Nasib Bumi di Ambang Sekarat | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 19 2020
No Comments

Nasib Bumi di Ambang Sekarat

Nasib Bumi di Ambang Sekarat

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Bumi telah mengalami lima peristiwa kepunahan massal sebelum yang sedang kita alami sekarang. Semua kepunahan massal, kecuali yang menghabisi dinosaurus, melibatkan perubahan iklim akibat gas rumah kaca. Yang paling parah adalah 252 juta tahun lalu. Saat itu, karbon dioksida menaikkan suhu planet ini sampai lima derajat Celsius.

Keadaan semakin parah berakhir setelah hampir semua bentuk kehidupan di bumi mati. Buku ini menjelaskan bahwa manusia sekarang menambah karbon ke atmosfer dengan laju lebih tinggi. Sebagian besar perkiraan menyebutkan minimal sepuluh kali lebih cepat. “Kini sudah ada sepertiga lebih banyak karbon di atmosfer dibandingkan kapan pun dalam lima belas juta tahun terakhir.

Separuh lebih karbon yang lepas ke atmosfer karena pembakaran bahan bakar fosil yang baru dilepas dalam tiga dasawarsa belakangan,” (hlm 4). Roger Revelle, pada tahun 1970-an, meneliti bahwa kalau tidak ada perubahan penggunaan bahan bakar fosil, pemanasan global akan mengubah bagian-bagian planet ini menjadi tak bisa didiami manusia pada akhir abad ini.

Bagian-bagian Afrika, Australia, Amerika Serikat, Amerika Selatan, dan Asia Selatan bakal jadi tak bisa didiami karena panas, penggurunan, dan banjir. Tanggung jawab untuk mencegah bencana itu ada di generasi sekarang. Protokol Kyoto pada tahun 1997 menyatakan kenaikan suhu global dua derajat Celsius dianggap ambang batas bencana banjir, kekeringan parah, dan gelombang panas planet yang saban hari dihajar hujan badai.

Sayangnya, Protokol Kyoto sama sekali tak mencapai apa-apa dalam dua puluh tahun sesudahnya (hlm 10). Buku ini menegaskan keterlambatan masyarakat dunia memahami kecepatan perubahan karena iklim bersifat global dan tidak terkait kelompok sehingga tak menarik bagi minat banyak orang, bisa juga karena mereka belum mengerti betapa besar ancaman kenaikan suhu bagi hidup atau karena mereka egois sehingga tak peduli kalau mereka merusak planet ini.

Sementara dampaknya dirasakan orang yang tinggal di tempat lain atau oleh generasi mendatang. Berdasarkan riset, titik kritis kehancuran bumi dimulai dari dua derajat kenaikan suhu global. Bila terjadi penghentian emisi karbon dengan cepat pun, kenaikan subuh sebesar itu masih akan terjadi menjelang akhir abad ini.

Buku memberikan gambaran bahwa dengan kenaikan dua derajat, lapisan es akan mulai hancur, empat puluh juta orang akan kekurangan air, kota-kota besar di sekitar khatulistiwa akan menjadi tak layak huni. Di daerah utara pun gelombang panas akan menewaskan ribuan orang tiap musim panas.

Bakal ada tiga puluh kali lebih banyak gelombang panas ekstrem di India dan masing-masing berlangsung lima kali lebih lama, menerpa sembilan puluh tiga kali lebih banyak orang. Dengan tiga derajat kenaikan, Eropa Selatan bakal mengalami kekeringan permanen. Kekeringan rata-rata di Amerika Tengah bakal berlangsung Sembilan belas bulan lebih lama.

Daerah yang kena kebakaran hutan meluas dua kali lipat di kawasan Laut Tengah dan enam kali lipat atau lebih di Amerika Serikat. Konflik dan perang berlipat ganda. Kerugian dapat melebihi 600 triliun dolar AS atau di atas dua kali lipat seluruh kekayaan yang ada dunia sekarang (hlm 128).

Faktanya, hingga sekarang emisi global masih meningkat. Manusia jauh sekali dari berhenti melahirkan karbon dan oleh karena itu jauh sekali dari usaha menghentikan perubahan iklim.

Buku menegaskan pemanasan global bukan diakibatkan satu pelaku, melainkan persengkongkolan. Kita semua hidup dalam iklim dan dalam segala perubahan yang kita telah buat terhadapnya.

Diresensi Ahmad Hasinul Ansor, Alumnus Universitas Islam Jember

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment