Koran Jakarta | September 19 2019
No Comments
PERADA

Menyimak Komunitas Seni Lukis Bali

Menyimak Komunitas Seni Lukis Bali

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Bali, tercatat salah satu tempat yang mendunia, dimana infrastruktur tidak hanya memfasilitasi denyut kehidupannya, melainkan juga menumbuhkan image seni rupa. Perkembangan sejarah seni lukis di Pulau Dewata telah berlangsung dalam waktu yang panjang, dimulai sejak seni lukis wayang untuk fungsi ritual dan hiasan istana raja, hingga kemudian muncul seni lukis Bali baru era 1930-an.

Kehidupan masyarakat Bali menempatkan pelukis pada posisi sosial yang sangat penting. Mereka menjadi bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas adat dan agama. Karya lukisan mereka menjadi perangkat ritual. Secara kebetulan laku sehari-hari manusia Bali, terutama dalam hal beribadah, sangat dekat dengan meditasi.

Kondisi tatanan setempat telah memapankan status pelukis pada posisi ideal secara sosiologis menjadikan sistem pewarisan praktik seni lukis berjalan turun-temurun. Wayan Kun Adnyana telah memperkaya pengetahuan kita mengeni gerakan seni lukis di Bali yang disebutnya sebagai fenomena Pita Maha.

Apa yang diungkapkan oleh penulis tersebut adalah suatu gerakan sosial seni lukis Bali yang menunjuk pada gelombang praktik kreatif pelukis di sekitar pedesaan Ubud dan sekitarnya dalam menghasilkan karya seni lukis baru pada 1930-an. Gelombang kreatif itu berjarak dari kecenderungan langgam seni lukis klasik Kamasan yang biasanya untuk melukiskan dunia dongeng.

Pola kreatif baru tersebut tidak saja bicara tentang teknik artistik, tetapi juga menyangkut paradigma ideologi estetika. Praktik seni lukis baru yang secara tegas dipandang sebagai media ekspresi personal dan mazhab kelompok yang lazim itu dikenal dengan sebutan Pita Maha. Langgam seni lukis Bali modern tersebut tetap diusung para penganutnya yang militan dan sebagai penyangga sosial hingga kini.

Hal ini membutikan posisi penting Pita Maha dalam kesejarahan seni rupa Bali dan Indonesia. Ia tetap menginspirasi generasi pelukis Bali di masa sekarang, walaupun kerumitan teknik dan waktu pengerjaan memakan waktu relatif lama.

Para pelukis yang terlibat banyak yang muncul menjadi pelukis populer dengan karya-karya yang berkualitas yang banyak disimpan oleh para kolektor dari berbagai negara. Dua catatan penting dari Pita Maha adalah hadirnya masyarakat penyangga seni. Ini diwujudkan dalam patronasi Puri Ubud yang terdiri dari Tjokorda Gde Raka Sukawati dan Tjokorda Gde Agung Sukawati bersama Walter Spies dan Rudolf Bonnet.

Selain itu juga keterlibatan pelukis senior seperti Lempard dan Ida Bagus Kembeng. Dalam waktu yang bersamaan, Pemerintah kolonial Belanda membuat kebijakan baliseering (balinisasi) dengan tujuan untuk menguatkan industri pariwisata yang mulai dikembangkan di Bali. Industri Pariwisata Bali pada 1930-an sangat memberikan apresiasi terhadap pelaku seni lokal sehingga mereka mempunyai modal ekonomi.

Pita Maha menciptakan arena seni yang kompleks, dengan mengundang hadirnya agen-agen seni lukis, kurator dan kolektor serta pemilik galeri. Buku ini diterbitkan seperti apa adanya yang diangkat dari disertasi di ISI Yogyakarta. Alangkah baiknya bila di kemudian hari diedit kembali dengan wajah baru agar semakin menarik dan luwes bagi pembaca..

Layaknya karya ilmiah, didalamnya tertulis daftar pustaka yang cukup memadai ada buku penting disini, pernah terbit dalam Tri Bahasa, yakni Bali:Atlas Kebudayaan/Cults and Customs/ Cultuurgeschiedenis in Beeld yang disusun oleh Dr. R. Goris (Text) dan Drs. P.L. Dronkers (Photography), yang mana R. Bonnet yang dibahas dalam karya penulisnya ikut menyusun buku ini.

Penelitian ini cukup menarik, baik itu berhubungan dengan kajian artistik seni lukis 1930-an yang hingga kini masih disimpan abadi di museum-museum ternama, maupun karakter gerakan sosial seni yang berhasil menciptakan reputasi banyak pelukis andal. Konsep estetika seni lukis yang khas itu bahkan tetap dijadikan pedoman para pelukis muda Bali hingga kini.

Buku ini dilengkapi banyak foto dan gambar sehingga kita mudah memahami narasinya dan merupakan referensi bagi siapa saja yang berminat pada sejarah seni. 

 

Peresensi, Toto Widyarsono, Pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment