Koran Jakarta | September 18 2019
No Comments
74 Tahun Indonesia Merdeka

Merajut Karakter Jati Diri Bangsa

Merajut Karakter Jati Diri Bangsa

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke me­miliki kekayaan budaya yang beragam. Keanekaragaman itu kini tidak hanya perlu dilestarikan, tapi juga harus berdampak penting dalam segala aspek kehidupan ma­syarakat, maupun bagi satu kesatuan bangsa yang kuat.

Pada ulang tahun kemerdeka­an Indonesia yang ke 74 ini, tidak dipungkiri peran budaya semakin kuat. Hal ini terlihat pada era pe­merintah Joko Widodo (Jokowi), yang melihat pembangunan tidak hanya bertumpu pada peningkatan perekonomian dan kesejahteraan semata, tetapi unsur kebudaya­an menjadi hal penting yang patut diperhitungkan.

Semua ini tak terlepas dari peran kebudayaan yang mampu mencipta­kan investasi tersendiri dalam mem­bangun masa depan dan peradaban bangsa di segala lini kehidupan.

Ketua Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), Catrini Pratihari Kubontubuh

Catrini Pratihari Kubontubuh/ISTIMEWA

Ketua Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), Catrini Pratihari Kubontubuh, menceritakan, di era kemerdekaan ini, sangat penting untuk kita sadari semangat awal kemerdekaan yang mempersatu­kan, menjunjung tinggi kebinekaan, penghargaan akan budaya leluhur yang kini hidup berdampingan dengan budaya luar, wajib kem­bali dikedepankan. “Peran budaya tradisi khas perlu dimunculkan, sebagai bagian gaya hidup untuk perkembangan bangsa yang lebih baik dimasa depan,” terangnya ke­pada Koran Jakarta.

Gerakan kesadaran akan nilai luhur kebudayaan Indonesia, harus secara bersama dilakukan, baik pihak pemerintah, masyarakat mau­pun komunitas.

“Kebijakan yang lahir dari pe­mangku kepentingan, sangat baik apabila turut memfasilitasi inisiatif dan kesadaran masyarakat akan pentingnya budaya di era kekinian,” sambungnya.

Catrini menilai, setiap pem­bangunan harus dikemas dengan program terencana. Gagasan pusat harus dibarengi inisiatif lokal, misal pembangunan destinasi 10 wisata baru. “Jadikan masyarakat lokal, tra­disi budaya setempat harus menjadi aktor penting di lokasi wisata itu. Minimalisir bangun hotel berbin­tang, perkuat homestay. Jadi wisata­wan dapat bersinggungan langsung dengan masyarakat adat di basis wisata tradisi yang ada di masing-masing wilayah,” terangnya.

Yang perlu diapresiasi pula, kepedulian masyarakat belakangan semakin terbangun. “Kalau sebe­lumnya generasi muda sibuk bekerja sekaligus asyik mengenal budaya bangsa lain, kini justru budaya lokal lambat laun semakin menguat. Ti­dak hanya di lingkup ruang-ruang kesenian tradisi modern yah, saya melihat eksotisme kebudayaan Ta­nah Air juga banyak dinikmati, dan mulai diekplorasi potensinya,” papar Catrini. ima/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment