Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
Potret Pendatang

Meraih Peruntungan Baru di Ibu Kota

Meraih Peruntungan Baru di Ibu Kota

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran sering kali menjadi momen untuk berkumpul dengan sanak keluarga yang jarang ditemui atau berada di tempat yang jauh. Momen itu dikatakan pula dengan nama ‘mudik’, ketika orang-orang kembali ke kampung halaman mereka untuk beberapa saat demi merayakan hari istimewa tersebut.

Biasanya mudik di­lakukan menjelang 2 sampai 7 hari se­belum dan sesudah Hari Raya. Namun mudik ti­dak hanya berkumpul dengan keluarga saja. Tidak jarang kalau selepas mudik, biasanya orang-orang akan berbon­dong-bondong pergi ke kota. Entah sekadar menghabiskan waktu sesaat di kota ataupun mencari peruntungan di tempat lain.

Kota-kota seperti Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi dan Bandung men­jadi salah satu tujuan para perantau. Bahkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) DKI Jakarta memperkirakan ada sekitar 71 ribu pendatang baru masuk ke ibu kota. Angka tersebut me­ningkat jika dibandingkan de­ngan tahun lalu. Ada kenaikan sekitar 2 ribu orang menurut data Disdukcapil.

Bahkan data Perencanaan Pembangunan Nasional (Bap­penas) mengatakan bahwa jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 318 juta jiwa pada 2045. Dengan porsi pen­duduk perkotaan tumbuh dari awalnya 53 persen pada 2015 menjadi 55 persen pada 2018.

Selain itu, tingkat urban­isasi rata-rata mengalami peningkatan sebesar 2,3 persen per tahun, dengan perkiraan 66,6 persen pada 2035, 67 persen pada 2045 dan 70 persen pada 2050. Tentu­nya angka tersebut membuat daerah perkotaan mengalami kepadatan penduduk dari ta­hun ke tahun.

Provinsi DKI Jakarta men­jadi provinsi terpadat di Indo­nesia, menurut Badan Pusat Statistik. Pada 2018, jumlah penduduk DKI Jakarta menca­pai 10,4 juta jiwa. Bahkan ting­kat kepadatan di DKI Jakarta sendiri mencapai 15,804 orang per km2. Apalagi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mempersilahkan pada penda­tang baru jika ingin mengadu nasib di ibu kota. Ia tidak akan menerapkan operasi yustisi yang biasa dilakukan pada arus balik lebaran.

Dikhawatirkan, terusnya bertambah angka urban­isasi ke ibu kota akan men­jadi penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Selama 2018 saja, Dinas Sosial DKI Jakarta menjaring sekitar 6.400 PMKS seperti gelandan­gan dan pengemis di ibu kota. Sebagian besar mereka berasal dari luar Jakarta, seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah. gma/R-1

Beradaptasi di Ibu Kota

Mencoba meraih peruntungan baru, merupakan salah satu alasan yang membuat orang berdatangan ke ibu kota. Salah satunya adalah Desi, asal Yogyakarta yang sudah tinggal di Jakarta selama kurang le­bih empat tahun. Ia bercerita bahwa alasannya pindah ke Jakarta adalah karena peker­jaan, terlebih tawarannya yang lebih menarik dibandingkan di tempatnya tinggal dahulu.

“Tertarik bekerja di Jakarta, apalagi dapat tawaran yang menarik dibandingkan de­ngan di kampung halaman. Menurutku, bekerja di Jakarta bisa menjadi tolak ukur sejauh mana saya bisa bertahan men­jadi perantau,” katanya.

Desi mengatakan, kesem­patan bekerja di Jakarta me­mang lebih besar dibanding­kan kota tempatnya tinggal dahulu. Namun hal itu juga dibarengi dengan biaya hidup­nya yang lebih tinggi sehingga mau tidak mau, harus pintar-pintar mengatur keuangan.

“Apalagi di sini tidak ada keluarga dan harus bayar kos sendiri. Tetapi beruntung di sini ada teman-teman kuliah waktu di Yogya, sehingga bisa saling bantu,” ceritanya.

Ia juga merasakan ada per­bedaan ketika baru pertama kali tinggal di Jakarta. Seperti orang di Jakarta yang lebih cuek dan individualis serta harga makanan yang mahal.

“Dahulu awal-awal ke Jakarta seperti merasa orang-orang di Jakarta cuek gitu. Tetapi yang paling signifikan harga makanan di sini yang mahal-mahal. Kalau di Yogya juga masih ada hiburan alam, sementara di sini hanya ba­nyak gedung dan mal,” kata Desi.

Ia sendiri membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk beradaptasi tinggal di ibu kota. Namun Desi tidak terlalu me­mikirkan dan membiarkannya berjalan seperti biasa. gma/R-1

Memilih Tinggal di Kota Kecil

Sementara di Inggris, karena harga sewa apartemen mahal khususnya di kota-kota besar, mendorong para remaja untuk tetap tinggal di kota-kota kecil. Para remaja ini tidak bisa pin­dah karena bayaran di sana lebih tinggi menurut Resolution Foundation.

Salah satu yang membuat para remaja itu pindah ke kota besar tentunya adalah mencari peruntungan, berdasar­kan sebuah penelitian. Kebanyakan para remaja ini tinggal bersama orang tua mereka atau pergi kuliah karena tidak mampu membayar sewa tempat di mana mereka bisa menghasilkan lebih banyak uang.

Ditemukan pula bahwa orang yang berusia 25 sampai 34 tahun yang memi­liki pekerjaan baru dan pindah ke rumah baru telah mengalami penurunan hampir 40 persen selama dua dekade terakhir.

Padahal generasi sebelumnya mampu pindah ke kota besar seperti London, Manchester, Leeds dan Bristol untuk mengembangkan karir mere­ka. Namun generasi milenial saat ini cenderung bertahan akan pemerosotan mobilitas yang dikarenakan harga sewa yang naik.

Meskipun begitu, pindah ke tempat yang lebih dekat dikatakan jauh lebih baik. Setiap orang dengan penghasilan rata-rata di Scarborough membayar rata-rata sewa sekitar 29 persen. Jauh lebih baik jika mereka harus pindah ke Leeds dan membayar harga rata-rata sewa dari penghasilan rata-rata mereka. Karena pindah pekerjaan adalah cara terbaik untuk menaikkan penghasilan dan melalui berbagai teknologi canggih yang sudah saat ini adalah jalan terbaik untuk menemukan pekerjaan-peker­jaan itu.

Hannah Wilde dari Sunderland con­tohnya, ia mengatakan kalau beren­cana ingin pindah ke London untuk mengejar karirnya di penerbit. Namun mundur ketika melihat harga penye­waan apartemen di ibu kota Inggris itu. “Beberapa kamar di London harganya setara dengan gajiku di digital market­ing di Sunderland,” katanya. Ia pun mensiasatinya dengan mengambil kesempatan lain di perusahaan lain di daerah lain, yang tidak sebesar di London.

“Anak muda saat ini seringkali ste­reotip pergi ke mana-mana ketika itu berkaitan dengan pekerjaan. Faktanya, mereka berkeliling untuk kesempatan pekerjaan baru. Alasan utama kenapa orang berganti-ganti pekerjaan adalah karena terpikat gaji yang besar. Tetapi meningkatnya penghasilan akan digu­nakan pula oleh biaya sewa yang mahal,” tutur Lindsay Judge, Senior Policy Ana­lyst dari Resolution.  gma/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment