Pahlawan 4.0 | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments

Pahlawan 4.0

Pahlawan 4.0

Foto : Koran Jakarta/Ones
A   A   A   Pengaturan Font

oleh dwi ekasari harmadji, s.e.ak., m.m.

Hari Pahlawan 10 November diperingati hanya berselang beberapa hari sejak peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober. Bangsa kembali diingatkan keterlibatan generasi muda dalam perjuangan meraih kemerdekaan. Semangat patriotisme dan nasionalisme itu seharusnya terus membara di dalam diri generasi muda di era 4.0. Apalagi Indonesia tengah dilanda berbagai problematika di berbagai sektor yang menghambat kemajuan nasional.

Peran generasi muda sangat dibutuhkan. Ucapan Proklamator, Soekarno, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” harus tetap diaktualisasikan. Realita saat ini berbeda. Kemajuan teknologi yang seharusnya mentransformasi generasi muda untuk menjadi lebih produktif justru belum dimanfaatkan dengan baik. Banyak perubahan negatif dalam diri generasi muda akibat pemanfaatan teknologi yang tidak tepat, di antaranya kasus bullying masih marak.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima sekitar 26.000 kasus bullying selama 2011–2017. Ironisnya, aduan paling banyak dari sektor pendidikan. Dengan kata lain, korban dan pelaku adalah generasi muda. Para korban menjadi antisosial, mengalami gangguan mental, stres, dan depresi berkepanjangan.

Generasi muda makin candu pornografi. Meskipun pemerintah mengeklaim sudah memblokir ribuan situs porno, tak bisa dimungkiri aksesibilitas berkonten porno masih banyak di website, media sosial, maupun aplikasi obrolan. Ironisnya, belakangan anak-anak dan remaja terlibat sebagai aktor maupun penyebar konten asusila tersebut.

Generasi muda rentan menyebarkan hoaks. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat sekitar 800.000 konten hoaks tersebar lewat website, blog, media sosial, dan aplikasi kirim pesan. Dalam berbagai aksi demonstrasi atau unjuk rasa, sering kali berakhir dengan kekerasan, hingga merenggut korban jiwa akibat pendemo terpapar informasi hoaks dari media berita abal-abal dan media sosial. Penyebarnya pun dilakukan usia muda yang memang fasih menggunakan perangkat elektronik.

Radikalisme merajalela di lingkungan sosial generasi muda. Teknologi informasi yang berkembang banyak diisi konten radikalisme dan banyak dikonsumsi generasi muda. Mereka tidak check and recheck. Kominfo telah berusaha memberantas virus radikalisme dengan memblokir 11.803 konten radikalisme di media sosial. Sayang, upaya ini tak dibarengi ketelitian generasi muda.

Mereka adiktif rokok, miras, dan narkoba. Dalam berbagai media, sering disuguhkan berita anak dan remaja candu rokok dan minuman keras. Baru-baru ini guru SMK Ichthus Manado, Alexander Pengkey (54), meregang nyawa ditikam siswanya, FL (16). FL ditegur saat merokok di lingkungan sekolah. Selain berpengaruh buruk bagi kesehatan, merokok juga bisa mengubah sifat seseorang.

Soal narkoba, pertengahan 2018 lalu, KPAI menyebutkan ada 5,9 juta anak pengguna. Masih banyak lagi perilaku negatif generasi muda. Tiga anak di Semarang mengalami gangguan jiwa akibat kecanduan game online (19/10).

Kontradiktif

Berbagai problematika generasi muda tersebut sangat kontradiktif dengan cita-cita pemuda saat perebutan kemerdekaan. Bagaimanapun, bangsa ini membutuhkan pahlawan era 4.0 dari generasi muda untuk berkontribusi nyata bagi kemajuan negeri. Pahlawan 4.0 bukan lagi soal berperang fisik, melainkan mengedepankan ide, karakter, dan kepribadian kuat yang positif.

Menciptakan generasi muda sebagai pahlawan 4.0 tentu tidak mudah dan memerlukan berbagai langkah konkret. Pemerintah selaku pengemban amanah rakyat dan keluarga selaku tempat pertama dan utama pembentukan karakter anak, memiliki andil besar.

Pembatasan dan pemblokiran konten negatif untuk generasi muda mesti terus dijalankan serta lebih masif. Sebab pelaku pembuat dan penyebar hoaks terus produktif. Soal iklan rokok, pemerintah mestinya semakin mengingatkan dampak negatifnya. Di era 4.0 ini, televisi bukan lagi saluran informasi terbesar, tapi media online dan media sosial.

Meskipun iklan rokok ditayangkan saat jam tidur anak, mereka bisa mengakses melalui internet. Agar anak tidak semakin tertarik rokok, iklannya mesti dikurangi. Thomas Lickona (2016) dalam bukunya Educating for Character mengatakan, keluarga merupakan sumber pendidikan moral utama anak-anak. Didikan dan arahan orang tua di keluarga akan menentukan baik buruknya karakter anak. Untuk itu, orang tua mesti terlibat dalam mencegah maupun menanggulangi berbagai problematika anak sedini mungkin.

Orang tua perlu membatasi durasi aktivitas digital seperti gawai dan televisi sesuai usia. Rekomendasi American Academy of Pediatrics, bayi sampai usia 18 bulan sama sekali tak boleh berhubungan dengan layar gawai dan televisi. Satu-satunya pengecualian yang disarankan, ketika sesi video call dengan kerabat dekat seperti kakek-nenek tercinta. Anak usia 2-5, disarankan tidak menghabiskan lebih dari 1 jam menggunakan gawai, TV, maupun komputer.

Kemudian, anak usia di atas 6 (sduah sekolah) hanya diperbolehkan menggunakan perangkat elektronik dan internet maksimal 2 jam per hari. Orang tua pun tidak boleh membiarkan anak di usia ini mengakses dunia maya tanpa pendampingan. Karena bisa saja sejumlah konten pornografi, kekerasan, radikalisme muncul.

Anak dididik untuk menghargai setiap orang tanpa melihat warna kulit, bentuk tubuh, status sosial, suku, agama, tradisi dan latar belakang. Langkah ini bisa dimulai dari hidup bertetangga, sekolah, dan lingkungan. Maraknya perilaku cyber bullying oleh anak mengindikasikan perilaku yang sama di lingkungan nyata.

Untuk itu, anak-anak benar-benar harus dipahamkan dan dibimbing dengan baik. Kelalaian terbesar orang tua ketika menganggap anak sudah paham dengan beberapa kali penjelasan. Nyatanya, selama anak masih dalam proses pertumbuhan fisik, mental, dan karakter, maka orang tua harus terus mengawasi.

Sekali lagi, negeri ini butuh pahlawan 4.0 yang sehat fisik, cerdas, visioner, kreatif, inovatif, dan berkarakter baik guna memajukan bangsa. Mereka perlu diberi teladan yang motivasional. Cukup banyak anak muda berkontribusi besar bagi negeri. Mereka menginspirasi dan patut dianggap sebagai pahlawan 4.0.

Keberanian, pantang menyerah, bangkit ketika jatuh, dan kecintaan pada negeri membuat mereka sukses. Nilai-nilai itu yang mesti ditanamkan kepada generasi muda. Di tengah sengitnya persaingan antarindividu dan global di berbagai lini, generasi muda harus semakin produktif serta konstruktif. Harapannya, semakin banyak pahlawan 4.0 dari generasi muda berkontribusi nyata bagi bangsa. 

Penulis Seorang Dosen dan Mahasiswa S3 Unbraw

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment