Mewaspadai Konsumsi Makanan Olahan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments
Alzheimer

Mewaspadai Konsumsi Makanan Olahan

Mewaspadai Konsumsi Makanan Olahan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Konsumsi berlebihan makanan dengan jumlah kandungan lemak trans tinggi, antara lain gorengan dan makanan olahan bisa menempatkan Anda pada risiko terkena penyakit Alzheimer.

Para peneliti, seperti dilansir Medical Daily, menemukan konsumsi makanan dengan jumlah lemak trans yang tinggi berkontribusi mengembangkan gangguan otak.
Sebuah studi baru dalam jurnal Neurology, menunjukkan, kadar lemak trans yang lebih tinggi dalam darah dapat meningkatkan risiko Alzheimer sebesar 50-75 persen.


Temuan ini peneliti peroleh setelah mengikuti lebih dari 1.600 orang di Jepang selama 10 tahun untuk melihat dampak diet terhadap kesehatan mereka.
Semua peserta memulai penelitian tanpa tanda-tanda demensia. Para peneliti juga mengambil sampel darah sebelum penelitian untuk memeriksa kadar lemak trans dalam tubuh partisipan.


“Penelitian ini menggunakan kadar lemak trans dalam darah, daripada kuesioner diet yang lebih tradisional, yang meningkatkan validitas ilmiah dari hasilnya,” kata Richard Isaacson, Direktur Klinik Pencegahan Alzheimer di Weill Cornell Medicine, New York.


Para peneliti menemukan, orang-orang yang mengonsumsi lebih banyak kue-kue manis memiliki kadar lemak trans tertinggi dalam darah mereka. Tetapi daftar kontributor kuat juga termasuk margarin, permen, karamel, croissant, krim non-susu, es krim dan kerupuk nasi. Isaacson, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menambahkan, temuan terbaru ini mendukung bukti asupan lemak trans dapat meningkatkan risiko penyakit Alzheimer.


Lemak trans hadir dalam kadar rendah lewat makanan daging dan susu. Namun, makanan olahan mengandung kadar lemak trans lebih tinggi. Sementara itu, dalam studi lain menemukan bahwa penyakit Alzheimer bisa disebabkan oleh infeksi gusi. Studi yang diterbitkan pekan lalu di jurnal peer-review Science Advances, AS, menunjukkan bakteri Porphyromonas gingivalis yang menghancurkan jaringan gusi di mulut terkait dengan demensia dan Alzheimer.


Peneliti mengamati bakteri di otak orang dengan penyakit Alzheimer. Mereka juga melakukan tes pada tikus yang menunjukkan infeksi gusi menyebabkan peningkatan produksi amiloid beta, bagian dari plak amiloid yang terkait dengan penyakit Alzheimer. Cortexyme, yang mendanai penelitian tersebut, merancang serangkaian terapi untuk mengobati infeksi gusi yang berencana untuk menjalani uji klinis Fase 2 dan 3.


Meski sebelumnya ada penelitian yang menghubungkan penyakit periodontal dan Alzheimer, para peneliti yang tidak berafiliasi dengan makalah ini mengatakan tidak ada cukup bukti yang menghubungkan keduanya. Sementara ada penelitian sebelumnya yang menghubungkan penyakit periodontal dan Alzheimer, para peneliti yang tidak berafiliasi dengan makalah mengatakan tidak ada cukup bukti yang menghubungkan keduanya.


“Dalam penelitian kami telah mendukung untuk mengungkap faktor risiko utama untuk penyakit Alzheimer, penyakit gusi belum muncul sebagai penyebab utama kekhawatiran,” ujar James Pickett, Kepala Penelitian di Alzheimer’s Society. Hingga saat ini penyakit Alzheimer belum ada obatnya. Penyakit yang dimulai dengan kehilangan memori ini mempengaruhi sebanyak lima juta orang di AS, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit. pur/R-1

Suka Mengantuk di Siang Hari

Sebuah studi terbaru menunjukkan rasa kantuk yang melanda saat siang hari bisa menjadi pertanda munculnya gejala penyakit Alzheimer. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Sleep itu menyatakan mengantuk selama siang hari dapat menyebabkan akumulasi plak di otak. Untuk sampai pada temuan ini, peneliti mengamati, kebiasaan tidur siang 124 pria dan wanita yang berusia rata-rata 60 tahun. 15 tahun kemudian, mereka melakukan PET dan MRI scan untuk mengetahui keberadaan beta-amyloid, protein yang mengelompok bersama untuk membentuk plak.


Hasilnya, partisipan yang mengeluh merasa mengantuk di siang hari berisiko lebih tinggi memiliki plak di otaknya, ketimbang mereka yang tidak mengeluhkan hal itu. Namun, mereka yang sering tidur siang berisiko. “Jika Anda tertidur pada waktu yang seharusnya Anda terjaga, ini adalah sesuatu yang perlu diselidiki. Bisa jadi, hanya tidur yang kurang atau kondisi atau obat yang mengarah ke sana,” kata profesor Adam P Spira dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health.


Hanya saja, studi ini tidak menjelaskan penyebab kondisi ini. Spira mengatakan, “Studi memberikan lebih banyak bukti soal hubungan antara tidur terganggu dan pengembangan patologi penyakit Alzheimer,” ujarnya. pur/R-1

Hantu Lansia

Penyakit ini paling ditakuti lansia. Salah satu potret klinisnya adalah pelupa. Tak mengherankan bila demensia Alzheimer dijuluki hantu bagi lansia.
“Demensia merupakan sindrom (kumpulan gejala) yang memiliki karakteristik berupa berkurang atau hilangnya pelbagai keterampilan kognitif yang diperlukan sebelumnya, seperti memori, bahasa, pemahaman, pertimbangan atau kemampuan pengambilan keputusan,” ungkap Dito Anurogo, pengajar dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.


Mayoritas (50-75 persen) dari semua kasus demensia adalah penyakit Alzheimer atau Alzheimer`s disease (AD). Insiden AD, lanjutnya, menunjukkan bahwa risiko seseorang menderita AD menjadi dua kali lipat setiap lima tahun setelah berusia 65 tahun. Di atas usia 85 tahun, insiden tahunan sekitar 10 persen.
Tanda dan gejala AD beragam. Pasangan hidup (suami atau istri), anggota keluarga lain, biasanya bukan penderita AD memerhatikan adanya perburukan memori atau gangguan daya ingat.


“Penderita AD memiliki kesulitan belajar dan memperoleh informasi baru serta mengatasi problematika yang kompleks, dan mengalami penurunan kualitas di dalam memberikan alasan atau argumen, mengemukakan pendapat, memutuskan sesuatu, serta kemampuan pengenalan ruang (spasial) dan orientasi, sering tersesat, dan menghilang dari rumah,” tambahnya.


Penderita AD juga mengalami perubahan perilaku, berupa perubahan mood (suasana hati) dan apatis dapat menyertai gangguan memori. Pada stadium selanjutnya, penderita AD dapat berkembang menjadi agitasi (pemarah, suka mengamuk) dan psikosis (jenis gangguan jiwa).
Presentasi atipikal termasuk perubahan perilaku dini dan berat, penemuan fokal pada saat diperiksa dokter, parkinsonisme, halusinasi, mudah jatuh atau keseimbangan terganggu, atau onset gejala lebih muda dari 65 tahun.


“Hingga saat ini belum ada uji laboratorium atau imaging (pencitraan) definitif untuk penegakan diagnosis AD. Diagnosis dibuat umumnya berdasarkan riwayat menderita penyakit, pemeriksaan fisik serta sistem persarafan (neurologis) secara menyeluruh (komprehensif), dan penggunaan kriteria diagnostik yang valid serta terpercaya (seperti kriteria DSM V atau NINDCS-ADRDA),” terangnya.


Sebelum memeriksa dan memberikan obat, dokter sebaiknya melakukan penilaian, bertanya, mengevaluasi beberapa hal. Pertama, daftar obat perlu selalu ditinjau untuk obat-obatan atau terapi di rumah yang berpotensi menyebabkan perubahan status mental, terutama obat-obatan golongan antikolinergik, benzodiazepin, barbiturat, dan neuroleptik.


Kedua, penderita Alzheimer perlu melakukan rangkaian tes untuk menemukan depresi, karena kadang-kadang depresi dapat menyerupai sebagai demensia, namun juga sering terjadi sebagai kondisi bersama (komorbiditas) dan harus diobati. Ketiga, pada pemeriksaan, perlu mencari tanda-tanda gangguan metabolik, keberadaan gangguan psikiatri, atau defisit neurologis fokal (gangguan persarafan). pur/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment