Koran Jakarta | October 16 2019
No Comments

Mempersiapkan Hari-hari Pascapensiun

Mempersiapkan Hari-hari Pascapensiun

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Menjadi Orang Tua (Lansia) yang Bahagia
Penulis : Paul Suparno, SJ
Penerbit : Kanisius
Cetakan : Mei 2019
Tebal : 169 halaman
ISBN : 978–602- 291-468-6

Memasuki usia pensiun (lansia) bisa berdampak psikologis yang sangat kuat karena perubahan aktivitas dari rutin dan padat menjadi boleh dikata kosong. Selain itu, kesehatan fisik juga makin menurun. Perubahan ini sebenarnya sama sekali tidak diharapkan. Semua orang ingin memiliki fisik sehat dan lingkungan kerja yang memperhatikan dirinya. Namun, faktanya tidak demikian.


Buku ini mencatat beberapa kisah orang yang menderita di usia lansia. Seorang ibu berumur 67 tahun, sejak pensiun merasa teman-teman kantor tidak lagi memperhatikan. Saat berulang tahun, hanya beberapa yang datang. Dia juga merasa tidak berguna karena potensinya tidak seoptimal dulu. Pensiun dipandang sebagai nasib buruk.
Pergolakan psikis ini membuatnya jadi pemarah. Anak dan cucu sering dimarahi tanpa sebab jelas. Mereka juga kerepotan merawat dan melayani karena kepribadiannya jadi sulit dipahami (hlm 11).


Ada pula lansia yang tidak menerima kenyatan dirinya tua, sehingga depresi, mudah sakit, dan pemarah. Hubungan dengan anak dan cucu tidak harmonis lagi. Padahal anak-cucu ingin membahagiakan. Puncaknya, lansia tersebut ingin mati saja.
Maka dari itu, setiap orang harus mempersiapkan diri memasuki lansia agar tetap bahagia. Kalau sudah disiapkan akan jauh dari rasa cemas, terasing, takut kehilangan momen-momen indah selagi muda. Lansia haraus disiapkan jauh-jauh.


Orang menjelang pensiun perlu menyiapkan kegiatan pascapensiun agar dapat menerima realitas. Dengan begitu, dia bisa lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Anak cucu juga perlu bersiap untuk merawat dengan baik (hlm 33–47).
Masa pensiun tiap orang berbeda-beda tergantung pada profesi. Misalnya, pemain sepak bola dianggap tua dan harus pensiun usia 33. Sedangkan pegawai negeri, pensiun justru mendekati usia 60. Perlu siapkan kegiatan-kegiatan setelah pensiun untuk mengganti aktivitas rutin sebelumnya. Perencanaan yang matang lebih mudah bagi lansia untuk ceria dengan kegiatan yang baru. Biasanya, aktivitas pascapensiun antara lain mengembangkan hobi.


Contoh, Ibu Wati, janda dan pensiunan dosen yang tinggal bersama asisten rumah tangga. Dua anaknya sudah berkeluarga dan tinggal di pulau lain. Di masa pensiun, dia merawat tanaman bunga kesukaannya serta aktif dalam kegiatan di paroki dengan ibu-ibu lansia. Dia juga suka membaca dan menulis. Sesekali, dia mengirimkan tulisannya ke media. Sering kali kelompok tertentu memintanya membagikan isi bacaan buku rohani dan keluarga. Aktivitas ini membuatnya menikmati masa pensiun.


Persiapan untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan secara rohani penting agar tidak mudah mengeluh. Olah rohani yang intens akan membuat lemahnya fisik sebagai kodrat yang justru menebalkan iman. Suster Gloriana yang sudah berusia 80, sering sakit-sakitan. Namun orang yang beinteraksi dengannya kagum karena selalu tersenyum, menyapa setiap orang, dan tak pernah mengeluh.


Buku ini penting juga dibaca anak muda sebagai persiapan saat kelak memasuki fase lansia atau panduan untuk merawat keluarganya yang sudah memasuki masa lansia. Tanpa pengetahuan yang baik tentang kondisi lansia, kadang terjadi kesalahpahaman saat merawat, sehingga mengurangi kebahagiaan lansia tersebut. Semoga dengan membaca buku ini kesalahpahaman bisa diminimalkan.
Diresensi Salman Alfarisi, Alumnus Unair Surabaya

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment