Mengunjungi Gua Jepang Pasir Langlang yang Masih Alami | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments
Purwakarta

Mengunjungi Gua Jepang Pasir Langlang yang Masih Alami

Mengunjungi Gua Jepang Pasir Langlang yang Masih Alami

Foto : FOTO-FOTO: KORAN JAKARTA/TEGUH RAHARDJO
A   A   A   Pengaturan Font

Pasukan Jepang dan Belanda saat menguasai Nusantara banyak membuat tempat persembunyian di perbukitan hingga pegunungan. Tempat-tempat itu mulai ditemukan dan kebanyakan berbentuk gua. Sebagian sudah direstorasi, sebagian lainnya seperti dibiarkan menjadi sarang kelelawar dan binatang buas.

Sudah banyak gua Belanda atau Jepang yang berhasil ditemu­kan dan dilestarikan, namun ternyata masih banyak pening­galan sejarah berbentuk gua persem­bunyian yang masih tertutup alam di sekitarnya atau masih alami.

Misalnya di kawasan wisata alam hutan pinus Pasir Langlang Kabupaten Purwakarta. Warga sekitar sering pula menyebutnya sebagai titik Ujung Aspal. Disebut demikian karena di titik tersebut, jalan beraspal memang sudah habis.

Tidak banyak masyarakat yang mengetahui jika di kawasan Pasir Langlang ini terdapat lubang persem­bunyian pasukan Jepang yang diban­gun sekitar 1942.

“Ada dua gua. Satu gua ada 16 kamar, satu lagi hanya tiga kamar,” ujar Pak Edi, salah satu pekerja Perhutani Kawasan Bandung Utara itu.

Pasir Langlang memang masih dalam pengelolaan Perhutani. Ka­wasan hutan pinus seluas 32 hektare itu menjadi pusat konservasi sekaligus hutan kayu yang dikelola Perhutani sejak lama. Lokasi Pasir Langlang sendiri berada di Desa Pusaka Mulya, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Saat ini kondisi gua masih sangat alami, belum ada pemugaran, se­hingga lebih banyak dihuni kelelawar. Sehingga jika ingin melihat gua harus membawa pemandu dari pihak Per­hutani. Lokasi gua tidak terlalu jauh, sekitar 300 meter dari pintu masuk Pasir Langlang.

Dugaan sementara, menurut petu­gas Perhutani, gua dengan 16 kamar digunakan untuk tinggal pasukan Jepang, sementara gua lainnya sebagai gudang amunisi. Jejak-jejak sejarah tentara Jepang juga pernah ditemukan di tempat ini.

Gua Jepang ini diperkirakan cukup dalam. Dari luar terlihat seperti lubang kecil, namun di bagian dalamnya ternyata cukup luas. Tinggi pintu masuk sekitar 1,5 meter sehingga perlu merunduk untuk bisa masuk. Panjang lorong-lorong didalam diperkirakan mencapai 300 meter.

Gua yang dibangun oleh pekerja paksa atau Romusha dari warga Pur­wakarta itu di bagian dalamnya dibuat seperti labirin berbentuk memutar, sehingga ada dua pintu. Diantara jalur jalan terdapat lubang-lubang perse­mbunyian atau kamar bagi serdadu Jepang.

Sementara gua satunya lagi diper­kirakan untuk menyimpan senjata, mesiu hingga alat komunikasi. Belum ada penerangan sama sekali di dalam gua. Sehingga pengunjung pun seperti enggan untuk masuk melihat bagian dalam. Selain gelap dan berbau ko­toran kelelawar, juga ada kekhawatiran gua akan ambruk. tgh/R-1

Selfie dan Kemping

Pasir Langlang cocok untuk berwisata bagi penggemar hiking atau jogging dengan track ekstrem. Memang sudah ada jalan yang dibuat dengan batako, namun menyusuri jalur yang masih berbatu juga bisa menjadi kegiatan yang mengasyikkan saat berada di Pasir Langlang.

Kegiatan lainnya adalah berkemah atau camp­ing. Pengelola menyediakan lahan untuk pen­gunjung yang ingin menginap di sini. Bisa datang dengan membawa peralatan sendiri, atau cukup menyewa. Kebetulan ada warga yang menye­diakan sarana sewa tenda untuk menginap di Psir Langlang.

“Banyak yang mengniap ditenda, aman kok, tidak ada binatang buas. Selain itu ada juga pen­jaganya,” ujar Edi ketika ditanya animo masyara­kat yang berkunjung ke Pasir Langlang ini.

Diantara pohon pinus, pengelola juga sudah menyediakan hammock. Hammock warna-warni dipasang tidak terlalu tinggi, bisa digunakan untuk bersantai diantara tingginya batang pohon pinus.

Pengelola pun sudah mulai berbenah dengan membangun deck bagi keperluan selfie. Ada deck yang dipasangi sayap malaikat. Dengan berdiri di tengahnya dan difoto, maka seolah pengunjung akan memiliki sayap malaikat.

Lalu ada juga deck untuk flying fox. Pengelola sudah menyediakan flying fox karena dalam setahun terakhir, mulai ada kelompok masyara­kat yang datang untuk berwisata atau gathering. Di dalam kawasna juga terdapat bangunan yang dapat digunakan untuk beristirahat atau berkum­pul untuk makan bersama.

Pasir Langlang jika dikelola dengan baik terutama membangun jalan yang mulus, tentunya akan menjadi destinasi wisata pedesaan baru di Purwakarta. Terutama bagi kunjungan wisatawan keluarga, atau yang menyukai wisata alam hutan dan pegunungan. tgh/R-1

Diantara Kebun Teh dan Hutan Pinus

Pasir Langlang sejatinya adalah kawasan hutan pinus dengan kebun teh di sekitar hutan. Untuk mencapain­ya dapat ditempuh dari pintu tol Jatiluhur pada jalan tol Purbaleu­nyi. Arahkan kendaraan menuju Jalan Wanayasa.

Atau jika dari Bandung, perjalanan bisa dilalui melintasi Lembang hingga Subang dan di­lanjutkan ke Purwakarta menuju Jalan Wanayasa.

Jalan utama masih cukup mulus dan beraspal baik, namun sekitar satu kilometer menjelang gerbang masuk Pasir Langlang jalan yang dilalui mulai ber­gelombang. Inilah yang mem­buat warga setempat menyebut­nya ujung aspal.

Saat Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum, menyambangi kawasan berpo­tensi wisata unggulan Jabar itu, diakuinya, masalah utama Pasir langlang adalah infrastruktur jalan yang masih rusak. Sehingga ia berjanji, kawasan yang akan dijadikan sebagai desa wisata itu akan mendapatkan bantuan perbaikan jalan.

Selain jalan, juga akan dibangun lokasi penginapan, toilet yang bersih dan juga rumah makan atau warung yang representatif. Untuk itu ia mengajak masyarakat dan pihak swasta untuk ikut membangun lokasi potensial itu. Saat ini Pasir Langlang memang masih dalam pengelolaan Perhutani.

Selama perjalanan menuju lokasi, mata akan segar oleh pemandangan kebun teh nan menghijau. Semakin mendekat lokasi, udara terasa semakin sejuk. Setelah membayar ongkos masuk. Pengunjung dapat memarkirkan kendaraan di sisi-sisi jalan menuju kawasan. Saat ini memang belum tersedia lahan parkir.

Tiba di lokasi, pengunjung dapat berisitirahat sejenak di warung-warung sederhana yang menyediakan jajanan hingga makanan berat. Atau dapat lang­sung memulai jalan berkeliling di kawasan tersebut. Sudah ada jalur paving blok untuk me­nyusuri hutan pinus yang segar tersebut. tgh/R-1

 

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment