, seluruh masyarakat memperingati momen bersejarah dalam perjuangan bangsa, perlawanan rakyat Jawa Timur dalam menentang kembalinya penjajahan. Ini khususnya koalisi pasukan Inggris-Belanda setelah merdeka, 17 Agustus 1945. Puncak perjuangan pada 10 November saat batas ultimatum pasukan Indonesia untuk menyerah. Rakyat tetap melawan, tidak mau tunduk pada kekuasaan asing.

Nilai keberanian, perjuangan, dan membela tanah air yang telah merdeka sangat penting terus ditanamkan pada generasi muda. Untuk menimbulkan semangat juang dan semangat pantang menyerah dan pembelaan tanah air, maka setiap tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Begitu juga pemerintah memanfaatkan peristiwa ini sebagai pengakuan terhadap perjuangan para tokoh dan pahlawan baik pada masa prakemerdekaan maupun masa perang. Setiap memperingati Hari Pahlawan, pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada sejumlah tokoh yang memang punya rekam jejak perjuangan dan layak menyandang gelar pahlawan nasional. Tahun ini, ada enam tokoh yang diberi gelar pahlawan nasional.

Bila melihat peran dan perjuangan para tokoh masa lalu, memang sangat patut untuk mengambil pelajaran. Para pejuang bukan hanya berani melawan kekuatan penjajah, tetapi memiliki motivasi dan cita-cita luhur untuk memajukan bangsa demi anak cucu. Bagaimana dengan generasi saat ini yang hidup di alam kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, serta tidak ada lagi penjajahan fisik dari negara lain? Generasi sekarang, khususnya kaum mudanya tidak perlu memanggul senjata. Mereka tidak harus berperang di garis depan melawan musuh. Tapi, mereka harus tampil di garda depan memajukan bangsa.

Melalui apa? Banyak yang dapat dilakukan di tengah perubahan masyarakat yang makin kompleks dan penuh tantangan. Apalagi Indonesia di bawah Presiden Jokowi memang tengah membangun berbagai saran dan prasarana baik jalan, jalan tol, pelabuhan, bandara, maupun sumber daya manusia unggul sebagai prioritas pembangunan lima tahun ke depan.

Selain itu, pemerintahan segera memindahkan Ibu Kota Negara ke Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kutai Kartanegara, Kaltim. Targetnya seluruh pembangunan Ibu Kota Negara baik istana, kantor kementerian, gedung DPR/MPR/DPD, maupun prasarana utama lainnya sudah terbangun pada 2024. Tahun itu, Ibu Kota Negara sudah bisa pindah.

Untuk menyongsong berbagai agenda pembanguan negara tersebut, peran generasi muda dengan kemampuan ilmu dan teknologi yang dilandasi nilai-nilai kepahlawanan sangat dibutuhkan. Jadi, Indonesia saat ini memang membutuhkan SDM unggul untuk merealisasikan cita-cita menjadi bangsa maju dan bermartabat.

Jika mengamati perkembangan pembangunan lima tahun terakhir seperti jalan, tol, pelabuhan, bandara, pembanguna moda transportasi baik MRT, maupun LRT, rasanya bangsa ini memang tengah berjalan menuju track yang benar menuju bangsa maju. Dengan begitu, nilai-nilai kepahlawanan tadi memang harus dibumikan, dijadikan dasar pegangan setiap generasi muda.

Sebaliknya, kini pun kita menyaksikan dan mendengar masih banyak masyarakat kurang peduli pada sesama, pembangunan bangsa, dan negara. Bahkan ada yang berusaha merusak tatanan yang telah dibangun para pendiri bangsa. Ini sangat disayangkan. Mereka sebaiknya menoleh ke belakang dan mencari nilai-nilai kepahlawanan.

Jadi, seluruh elemen bangsa, termasuk generasi muda, saatnya menyingsingkan lengan untuk bahu-membahu memajukan bangsa. Kita tidak saling melemahkan atau bahkan saling mencerca dan berkelahi hanya karena perbedaan persepsi sertta perbedaan paham atas suatu hal. Saatnya bangsa menguatkan dan menyatukan yang tercerai berai demi masa depan bangsa dan negara.

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment