Koran Jakarta | September 18 2019
No Comments

Mencermati Gangguan Tulang Keropos

Mencermati Gangguan Tulang Keropos
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Deteksi Osteoarthritis vs Osteoporosis
Penulis : Prieharti dan dr Yekti Mumpuni
Penerbit : Andi
Cetakan : 2017
Tebal : vi + 138 halaman
ISBN : 978-979-29-6122-5

Osteoporosis dan osteoarthritis merupakan penyakit kembar populer mendunia. Seiring target usia harapan hidup, perubahan gaya hidup, dan pola makan, kasus os­teoporosis semakin mengkhawatirkan. Riset International Osteoporosis Foun­dation (IOF) bekerja sama Fonterra Brands mencatat satu dari tiga wanita dan satu dari lima pria di atas usia 50 mengidap osteoporosis. Di Indonesia, dua dari lima penduduk berisiko os­teoporosis. Angka ini lebih tinggi dari prevalensi (jumlah keseluruhan kasus penyakit) dunia.

Penanganan osteoporosis membu­tuhkan ekstrabiaya rawat. Jika biaya rawat akibat patah tulang pinggul ta­hun 2008 mencapai 1,48 miliar dollar AS, diprediksi 2020 akan menembus 1,75 miliar dollar. Osteoporosis dari bahasa Yunani, osteo (tulang) dan porosis (penuh lubang).

Oasteoporosis berarti penuh lubang dalam tulang. Lebih akrab dikenal tulang keropos. Kondisi tulang banyak lubang memicu risiko patah tulang pinggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan. Patah tulang aki­bat osteoporosis merupakan penyebab fatal kelumpuhan.

Osteoporosis dapat diantisipasi sedini mungkin sebelum parah terjadi fraktur (patah tulang). Salah satu cara termudah, mengatur makan yang menopang kesehatan tulang dengan menu sehat, seimbang serta cukup kalsium. Daun lamtoro dan kelor sayuran murah dengan kandungan kalsium tinggi.

Penderita osteoporosis bisa makan pagi (roti, telur ceplok, daun selada, tomat, susu cokelat setengah gelas). Pukul 10.00 makan jambu biji. Makan siang (nasi, pepes ikan teri, tahu ba­cem, gado-gado, sayur asem, pepaya). Pukul 16.00 makan biskuit dan minum jus melon. Makan malam (nasi, ayam bumbu bali, oseng tempe, sup sayuran, pisang). Pukul 21.00 minum susu setengah gelas (hlm 106-107).

Osteoarthritis atau OA (osteo/tu­lang dan arthritis/radang sendi) ada­lah sakit sendi karena proses degen­eratif dan peradangan tulang rawan sendi. Penyakit ini menjadi indikasi kemunduran bertahap pada jaringan lunak sekitar sendi. Gejalanya seperti nyeri lutut (OA encok lutut), kaku, dan hilang fungsi.

Arthritis merupakan istilah medis peradangan sendi dari bahasa Yu­nani, arthos (sendi) dan itis (infla­masi). Inflamasi adalah reaksi tubuh terhadap benda asing yang ditandai panas, bengkak, nyeri, dan gangguan fungsi organ tubuh. Arthritis juga menunjukkan sebuah sendi yang cedera, teregang, terinfeksi dan rusak, atau aus (susut karena terlalu sering igunakan).

Namun, pasti terjadi peradangan dan proses degeneratif dalam OA (hlm 30). Terlapor sekitar 25 persen orang 55 tahun atau lebih mengalami sakit lutut berkali-kali dalam sebulan. Se­cara medis ternyata sekitar 50 persen terserang OA lutut. Kementerian Ke­sehatan beberapa tahun lalu berhasil memetakan, sekitar 11,5 persen orang Indonesia menderita OA. Artinya, se­tiap 10 penduduk Indonesia terdapat 1 penderita OA.

Penyakit ini selalu mengincar orang usia di atas 50. Tidak menutup kemungkinan di bawah 40 tahun pun menderita OA. Kebanyakan mereka telah mengalami kerusakan tulang rawan sendi sejak muda. Wanita 53 persen dan pria 37 persen yang mend­erita OA. Jadi, OA merupakan penyakit umum usia lanjut dengan penyebab utama disabilitas dan penurun mutu hidup.

Untuk mencegah OA, perlu mem­pertahankan berat badan ideal, olahraga teratur, konsumsi suplemen, meminimalisasi minuman kafein, dan menggunakan alas kaki yang nyaman. Menyepelekan berat badan ideal men­jadi pemicu dini OA. Cara termudah deteksi ideal ataukah obesitas dengan mengukur lingkar pinggang.

Wanita dikata ideal jika lingkar pinggangnya kurang dari 80 senti dan pria 90. Atau dengan indeks massa tubuh. Rumusnya, berat badan dibagi tinggi badan, dikali tinggi badan. Kegemukan menjadi siksa beban tumpuan sendi. Diresensi Yustina Windarni, alumna Politeknik API Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment