Menikmati Keindahan Pantai Pandawa | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments

Menikmati Keindahan Pantai Pandawa

Menikmati Keindahan Pantai Pandawa

Foto : koran jakarta/selocahyo
A   A   A   Pengaturan Font

Potensi wisata bahari Indonesia telah dikenal di kalangan wisatawan dalam dan luar negeri. Dengan garis pantai 99.093 kilometer, terpanjang nomor dua di dunia, dan jumlah pulau mencapai 17.504 buah, memberi pilihan destinasi wisata tanpa batas bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai dan alam bawah laut Nusantara.

Salah satu pulau yang men­jadi primadona pariwisata Indonesia dan terkenal di seluruh dunia adalah Bali. Pulau Dewata ini terkenal de­ngan keindahan alam, terutama pantai-pantai. Bali juga populer di kalangan turis pencinta seni budaya karena kebiasaan warga pulau itu yang masih memegang teguh beragam adat istiadat, yang kerap dijadikan objek wisata lewat pementasan tarian, upacara adat, hingga kerajinan tangan.

Seiring waktu dan perkembang­an dunia olahraga, wisatawan kerap melakukan berbagai aktivitas yang menantang nyali di sebuah desti­nasi wisata. Jenis aktivititas yang di­lakukan umumnya disesuaikan de­ngan potensi dan kondisi geografis sebuah lokasi. Bicara soal wisata bahari, tentu pembaca sudah tidak asing dengan beragam aktivitas yang kerap dilakukan wisatawan untuk mengisi waktu, mulai bere­nang, berperahu, menyelam, dan lainnya.

Pantai Pandawa

Mendengar kata Pandawa, pembaca akan langsung terbayang pada kisah pewayangan terkenal, Mahabharata. Pantai Pandawa yang terletak di Desa Kutuh, Ke­camatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, ini memang diberi nama sesuai tokoh protagonis utama da­lam bagian penting dari wiracarita Mahabharata, yang terlibat dalam pertempuran besar di daratan Ku­rukshetra melawan para Korawa.

Masyarakat Desa Kutuh meng­anggap ada kemiripan antara cerita Pandawa dengan terjadinya sejarah Pantai Pandawa. Dalam Kitab Mahabharata diceritakan keluarga Pandawa yang berasal dari keluarga kerajaan sempat kalah pertarungan dan disekap oleh musuh. Namun, mereka berhasil melarikan diri ke hutan dengan menggali jalan rahasia dan semangat kebersamaan dengan masyarakat sekitar, mereka berhasil membangun Kerajaan Amertha yang makmur.

Pada awalnya, pantai yang di­beri julukan Secret Beach (Pantai Rahasia) oleh para wisatawan mancanegara (wisman) ini sekadar digunakan warga sebagai tempat menjalankan Upacara Melasti, yak­ni ritual penyucian diri umat Hindu untuk persiapan menghadapi Hari Raya Nyepi. Namun karena suasana destinasi lain seperti Pantai Kuta terasa padat dengan suasana hiruk pikuknya, para wisman menyukai pantai ini karena memiliki suasana yang tenang. Beberapa turis asing yang ingin mencari ombak untuk berselancar di pantai yang lebih sepi mulai meramaikan lokasi di kawasan Bali selatan itu.

Namun untuk mencapai Secret Beach yang tersembunyi di balik gugusan perbukitan karang itu membutuhkan perjuangan. Baik warga yang ingin melakukan upa­cara atau wisatawan yang datang untuk menemukan suasana tenang harus melalui jalan terjal yang cu­kup jauh.

Seiring kabar menyebar dari mulut ke mulut, wisatawan lokal mulai ikut mengenal dan meramai­kan pantai, sehingga akses jalan menuju lokasi mulai dibangun. Pada 2010, para tokoh Desa Kutuh memutuskan membuka pantai menjadi kawasan wisata yang lebih ramai. Selanjutntya pada 2012, pantai tersebut ditetapkan sebagai kawasan wisata dan diberi nama Pantai Pandawa.

Beragam aktivitas seru dan me­nyenangkan bisa dilakukan oleh pengunjung pantai dengan ham­paran pasir putih ini. Sebut saja berselancar, main kano, berenang, hingga main paralayang, atau seka­dar bermalas-malasan menikmati keindahan ombak berwarna biru muda.

Ya, keindahan Pantai Pandawa adalah modal utama destinasi ini sehingga wisatawan rela jauh-jauh datang. Jalan masuk menuju pantai diapit oleh jajaran tebing batu­an berwarna putih yang kontras dengan langit biru. Memasuki area pantai, pengunjung akan disambut jajaran patung para tokoh Pandawa Lima, yaitu Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa dengan ukuran yang cukup besar. Masing-masing patung diletakkan secara terpisah pada ceruk buatan dengan keting­gian sekitar lima meter.

Kombinasi bukit-bukit tebing dengan lautan biru dan hamparan pasir putih Pantai Pendawa me­mang penuh pesona. Tak jarang, lokasi ini digunakan untuk keperlu­an pengambilan gambar sinetron atau video klip musik.

Sementara bagi pengunjung yang gemar olah raga ekstrem, dapat mencoba naik paralayang dari Bukit Timbis, mengikuti aliran angin hingga turun perlahan ke Pantai Pandawa. Dari atas, pemain paralayang dapat menikmati pe­mandangan menakjubkan berupa garis pantai putih yang meman­jang, bertemu dengan deburan biru ombak Samudera Indonesia. Se­mentara dari bawah, warna-warni payung paralayang yang terbang di langit menjadi hiburan tersendiri bagi pengunjung.

Waktu yang cocok untuk ber­main paralayang adalah pagi atau sore hari, karena sinar matahari tidak terlalu terik. Untuk mencoba olahraga ini, pengunjung harus rela berjalan naik ke Bukit Timbis dulu yang cukup jauh dari pantai. Biaya yang harus dikeluarkan untuk bermain paralayang secara tandem dengan pemandu bersertifikasi adalah 450 ribu rupiah.

Sementara untuk pengunjung yang punya keahlian dan kebera­nian menaklukan ombak, jangan lewatkan kesempatan berselancar di Pantai Pandawa. Pantai ini akan ramai dikunjungi oleh para pese­lancar, terutama saat musim hujan atau sekitar bulan Oktober hingga bulan April, karena gelombang yang cukup besar dan menantang. Gulungan ombak yang tinggi dan konsisten sudah menjadi favorit bagi peselancar.

Untuk pengunjung yang belum bisa berselancar, masih punya pilihan olahraga air lain yakni kano. Bermain kano di Pantai Pandawa, baik secara tandem (berdua) atau tunggal cukup seru. Kita harus be­kerja sama mengayuh perahu kano ke arah tengah, sambil menaklukan ombak yang datang ke arah pantai. Tak perlu takut tenggelam, karena biaya sewa kano 25 ribu rupiah per orang sudah termasuk dengan paket pelampung badan.

Sementara bagi wisatawan yang ingin sekadar bermalas-malasan sambil menikmati keindahan garis pantai, dapat menyewa kursi dan payung dengan harga 50 ribu ru­piah untuk setiap tiga jam. Berje­mur di bawah sinar matahari Bali, sambil menikmati es kelapa muda dan membaca buku bisa menjadi pengalaman liburan dengan sen­sasi yang menyenangkan.

Bagi pengunjung yang ingin memanjakan diri, tersedia jasa pijat refleksi dari warga sekitar. Segarkan diri setelah menempuh perjalanan jauh dengan melancarkan peredaran darah dan melemaskan otot yang kaku. Untuk biaya yang dikeluarkan berkisar antara 40 sampai 130 ribu rupiah, bergantung waktu layanan yang diberikan, 30 sampai 90 menit. Ada beberapa jenis layanan yang diberikan, yaitu Balinese massage, pijat refleksi kaki, pijat relaksasi, Pandawa massage, Shiatsu massage, manicure, dan pedicure. SB/E-3

Biorock Pantai Pemuteran

Laut adalah tempat tinggal beranekaragam kehidupan. Kehidupan laut berperan penting dalam siklus karbon se­bagai organisme fotosintetik yang mengubah karbon dioksida terlarut menjadi karbon organik. Di setiap tingkatan kedalaman dan zona suhu, terdapat habitat-habitat ter­sendiri untuk spesies-spesies yang unik, sehingga lingkungan laut memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Terdapat bermacam-macam habitat laut, dari habitat di permukaan laut hingga palung yang paling dalam.

Beberapa contohnya adalah terumbu karang, hutan kelapa, pa­dang lamun, kolam pasang-surut, dasar laut yang berlumpur, berpasir dan berbatu, serta zona pelagik terbuka. Organisme yang hidup di laut juga bermacam-macam, dari ikan paus hingga fitoplankton dan zooplankton mikroskopis, fungi, dan bakteri.

Keindahan alam bawah laut Indonesia telah dikenal di kalangan penyelam dunia. Bagi penggemar olahraga selam yang kebetulan berada di Bali, sempatkan me­lihat budi daya terumbu karang Biorock di Pantai Pemuteran, Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng.

Biorock adalah metode menum­buhkan karang menggunakan arus listrik lemah, yang cukup aman bagi organisme dan penyelam. Listrik bertegangan sangat rendah dialirkan ke struktur konduktif yang dibenamkan di bawah air, maka mineral-mineral laut yang terlarut, seperti kalsium, magnesium, dan bikarbonat akan mengendap dan menempel pada struktur tersebut. Hasilnya adalah substrat kom­posit dari brusit hidromagnesit dan kapur, dengan kekuatan mekanis yang setara dengan beton. Karena didapatkan dari air laut, material ini setara komposisinya dengan substrat karang-karang alami.

Pengembangan biorock di Pan­tai Pemuteran yang kini dilakukan oleh warga, awalnya dibantu oleh peneliti dari Jerman, Wolf Hilbertz, dan Thomas Goreau dari AS pada tahun 2000. Kedua peneliti melaku­kan eksperimen pembuatan terum­bu karang dengan metode Biorock selama tiga bulan dan dengan hasil sesuai harapan. Pertumbuhan terumbu karang dengan metode Biorock lebih cepat dua hingga enam kali lipat dibandingkan per­tumbuhan secara alami.

Menariknya, warga melakukan penumbuhan karang di struktur-struktur buatan dengan berbagai bentuk yang menarik, sesuai kearifan budaya lokal masyarakat Bali. Sebut saja struktur patung gajah ganesha, garuda wisnu, siwa, hingga Buddha. Kehadiran patung-patung terumbu karang tersebut menimbulkan sensasi sendiri saat menyelam di Biorock Pemuteran. Puluhan ikan hias berseliweran di antara struktur terumbu berukur­an besar, seperti ramai lalu lalang kendaraan di jalan dengan gedung pencakar langit di sana-sini.

Bagi penyelam yang ingin merasakan sensasi menegangkan, dapat mencoba kegiatan night dive atau menyelam malam. Kegelap­an pekat langsung menyambut pandangan begitu penyelam masuk ke dalam air. Tak ada yang terlihat kecuali bagian laut yang menda­pat cahaya lampu sorot. Hanya kesunyian dan suara gelembung udara dari pernapasan penyelam yang terdengar. Di tengah kehen­ingan yang gelap tiba-tiba, patung berbagai makhluk berukuran besar telah ada di hadapan mata. Sensasi tegang bercampur menjadi satu dengan rasa ingin tahu, membuat penyelam menjelajah lebih jauh daria garis pantai. Namun, struktur-struktur terumbu karang biorock hanya berada di sekitar kedalam­an 5 sampai 10 meter, tidak terlau jauh dari garis pantai. Menyelam dengan kedalaman seperti itu da­pat menghemat persediaan udara dalam tabung, sehingga kegiatan penyelaman dapat berlangsung lebih lama.

Selain pesona patung terum­bu karang, penyelam juga dapat menjumpai beragam makhluk laut yang sedang beraktivitas di malam hari, seperti ikan buntal, anemon, ular laut, atau clown fish.

Untuk menuju lokasi destinasi wisata tersebut, Anda dapat meng­gunakan pesawat Garuda Indone­sia, Citilink, dan Sriwijaya Air de­ngan tujuan Bandara Internasional, Ngurah Rai, Denpasar, Bali. SB/E-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment