Mesti Antisipasi Pembalikan Arah “Hot Money” | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments
Ancaman Resesi - Hingga September, “Capital Inflow” Capai Rp189 Triliun

Mesti Antisipasi Pembalikan Arah “Hot Money”

Mesti Antisipasi Pembalikan Arah “Hot Money”

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
Kalau bunga acuan diturunkan, berarti akan terjadi risiko pelarian modal. Sebaliknya jika bunga naik, dana asing datang lagi.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Indonesia mesti mengantisipasi risiko pembalikan arah modal asing, di balik derasnya aliran masuk dana mancanegara berjangka pendek atau hot money ke dalam pasar keuangan domestik belakangan ini.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan aliran modal asing akan semakin deras masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Hingga September ini, capital inflow tercatat mencapai 189,9 triliun rupiah yang masuk ke instrumen portofolio berupa Surat Berharga Negara (SBN) dan saham.

Ekonom Indef, Tauhid Ahmad, mengatakan di tengah-tengah ketidakpastian global, terutama akibat belum tuntasnya kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok serta memanasnya geopolitik di Timur Tengah, BI memang harus terus waspada agar bisa mengantisipasi pergerakan arus modal, khususnya hot money.

“Makanya, instrumen terkuat hot money itu di suku bunga dan kondisi makroekonomi yang cukup stabil. Kalau bunga acuan diturunkan, berarti akan terjadi risiko pelarian modal. Sebaliknya jika bunga naik, modal asing kembali lagi,” tutur dia, di Jakarta, Minggu (29/9).

Menurut Tauhid, hot money yang umumnya ditempatkan di sektor keuangan dan investasi portofolio perlu ditarik menjadi investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/ FDI) sehingga bisa tinggal lebih lama di Indonesia. “Agar hot money bertahan di dalam negeri perlu perubahan besar dalam strategi menarik investasi di Indonesia,” tukas dia.

Sebelumnya, Bank Dunia dalam laporan berjudul Global Economic Risks and Implications for Indonesia juga mengingatkan di tengah- tengah berlanjutnya perang dagang potensi capital outflow semakin besar, dan berpotensi meningkatkan suku bunga acuan serta menimbulkan depresiasi lebih dalam atas nilai tukar rupiah.

Ancaman dari capital outflow semakin perlu diperhatikan mengingat defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia per kuartal II-2019 mencapai 8,4 miliar dollar AS atau 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Bank Dunia memproyeksikan CAD Indonesia pada akhir 2019 mencapai 33 miliar dollar AS.

Sedangkan FDI menuju Indonesia rata-rata baru 22 miliar dollar AS setahun. Dikurangi dengan investasi Indonesia di luar negeri lima miliar dollar AS maka tinggal 17 miliar dollar AS. Dengan demikian, Indonesia membutuhkan capital inflow 16 miliar dollar AS untuk menutup defisit.

Kebutuhan capital inflow bisa lebih tinggi apabila capital outflow memang benar-benar terjadi. Semestinya, CAD didominasi oleh FDI yang lebih optimal mendorong perekonomian dibandingkan dengan investasi portofolio.

 

Kalah Bersaing

 

Ekonom Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, menyebutkan ada faktor pendorong berupa melambatnya ekonomi global yang membuat hot money mencari peluang di emerging markets. Faktor ini masih akan berlangsung lama jika melihat perang dagang belum jelas kapan berakhir.

Selain itu, ada faktor penarik dana panas tersebut, yaitu iklim investasi dan tingkat pengembalian (return). “Di faktor tarik ini kita kalah saing dengan negara tetangga, sehingga dana hanya bertahan di pasar keuangan. Mereka nggak mau ambil risiko untuk FDI karena iklim bisnis kita memang belum membaik,” ungkap Gunadi.

Menurut dia, bahaya hot money adalah pembalikan arah tiba-tiba, dana langsung hengkang keluar Indonesia sehingga mengguncang rupiah, dan membahayakan ekonomi nasional yang bergantung impor, serta utang pemerintah maupun swasta dalam dollar yang besar.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko, mengemukakan aliran modal asing akan semakin deras masuk ke negara berkembang karena perlambatan pertumbuhan ekonomi global diperkirakan bakal berlanjut dan direspons dengan pelonggaran kebijakan moneter negara- negara maju.

“Dunia terlihat dengan kebijakan suku bunga yang probabilitas menurun. Negara-negara emerging market bisa kelimpahan modal asing,” ujar dia, Sabtu (28/9). 

 

ers/YK/SB/WP

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment